Virus Hanta Bikin Panik Dunia, Ahli Bongkar Penyebab Kematian Cepat dalam Hitungan Hari
Sejumlah petugas medis berbaju hazmat membawa penumpang dari kapal pesiar MV Hondius yang diyakini terinfeksi hantavirus, setelah mendarat di Bandara Schiphol, Amsterdam, Belanda, 6 Mei 2026.(AFP)
JAKARTA, SabangMerauke News - Dunia mendadak gaduh setelah Hantavirus menewaskan tiga penumpang kapal pesiar MV Hondius. Virus tikus mematikan itu langsung memicu alarm kesehatan global setelah korban mengalami gangguan pernapasan brutal selama pelayaran lintas negara.
Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO akhirnya turun tangan memberi penjelasan agar kepanikan publik tidak berubah menjadi histeria massal. WHO memastikan wabah Hantavirus di MV Hondius bukan awal pandemi baru seperti Covid-19 enam tahun silam.
Risiko kesehatan masyarakat global masih tergolong rendah meski angka kematian virus ini terbilang mengerikan. Penularannya jauh lebih lambat dibandingkan dengan Covid-19 maupun influenza musiman. “Ini bukan Covid, ini bukan influenza, cara penyebarannya sangat berbeda,” ujar Maria van Kerkhove, epidemiolog WHO.
Kapal pesiar MV Hondius langsung berubah menjadi ruang isolasi terapung setelah tiga penumpang meninggal dunia. Dua korban diketahui pasangan peneliti burung yang sebelumnya melakukan perjalanan ke Argentina, Chile, dan Uruguay. Wilayah Amerika Selatan tersebut dikenal sebagai habitat virus Andes, strain paling berbahaya dalam keluarga hantavirus.
Pakar Infeksi Penyakit Tropik IDAI, Dominicus Husada, mengungkap dugaan kuat bahwa sumber infeksi berasal dari perjalanan sebelumnya. Virus Andes dikenal mampu menular antarmanusia melalui kontak erat berkepanjangan. Situasi itu berbeda dari mayoritas varian Hantavirus lain yang hanya menular lewat tikus. “Tidak ada tikus di kapal Hondius karena standar Eropa sangat ketat,” kata Dominicus Husada, anggota Unit Kerja Koordinasi Infeksi Penyakit Tropik IDAI.
Tragedi MV Hondius memancing respons cepat sejumlah negara setelah para penumpang turun dari kapal. Inggris, Amerika Serikat, hingga Singapura mulai melakukan pemantauan dan isolasi terbatas terhadap warganya. Ketakutan dunia terhadap bayang-bayang pandemi baru kembali muncul diam-diam.
Meski begitu, epidemiolog Griffith University Australia, Dicky Budiman, meminta masyarakat tetap tenang menghadapi situasi tersebut. Hantavirus dinilai belum memenuhi syarat menjadi pandemi global. Virus ini juga bukan patogen baru seperti SARS-CoV-2 saat pertama kali muncul. “Penularan Hantavirus berbeda jauh dengan Covid-19, tidak semudah Covid-19,” ujar Dicky Budiman, Sabtu, 9 Mei 2026.
Dicky menjelaskan bahwa pandemi membutuhkan tiga syarat utama sebelum meledak menjadi ancaman global besar. Pertama, virus harus benar-benar baru sehingga masyarakat belum memiliki imunitas. Kedua, belum tersedia vaksin maupun pengobatan efektif.
Syarat ketiga justru menjadi titik paling menentukan dalam kasus Hantavirus. Virus harus mampu menyebar cepat antarmanusia secara efektif dalam populasi luas. Hingga kini, hanya strain Andes yang memiliki kemampuan tersebut dan penyebarannya masih sangat terbatas. “Penularan antarmanusia Hantavirus relatif terbatas,” kata Dicky.
Hantavirus sebenarnya bukan virus baru dalam dunia kesehatan global. Virus ini pertama ditemukan tahun 1976 di Sungai Hantan, Korea Selatan, setelah menyerang tikus sawah. Nama Hantavirus kemudian diambil dari wilayah penemuan awal tersebut.
Dunia sempat diguncang wabah besar Hantavirus pada 1993 di Four Corners, Amerika Serikat. Saat itu, strain Sin Nombre Virus atau SNV menyebabkan kerusakan paru-paru mematikan. Tingkat fatalitas kasus bahkan mendekati angka 50 persen.
Virus ini bekerja seperti pembunuh diam-diam dalam tubuh manusia setelah infeksi terjadi. Awalnya pasien hanya mengalami demam ringan, nyeri otot, mual, dan kelelahan biasa. Dalam hitungan hari, paru-paru mendadak dipenuhi cairan hingga pasien kesulitan bernapas. “Yang mematikan bukan hanya virusnya, tetapi kerusakan paru sangat cepat,” ujar Dicky.
Kondisi medis tersebut dikenal sebagai Acute Respiratory Distress Syndrome atau ARDS. Situasi ini membuat kadar oksigen pasien turun drastis hingga tubuh mengalami syok berat. Banyak pasien akhirnya meninggal karena terlambat mendapat penanganan intensif.
Ketua Umum PP IDAI, Piprim Basarah Yanuarso, meminta masyarakat tidak tenggelam dalam ketakutan berlebihan. Penularan hantavirus berbeda total dibandingkan dengan COVID-19 yang mampu menyebar cepat melalui udara bebas. Kontak erat berkepanjangan menjadi jalur utama penularan strain Andes. “Penularan antarmanusia hanya terjadi melalui kontak erat berkepanjangan,” kata Piprim.
Indonesia sendiri sebenarnya sudah mendeteksi Hantavirus sejak tahun 2015 melalui pemantauan Kementerian Kesehatan. Hingga 2026, tercatat 23 kasus positif tersebar di sembilan provinsi Indonesia. Mayoritas kasus berasal dari varian Seoul Virus atau SEOV.
Kasus ditemukan di DKI Jakarta, DIY, Jawa Barat, Kalimantan Barat, Sulawesi Utara, Sumatera Barat, Banten, Jawa Timur, dan NTT. Varian Seoul berbeda dari Andes karena tidak menular antarmanusia. Penularannya murni berasal dari tikus dan lingkungan kotor. “Virus Andes belum pernah ditemukan di Indonesia,” ujar Dominicus.
Indonesia tetap masuk kategori rawan karena populasi tikus perkotaan sangat tinggi dan sanitasi belum merata. Kawasan pelabuhan, gudang makanan, pasar, hingga daerah banjir menjadi titik paling rentan penyebaran virus. Petugas kebersihan dan pekerja gudang termasuk kelompok berisiko tinggi.
Dicky mengingatkan masyarakat untuk menjaga kebersihan rumah dan lingkungan secara disiplin setiap hari. Makanan harus disimpan rapat agar tidak terkontaminasi kotoran maupun air kencing tikus. Gudang lembap dan ruangan tertutup wajib rutin dibersihkan dengan disinfektan. “Kalau ada demam disertai sesak napas, segera periksa ke dokter,” kata Dicky.
Hingga kini dunia medis belum memiliki vaksin khusus untuk Hantavirus. Penanganan pasien berat biasanya dilakukan di ruang ICU menggunakan alat bantu napas dan terapi intensif. Karena itu, pencegahan menjadi senjata paling murah sekaligus paling efektif.
Piprim juga meminta masyarakat tidak membersihkan kotoran tikus menggunakan sapu biasa. Partikel virus bisa beterbangan dan masuk melalui saluran pernapasan manusia. Disinfektan menjadi alat utama sebelum area dibersihkan secara menyeluruh. “Perilaku hidup bersih dan sehat tetap menjadi benteng utama,” ujar Piprim.
WHO juga terus memantau perkembangan kasus MV Hondius sambil berkoordinasi dengan berbagai negara terdampak. Investigasi sumber infeksi masih berlangsung hingga sekarang. Dunia memang belum berada di ambang pandemi baru, tetapi alarm kewaspadaan mulai menyala perlahan. R-02

