Gunung Dukono Meletus! Pendaki Tewas, Tim SAR Berpacu dengan Maut di Tengah Erupsi
Gunung Dukono. Foto: Dok SM News
MALUKU UTARA, SabangMerauke News - Tragedi memilukan terjadi di kawasan Gunung Dukono, Halmahera, Maluku Utara, setelah erupsi dahsyat menewaskan tiga pendaki. Di tengah kondisi gunung yang masih terus memuntahkan abu dan material vulkanik, tim penyelamat kini berpacu dengan waktu untuk melanjutkan pencarian korban sekaligus memastikan keselamatan tim di lapangan.
Letusan terjadi pada Jumat pagi, 8 Mei 2026, saat sejumlah pendaki berada di sekitar kawasan gunung. Tanpa peringatan yang cukup, kolom abu pekat membumbung tinggi ke udara, disertai lontaran material berbahaya yang menyelimuti jalur pendakian. Situasi berubah drastis dalam hitungan menit—dari aktivitas pendakian biasa menjadi bencana mematikan.
Data sementara menunjukkan tiga orang meninggal dunia akibat erupsi tersebut. Selain itu, sejumlah pendaki lainnya mengalami luka-luka dan telah berhasil dievakuasi. Namun, proses penyelamatan tidak berjalan mulus. Aktivitas vulkanik yang masih tinggi membuat tim SAR harus bekerja dalam kondisi ekstrem.
Erupsi susulan menjadi tantangan terbesar. Aktivitas gunung yang belum stabil menyebabkan evakuasi sempat terhenti. Tim penyelamat terpaksa menunda pencarian demi menghindari risiko jatuhnya korban tambahan. Bahkan, pada Sabtu pagi, beberapa kali letusan kembali terjadi, memperburuk kondisi di lapangan dan memperlambat operasi pencarian.
Meski demikian, upaya pencarian terus dilanjutkan. Tim gabungan yang terdiri dari Basarnas, TNI, Polri, serta relawan dikerahkan untuk menyisir area sekitar kawah yang menjadi titik paling terdampak. Mereka menggunakan berbagai peralatan, termasuk drone pemantau, untuk mendeteksi keberadaan korban di tengah medan berbahaya.
Pencarian difokuskan pada area radius ratusan meter dari pusat erupsi. Namun, medan yang tertutup abu tebal dan kondisi udara yang tidak stabil membuat visibilitas sangat terbatas. Selain itu, potensi erupsi susulan setiap saat menjadi ancaman nyata bagi tim di lapangan.
Tragedi ini juga memunculkan sorotan terhadap kepatuhan terhadap larangan aktivitas di gunung aktif. Sebelumnya, otoritas setempat telah mengeluarkan peringatan dan pembatasan aktivitas di sekitar Gunung Dukono karena peningkatan aktivitas vulkanik. Namun, diduga masih ada pendaki yang nekat memasuki kawasan berbahaya tersebut.
Fenomena ini bukan hal baru. Gunung Dukono dikenal sebagai salah satu gunung api paling aktif di Indonesia, dengan aktivitas erupsi yang relatif sering. Letusan kali ini bahkan memuntahkan abu hingga ketinggian sekitar 10 kilometer ke atmosfer, menunjukkan besarnya energi yang dilepaskan.
Dalam situasi seperti ini, keselamatan menjadi prioritas utama. Tim SAR tidak hanya berupaya menemukan korban, tetapi juga memastikan setiap langkah dilakukan dengan perhitungan matang. Keputusan untuk menghentikan sementara pencarian bukan tanpa alasan, melainkan demi menghindari risiko yang lebih besar.
Sementara itu, keluarga korban dan masyarakat luas menanti kabar dengan penuh harap. Proses identifikasi korban yang telah ditemukan juga terus dilakukan oleh pihak berwenang. Duka mendalam menyelimuti peristiwa ini, terlebih karena para korban diketahui tengah melakukan aktivitas pendakian yang seharusnya menjadi pengalaman menyenangkan.
Pemerintah daerah bersama instansi terkait kini juga tengah mengevaluasi sistem pengawasan di kawasan gunung api. Ke depan, diharapkan tidak ada lagi aktivitas ilegal atau nekat yang membahayakan nyawa, terutama di tengah status gunung yang tidak stabil.
Tragedi ini menjadi pengingat keras bahwa alam tidak bisa ditaklukkan. Keindahan gunung selalu datang dengan risiko yang harus dihormati. Ketika peringatan dikeluarkan, itu bukan sekadar formalitas, melainkan upaya menyelamatkan nyawa.
Hingga kini, operasi pencarian masih terus berlangsung dengan mempertimbangkan kondisi terkini di lapangan. Tim penyelamat berharap cuaca dan aktivitas gunung segera membaik agar proses evakuasi bisa berjalan lebih optimal.
Di balik kepulan abu dan ancaman letusan, harapan tetap ada. Harapan agar seluruh korban dapat ditemukan, dan tragedi serupa tidak terulang di masa depan. (R-03)

