Takut Seperti Khamenei, Kim Jong Un Perintahkan Nuklir Terbang Sendiri Jika Ia Tewas!
Pemimpin tertinggi Korea Utara, Kim Jong Un, meninjau pabrik rudal pemusnah masal. (KCNA/KNS via AFP)
JAKARTA, SabangMerauke News - Korea Utara mendadak menggetarkan dunia setelah Kim Jong Un mengaktifkan skenario perang nuklir otomatis, Jumat, 8 Mei 2026. Rezim Pyongyang resmi mengubah konstitusi negara demi memastikan rudal nuklir tetap meluncur meski Kim Jong Un terbunuh saat perang meledak.
Badan Intelijen Nasional Korea Selatan atau NIS membocorkan perubahan konstitusi tersebut dalam laporan terbaru mereka. Revisi aturan diadopsi saat sidang pertama Majelis Rakyat Tertinggi ke-15 berlangsung di Pyongyang pada 22 Maret 2026. Isi aturan baru tersebut langsung menempatkan dunia dalam bayang-bayang ancaman nuklir otomatis tanpa menunggu komando pemimpin tertinggi.
Pasal revisi itu mengatur peluncuran serangan nuklir balasan secara langsung jika sistem komando negara lumpuh akibat serangan musuh. Mekanisme otomatis tersebut dirancang untuk memastikan Korea Utara tetap mampu menghancurkan lawan walau Kim Jong Un tewas lebih dulu. Situasi ini dianggap sebagai perubahan strategi militer paling agresif Pyongyang dalam beberapa tahun terakhir.
Para analis internasional mulai membaca arah ketakutan baru rezim Korea Utara setelah konflik Iran memanas beberapa waktu lalu. Serangan presisi Amerika Serikat dan Israel terhadap tokoh penting Iran dianggap menjadi alarm besar bagi Pyongyang. Nama Ayatollah Ali Khamenei bahkan disebut dalam sejumlah analisis keamanan regional terbaru.
Profesor Andrei Lankov dari Universitas Kookmin Seoul menilai Korea Utara sedang membaca ancaman secara sangat serius. Pyongyang diyakini mempelajari detail serangan terhadap Iran secara mendalam selama beberapa bulan terakhir. Fokus utama mereka tertuju pada kemampuan lawan menghancurkan pemimpin negara dalam waktu sangat singkat.
“Pyongyang pasti mempelajari serangan terhadap Teheran secara sangat serius,” ujar Profesor Andrei Lankov, Sabtu, 9 Mei 2026. Menurutnya, Korea Utara mulai cemas terhadap ketepatan teknologi militer modern yang mampu melumpuhkan elit pemerintahan secara cepat. Revisi konstitusi tersebut akhirnya dipilih demi menjaga efek gentar terhadap musuh.
Kim Jong Un memang dikenal obsesif terhadap keamanan pribadinya selama bertahun-tahun terakhir di Korea Utara. Pemimpin muda tersebut selalu dikelilingi pasukan pengawal elit dalam setiap perjalanan resmi maupun kegiatan tertutup negara. Bahkan Kim Jong Un hampir tidak pernah menggunakan pesawat komersial demi menghindari risiko ancaman udara.
Kereta pribadi lapis baja menjadi kendaraan favorit Kim Jong Un ketika melakukan perjalanan antarwilayah ataupun kunjungan luar negeri. Sistem keamanan kereta tersebut dilengkapi dengan persenjataan berat serta perlindungan teknologi canggih untuk menghalau kemungkinan sabotase. Langkah tersebut memperlihatkan tingkat paranoia tinggi dalam lingkaran kekuasaan Pyongyang.
Analis keamanan global menilai Korea Utara jauh lebih sulit ditembus dibandingkan dengan Iran dalam urusan operasi intelijen rahasia. Negara tertutup tersebut memiliki pengawasan internal yang sangat ketat terhadap warga maupun tamu asing yang masuk wilayahnya. Infrastruktur internet domestik juga sepenuhnya dikontrol rezim tanpa celah akses bebas seperti di negara lain.
“Pengumpulan intelijen seperti di Iran jauh lebih sulit dilakukan di Korea Utara,” tulis laporan analis keamanan Seoul, Jumat, 8 Mei 2026. Pengawasan ketat terhadap diplomat asing serta minimnya akses informasi membuat operasi infiltrasi menjadi sangat sulit dilakukan. Faktor itu membuat Kim Jong Un masih cukup percaya diri menjaga stabilitas kekuasaan.
Meski begitu, revisi konstitusi nuklir tetap dianggap sinyal ketakutan serius dari rezim Korea Utara terhadap ancaman pembunuhan pemimpin. Pyongyang tampaknya tidak ingin mengalami situasi serupa dengan Iran saat struktur elit negara mendadak lumpuh akibat serangan presisi. Karena itulah mekanisme balasan otomatis dipilih sebagai senjata psikologis baru.
Lembaga RAND Corporation sebelumnya memperkirakan Korea Utara dapat memiliki lebih dari 200 senjata nuklir pada tahun 2027. Selain itu, ratusan rudal balistik diprediksi siap ditempatkan di berbagai titik strategis militer Korea Utara. Angka tersebut membuat ancaman serangan otomatis Pyongyang semakin mengkhawatirkan bagi dunia internasional.
Ketegangan global kini kembali memanas setelah Korea Utara memperlihatkan perubahan strategi nuklir secara terang-terangan kepada publik internasional. Ancaman balasan otomatis membuat kemungkinan salah hitung militer menjadi semakin berbahaya pada masa mendatang. Dunia kini menunggu langkah berikutnya dari Washington, Seoul, hingga sekutu Barat menghadapi manuver Kim Jong Un. R-02

