Dolar AS Ngamuk Lagi, Mata Uang Garuda Terkapar Dihantam Harga Minyak Dunia!
Ilustrasi kurs Dolar AS terhadap Rupiah Indonesia. (ist)
JAKARTA, SabangMerauke News - Nilai tukar rupiah kembali limbung pada perdagangan Jumat pagi, 8 Mei 2026, setelah dolar Amerika Serikat mengamuk di pasar global. Konflik Timur Tengah kembali membara dan langsung menghantam mata uang negara berkembang sejak pembukaan perdagangan Asia. Rupiah pun nyaris menyentuh level psikologis Rp17.400 per dolar AS pagi tadi.
Pada pukul 09.15 WIB, rupiah spot bergerak melemah menuju posisi Rp17.369 per dolar Amerika Serikat. Angka tersebut menunjukkan pelemahan sekitar 0,21 persen dibandingkan dengan penutupan perdagangan sehari sebelumnya di level Rp17.333. Tekanan terhadap rupiah berlangsung sangat cepat sejak awal pembukaan pasar domestik Jumat pagi.
Rupiah sebenarnya sempat membuka perdagangan dengan pelemahan tipis menuju level Rp17.340 per dolar AS pagi tadi. Namun, tekanan jual terus meningkat setelah dolar AS kembali diburu investor global sebagai aset aman. Dalam waktu singkat, kurs rupiah kembali tergelincir menuju kisaran Rp17.363 hingga Rp17.369.
Tekanan terhadap rupiah tidak datang sendirian sepanjang perdagangan Asia Jumat pagi, 8 Mei 2026. Won Korea Selatan mencatat pelemahan terdalam mencapai 0,56 persen terhadap dolar Amerika Serikat pagi tadi. Ringgit Malaysia melemah 0,17 persen, sementara peso Filipina turun 0,11 persen sepanjang sesi awal perdagangan.
Yuan China juga ikut tertekan sekitar 0,04 persen terhadap mata uang Amerika Serikat sejak pagi tadi. Yen Jepang bahkan kehilangan tenaga setelah melemah tipis sekitar 0,006 persen pada perdagangan kawasan Asia. Tekanan kolektif tersebut memperlihatkan kepanikan investor terhadap situasi geopolitik global terbaru.
Sebaliknya, beberapa mata uang Asia masih mampu bertahan meski penguatannya terlihat sangat terbatas pagi tadi. Baht Thailand menguat sekitar 0,04 persen, diikuti dolar Hong Kong dengan kenaikan serupa terhadap dolar AS. Dolar Singapura dan dolar Taiwan juga bergerak hijau tipis sepanjang perdagangan awal di kawasan Asia.
Penyebab utama kegaduhan pasar keuangan global datang dari memanasnya kembali konflik Amerika Serikat dan Iran. Ketegangan terbaru pecah di wilayah Selat Hormuz setelah kedua negara kembali terlibat bentrokan terbuka pekan ini. Situasi tersebut langsung mengguncang pasar energi dan membuat dolar AS kembali menjadi buruan investor dunia.
Harga minyak mentah dunia langsung melonjak tajam setelah kabar bentrokan baru di Timur Tengah menyebar luas. Kontrak minyak Brent sempat melesat hingga level 120,34 dolar AS per barel pada perdagangan Asia pagi tadi. Meski turun tipis, harga minyak masih bertahan tinggi di kisaran 114 dolar AS per barel.
Lonjakan harga minyak membuat tekanan inflasi global kembali menghantui pasar keuangan internasional sepanjang pekan ini. Investor mulai khawatir biaya energi melonjak dan mengganggu stabilitas ekonomi sejumlah negara berkembang. Rupiah menjadi salah satu mata uang paling rentan menghadapi gejolak harga energi dunia tersebut.
Indeks dolar Amerika Serikat atau DXY juga kembali menanjak sejak Kamis malam waktu New York. Pada Jumat pagi, indeks dolar bergerak menuju level 98,22 setelah sehari sebelumnya berada di posisi 98,06. Penguatan indeks dolar mencerminkan meningkatnya permintaan global terhadap mata uang Amerika Serikat.
Kepala Strategi Pasar Bannockburn Forex, Marc Chandler, menilai kondisi pasar global masih dipenuhi ketegangan tinggi pekan ini. Investor disebut mulai menahan risiko sambil menunggu arah konflik Timur Tengah dan kebijakan suku bunga Amerika Serikat. Situasi tersebut membuat dolar AS semakin dominan di pasar internasional.
“Saya pikir pasar masih sangat tegang saat ini,” ujar Marc Chandler. Ia melihat investor global bergerak defensif setelah harapan perdamaian Amerika Serikat dan Iran kembali memudar. Sentimen tersebut membuat mata uang Asia sulit menemukan ruang penguatan.
Tekanan terhadap rupiah juga diperparah oleh kondisi cadangan devisa Indonesia yang terus menyusut sepanjang kuartal pertama 2026. Bank Indonesia tercatat menguras sekitar 8,4 miliar dolar AS demi menjaga stabilitas nilai tukar rupiah domestik. Langkah intervensi tersebut dilakukan saat rupiah melemah sekitar 1,79 persen sepanjang kuartal pertama tahun ini.
Cadangan devisa Indonesia bahkan turun cukup dalam pada Maret 2026 lalu menuju level 148,2 miliar dolar AS. Angka tersebut menyusut sekitar 3,7 miliar dolar AS dibandingkan dengan posisi bulan sebelumnya di tengah tekanan global. Kondisi tersebut membuat pelaku pasar semakin sensitif terhadap pergerakan rupiah beberapa hari terakhir.
Pelaku pasar kini menunggu pengumuman terbaru posisi cadangan devisa Indonesia yang dijadwalkan rilis pada hari ini, Jumat. Data tersebut dianggap sangat penting untuk membaca kekuatan Bank Indonesia dalam menjaga stabilitas rupiah jangka pendek. Investor juga mengawasi kemungkinan intervensi lanjutan bank sentral jika tekanan dolar terus meningkat.
Penguatan dolar AS sebenarnya sempat tertahan beberapa hari lalu setelah muncul harapan perdamaian antara Amerika Serikat dan Iran. Mediator internasional disebut mencoba membuka jalur negosiasi baru untuk menghentikan konflik kedua negara tersebut. Namun, bentrokan terbaru di Selat Hormuz langsung memupus optimisme pasar global.
Kenaikan harga minyak membuat negara-negara importir energi seperti Indonesia menghadapi tekanan ekonomi yang semakin besar saat ini. Biaya impor energi berpotensi meningkat dan memperlebar tekanan terhadap neraca perdagangan nasional sepanjang semester kedua tahun ini. Situasi tersebut membuat rupiah semakin sensitif terhadap setiap perkembangan geopolitik internasional.
Pasar juga mulai memperhatikan arah kebijakan suku bunga bank sentral Amerika Serikat atau Federal Reserve beberapa bulan mendatang. Lonjakan harga minyak global berpotensi mendorong inflasi Amerika Serikat kembali naik setelah sempat melandai sebelumnya. Jika inflasi naik, peluang pemangkasan suku bunga The Fed bisa kembali tertunda tahun ini.
Investor domestik mulai bergerak hati-hati sambil memantau arah rupiah dan harga minyak dunia sepanjang perdagangan Jumat. Permintaan dolar AS meningkat tajam pada sejumlah bank dan pasar valuta asing sejak pagi tadi. Situasi tersebut membuat tekanan terhadap rupiah terasa semakin berat menjelang akhir pekan perdagangan.
Ketegangan Timur Tengah kini berubah menjadi bayangan gelap baru bagi pasar keuangan Indonesia sepanjang Mei 2026 ini. Rupiah, pasar obligasi, hingga bursa saham domestik bergerak penuh tekanan sejak konflik Amerika Serikat dan Iran kembali meledak. Investor kini menunggu langkah Bank Indonesia untuk menjaga stabilitas sebelum tekanan global berubah semakin brutal. R-02

