Bukan Nakal atau Membangkang, Dokter Ungkap Penyebab Anak Sulit Diberi Tahu
Ilustrasi. Foto: Dok SM News
JAKARTA, SabangMerauke News - Banyak orang tua langsung memberi cap “bandel” pada anak yang sulit diberi tahu, mudah marah, tidak fokus, atau tampak tidak mau mendengarkan. Namun di balik perilaku tersebut, ternyata ada proses biologis dalam tubuh anak yang bisa memengaruhi cara mereka berpikir, menerima informasi, hingga mengendalikan emosi.
Ahli Gizi Klinis dr. Rita Ramayulis, DCN, M.Kes mengungkapkan bahwa perilaku anak tidak selalu berkaitan dengan pola asuh atau sikap semata. Dalam beberapa kasus, kondisi kesehatan tubuh terutama sistem pencernaan justru menjadi faktor penting yang memengaruhi perilaku anak sehari-hari.
Fenomena ini berkaitan dengan istilah medis yang dikenal sebagai gut-brain axis atau hubungan dua arah antara usus dan otak. Sistem tersebut membuat kondisi saluran cerna memiliki pengaruh besar terhadap fungsi otak, termasuk kemampuan fokus, suasana hati, emosi, hingga proses belajar anak.
Menurut Rita, saluran pencernaan bukan hanya berfungsi untuk mencerna makanan. Organ ini juga memiliki peran penting dalam mengatur respons tubuh terhadap berbagai rangsangan.
“Pencernaan itu punya peran besar dalam mengatur respons tubuh, termasuk bagaimana seseorang memproses informasi dan emosi,” jelas Rita.
Kondisi tersebut membuat anak yang mengalami gangguan pencernaan bisa terlihat mudah lelah, emosinya tidak stabil, sulit berkonsentrasi, bahkan tampak tidak responsif ketika diberi arahan oleh orang tua maupun guru.
Akibatnya, anak sering dicap tidak patuh atau sengaja melawan. Padahal, menurut Rita, tubuh anak sebenarnya sedang tidak dalam kondisi optimal untuk menerima dan mengolah informasi.
Fenomena ini juga menjelaskan mengapa sebagian anak terlihat lebih sensitif, gampang rewel, atau sulit mengendalikan emosi ketika pola makan dan kesehatan pencernaannya terganggu.
Salah satu faktor penting dalam hubungan usus dan otak adalah mikrobiota usus, yakni kumpulan bakteri baik yang hidup di saluran pencernaan manusia. Mikrobiota ini berperan besar dalam produksi berbagai zat kimia tubuh yang berhubungan dengan suasana hati.
Rita menjelaskan bahwa sekitar 70 hingga 80 persen serotonin dalam tubuh ternyata diproduksi di usus, bukan di otak. Serotonin sendiri dikenal sebagai hormon yang membantu mengatur emosi, rasa nyaman, dan kebahagiaan seseorang.
Karena itu, ketika keseimbangan mikrobiota usus terganggu, kondisi tersebut dapat berdampak langsung pada perilaku anak. Anak bisa menjadi lebih mudah marah, sulit fokus, rewel, hingga mengalami gangguan suasana hati.
Tidak hanya memengaruhi emosi, hubungan antara usus dan otak juga berdampak pada sistem imun serta kemampuan kognitif anak. Saat kesehatan saluran cerna terganggu, sinyal yang dikirim ke otak menjadi tidak maksimal sehingga fungsi otak ikut menurun.
“Kalau ususnya tidak sehat, komunikasi ke otak juga tidak maksimal. Ini bisa berdampak pada cara anak belajar dan merespons perintah,” kata Rita.
Kondisi inilah yang membuat anak terkadang tampak lambat memahami instruksi, mudah kehilangan fokus saat belajar, atau terlihat acuh terhadap arahan dari orang tua.
Para ahli menilai orang tua perlu lebih peka terhadap kondisi kesehatan anak secara menyeluruh, bukan hanya fokus pada perilaku yang tampak di permukaan. Pola makan, kualitas tidur, kesehatan pencernaan, hingga asupan nutrisi harus menjadi perhatian penting dalam mendukung tumbuh kembang anak.
Pendekatan yang terlalu keras terhadap anak tanpa memahami kondisi tubuhnya justru dikhawatirkan dapat memperburuk situasi. Anak bisa merasa tertekan secara emosional dan semakin sulit mengendalikan perilakunya.
Karena itu, pendekatan holistik dinilai lebih efektif dalam menghadapi anak yang sulit diberi tahu. Orang tua tidak hanya diminta mengatur perilaku anak, tetapi juga memastikan kondisi tubuh dan kesehatan pencernaannya berada dalam keadaan baik.
Selain menjaga pola makan sehat, orang tua juga dianjurkan memperhatikan konsumsi makanan bergizi seimbang yang dapat mendukung kesehatan mikrobiota usus anak. Asupan serat, buah, sayur, serta makanan bernutrisi dinilai membantu menjaga keseimbangan bakteri baik dalam saluran cerna.
Kualitas tidur anak juga berperan penting dalam menjaga kestabilan emosi dan fungsi otak. Anak yang kurang tidur cenderung lebih sensitif, mudah marah, dan sulit berkonsentrasi.
Di tengah meningkatnya kesadaran soal kesehatan mental anak, pemahaman mengenai hubungan usus dan otak menjadi hal penting yang perlu diketahui orang tua. Perilaku anak yang terlihat “nakal” ternyata tidak selalu berasal dari sikap membangkang, tetapi bisa menjadi sinyal bahwa tubuh mereka sedang mengalami gangguan tertentu.
Karena itu, orang tua diimbau tidak terburu-buru memberi label negatif kepada anak. Memahami kondisi kesehatan fisik dan emosional anak secara menyeluruh dinilai menjadi langkah penting untuk membantu mereka tumbuh dan berkembang secara optimal. (R-05)

