Geger Data SUPAS 2025! Kepulauan Meranti dan Inhil Kehilangan Banyak Penduduk
Kepala Badan Pusat Statistik Riau, Asep Riyadi (ist)
RIAU, SabangMerauke News - Peta perpindahan penduduk Riau berubah drastis sepanjang 2025 setelah Kampar dan Siak mendadak menjadi magnet baru bagi masyarakat. Data terbaru Badan Pusat Statistik Riau memperlihatkan Pekanbaru tidak lagi menjadi pusat tujuan utama seperti beberapa tahun sebelumnya. Fenomena ini membuka wajah baru persaingan ekonomi antardaerah di Provinsi Riau yang bergerak sangat cepat sekarang.
Kepala Badan Pusat Statistik Riau, Asep Riyadi, memaparkan hasil Survei Penduduk AntarSensus atau SUPAS 2025 pada Rabu, 6 Mei 2026. Data tersebut memperlihatkan seluruh kabupaten dan kota di Riau kini memiliki karakter berbeda terkait arus migrasi masyarakat setiap tahunnya. Ada daerah yang berubah menjadi magnet pendatang, sementara wilayah lain perlahan kehilangan banyak penduduk usia produktif.
“Migrasi seumur hidup melihat perbedaan tempat lahir dengan tempat tinggal saat survei,” ujar Asep Riyadi, Kepala BPS Riau. Penjelasan tersebut menjadi dasar membaca perubahan arah mobilitas masyarakat dalam jangka panjang pada seluruh wilayah Provinsi Riau. Tempat tinggal mengacu pada lokasi menetap minimal satu tahun atau memiliki niat untuk tinggal permanen di daerah tertentu.
Kabupaten Siak muncul sebagai wilayah paling menggoda pendatang berdasarkan data migrasi masuk seumur hidup sepanjang hasil survei terbaru tersebut. Angka migrasi masuk Siak mencapai 44,01 persen dan menempatkannya sebagai wilayah paling diminati dalam data perpindahan penduduk Riau. Posisi berikutnya ditempati Kampar dengan 43,66 persen, lalu Pekanbaru sebesar 42,02 persen sepanjang hasil penghitungan terbaru.
Data tersebut memperlihatkan geliat ekonomi kawasan penyangga mulai menyaingi dominasi kota besar dalam menarik arus perpindahan masyarakat baru. Pelalawan mencatat migrasi masuk seumur hidup sebesar 39,32 persen, lalu Dumai mencapai angka 37,49 persen sepanjang tahun pengamatan. Rokan Hulu serta Rokan Hilir juga masih menjadi tujuan menarik bagi masyarakat pencari peluang ekonomi baru.
Di balik angka tinggi beberapa daerah tersebut, muncul wilayah yang justru terus kehilangan banyak penduduk dalam beberapa tahun terakhir. Kepulauan Meranti hanya mencatat migrasi masuk seumur hidup sebesar 7,62 persen sepanjang penghitungan SUPAS terbaru tersebut. Angka itu menjadi terendah di Riau sekaligus memperlihatkan lemahnya daya tarik ekonomi kawasan kepulauan dalam beberapa tahun terakhir.
Indragiri Hilir juga mengalami situasi hampir serupa setelah hanya mencatat migrasi masuk sebesar 9,80 persen selama periode survei berlangsung. Wilayah tersebut juga memiliki angka migrasi keluar yang cukup tinggi hingga menyentuh 14,31 persen berdasarkan hasil pendataan terbaru dari BPS. Bengkalis bahkan mencatat migrasi keluar mencapai 16,80 persen sepanjang periode pengamatan terbaru tersebut.
Kondisi tersebut memperlihatkan sebagian wilayah pesisir Riau masih kesulitan mempertahankan penduduk usia produktif agar tetap menetap lebih lama. Banyak masyarakat memilih meninggalkan daerah asal demi mencari pekerjaan, pendidikan, atau peluang hidup yang lebih menjanjikan di kawasan pertumbuhan baru. Perubahan arah perpindahan tersebut diam-diam mengubah struktur sosial ekonomi antarwilayah di Provinsi Riau dalam beberapa tahun terakhir.
Selain migrasi seumur hidup, BPS juga menyoroti migrasi residen atau perpindahan masyarakat selama lima tahun terakhir di seluruh wilayah. Data tersebut memperlihatkan Kampar menjadi wilayah dengan daya tarik paling kuat sepanjang lima tahun terakhir berdasarkan hasil survei terbaru. Kampar mencatat migrasi masuk sebesar 9,44 persen, sementara migrasi keluar hanya mencapai angka 2,12 persen.
“Kampar menunjukkan daya tarik semakin kuat dalam lima tahun terakhir,” ujar Asep Riyadi, menjelaskan hasil survei terbaru tersebut kemarin. Selisih besar antara migrasi masuk dan keluar membuat Kampar berubah menjadi pusat pertumbuhan baru di Provinsi Riau sekarang. Banyak masyarakat mulai melihat wilayah tersebut sebagai lokasi yang menjanjikan untuk bekerja maupun membangun kehidupan baru bersama keluarga.
Siak juga memperlihatkan tren positif setelah mencatat migrasi masuk sebesar 4,49 persen dan migrasi keluar sebesar 2,25 persen. Indragiri Hulu ikut mengalami pertumbuhan positif dengan angka migrasi masuk mencapai 3,59 persen sepanjang periode survei berlangsung. Rokan Hulu, Pelalawan, serta Rokan Hilir juga masih menikmati selisih positif dalam arus perpindahan penduduk beberapa tahun terakhir.
Namun, kejutan terbesar justru muncul dari Pekanbaru yang selama ini dikenal sebagai pusat ekonomi dan perdagangan terbesar di Provinsi Riau. Kota tersebut ternyata mengalami migrasi keluar yang sangat tinggi hingga mencapai angka 12,69 persen berdasarkan hasil survei terbaru BPS. Angka migrasi masuk Pekanbaru hanya berada pada level 4,28 persen selama lima tahun terakhir pengamatan berlangsung.
“Pekanbaru memiliki migrasi neto minus 8,41 persen,” ujar Asep Riyadi, menjelaskan kondisi perpindahan penduduk ibu kota provinsi tersebut. Data itu memperlihatkan jumlah warga yang keluar jauh lebih besar dibandingkan dengan jumlah masyarakat baru yang datang menuju Pekanbaru dalam beberapa tahun terakhir. Situasi tersebut mulai memunculkan pertanyaan besar mengenai tekanan ekonomi dan kualitas hidup di kota terbesar di Riau tersebut.
Fenomena daerah pelepas penduduk juga terlihat pada Bengkalis serta Kuantan Singingi berdasarkan hasil pendataan SUPAS terbaru tahun ini. Bengkalis mencatat migrasi masuk sebesar 1,93 persen, sementara migrasi keluar mencapai angka 2,81 persen selama pengamatan berlangsung. Kuantan Singingi mengalami kondisi hampir serupa dengan angka migrasi keluar lebih tinggi dibandingkan dengan perpindahan penduduk masuk beberapa tahun terakhir. R-02
Kepulauan Meranti kembali menjadi sorotan karena rendahnya migrasi masuk dibandingkan wilayah lain dalam Provinsi Riau sepanjang tahun ini berjalan. Banyak warga muda memilih meninggalkan daerah tersebut demi mencari peluang ekonomi lebih besar pada kawasan daratan utama Provinsi Riau. Kondisi geografis kepulauan serta keterbatasan lapangan kerja diduga menjadi faktor utama arus perpindahan masyarakat menuju daerah lain.
Perubahan besar peta migrasi ini menjadi alarm penting bagi pemerintah daerah menghadapi persaingan pembangunan antarwilayah beberapa tahun mendatang. Daerah dengan arus masuk tinggi membutuhkan infrastruktur, sekolah, rumah sakit, serta lapangan pekerjaan lebih besar dibandingkan sebelumnya sekarang. Sebaliknya, wilayah kehilangan penduduk harus segera mencari cara memperkuat daya tarik ekonomi agar tidak semakin tertinggal jauh.
“Daerah dengan arus keluar tinggi perlu memperkuat daya tarik ekonomi,” ujar Asep Riyadi menutup pemaparan hasil survei migrasi terbaru tersebut. Pernyataan itu seperti tamparan keras bagi wilayah yang terus kehilangan masyarakat usia produktif selama beberapa tahun terakhir berjalan. Data SUPAS 2025 kini bukan sekadar angka statistik, melainkan peta baru pertarungan ekonomi antardaerah dalam Provinsi Riau.

