Hakim Militer Ngamuk Anggota BAIS Siram Air Keras Pakai Tumbler
Pengadilan Militer mulai sidang 4 anggota BAIS TNI yang siram air keras ke Andrie Yunus. (sumber: kompas.com)
JAKARTA, SabangMerauke News - Hakim militer mengecam aksi amatir empat anggota BAIS TNI saat menyerang Andrie Yunus. Insiden penyiraman air keras tersebut dianggap jauh dari standar kerja intelijen profesional. Ketua Majelis Hakim, Fredy Ferdian Isnartanto, menyebut cara kerja terdakwa sangat berantakan.
Fredy menyoroti penggunaan gelas tumbler sebagai wadah cairan kimia berbahaya milik Serda Edi. Bibir wadah yang lebar membuat kucuran air keras justru menyambar tubuh pelaku sendiri. Letnan Satu Budhi Hariyanto Widhi Cahyono turut terkena percikan maut saat kejadian berlangsung.
"Saya bilang goblok banget, masa pakai tumbler yang mulutnya besar gitu," ujar Fredy di engadilan Militer II-08 Jakarta, Rabu, 6 Mei 2026. Hakim menunjukkan gestur memencet botol plastik kecil saat memimpin sidang militer tersebut. Ruang sidang Pengadilan Militer Jakarta seketika hening mendengar sindiran pedas sang pengadil.
Fredy memberikan edukasi sederhana mengenai cara mengendalikan aliran cairan dalam sebuah botol. Mulut wadah berukuran kecil seharusnya menjadi pilihan utama untuk sasaran yang presisi. Namun, para terdakwa justru memilih peralatan minum harian untuk menjalankan aksi kriminal tersebut.
Terdakwa berkilah bahwa botol air mineral sulit ditemukan dalam lingkungan mess Denma BAIS. Peralatan yang tersedia saat itu hanyalah gelas tumbler milik pribadi untuk minum harian. Alasan ini terdengar sangat menggelikan bagi seorang perwira hukum militer senior seperti Fredy.
Fredy Ferdian Isnartanto terus meluapkan rasa gemas melihat perilaku anggota intelijen negara tersebut. Para prajurit ini bergerak mencari keberadaan target tanpa perencanaan yang matang sama sekali. Rekaman CCTV lalu lintas menangkap wajah mereka dengan sangat jelas tanpa penutup kepala.
Terdakwa bahkan nekat mengendarai sepeda motor tanpa mengenakan pelindung kepala alias helm. Mereka juga tidak memakai jaket atau masker untuk menyamarkan identitas asli di jalan. Aksi nekat ini memudahkan aparat hukum melacak jejak keberadaan mereka setelah serangan terjadi.
"Kok amatir banget itu lho, jadi gemes saya melihatnya," tegas Fredy Fredian. Hakim mengaku sangat malu melihat kualitas kerja anggota BAIS TNI yang sangat buruk. Institusi intelijen terhormat tersebut seolah tercoreng gara-gara tindakan gegabah para personel pelayanan ini.
Fredy menekankan bahwa dirinya bukan personel pasukan tempur melainkan hanya anggota bidang administrasi militer. Pengetahuan dasar mengenai penyamaran identitas seharusnya sudah menjadi makanan harian bagi anggota intelijen. Namun, fakta di lapangan menunjukkan para terdakwa bergerak seperti preman amatir tanpa strategi.
Penggunaan masker atau jaket biasa seharusnya bisa menutupi jati diri dari sorotan kamera. Aksi di tengah jalan tanpa helm adalah sebuah lelucon besar bagi dunia intelijen. Fredy menyebut rentetan kesalahan teknis ini sebagai sebuah lucu-lucuan yang sangat memalukan.
Persidangan mengungkap motif utama serangan ini murni didasari rasa dendam pribadi para terdakwa. Tidak ditemukan instruksi resmi atau sistem komando yang mengarahkan operasi gelap serangan tersebut. Dugaan keterlibatan atasan dalam struktur organisasi BAIS TNI juga nampak semakin memudar hari ini.
Identitas asli para terdakwa ternyata bukan berasal dari unit intelijen tempur yang terlatih. Keseharian mereka hanya bertugas memberikan pelayanan operasional pada lingkungan Denma BAIS TNI saja. Fakta ini menjelaskan mengapa eksekusi lapangan terhadap Andrie Yunus nampak sangat tidak terorganisir.
Kondisi fisik Serda Edi Sudarko saat ini sedang dalam keadaan sangat memprihatinkan sekali. Wajah serta mata kanannya mengalami luka bakar serius akibat paparan cairan air keras. Cairan panas tersebut memercik kembali saat Edi mencoba menyiram tubuh Andrie Yunus kemarin.
Mata kanan Edi terus mengeluarkan air mata serta terasa gatal sepanjang waktu persidangan. Luka pada tangan juga belum sembuh total meskipun sudah menjalani pengobatan salep secara rutin. Fredy Ferdian merasa perlu memberikan perhatian pada aspek kemanusiaan terhadap kondisi kesehatan sang terdakwa.
"Walaupun bersalah, tetap kita perhatikan kesehatannya demi rasa kemanusiaan," ujar Fredy Fredian. Ketua Majelis Hakim meminta Komandan Denma BAIS segera merujuk Edi ke RSPAD Gatot. Fasilitas medis milik TNI tersebut memiliki standar perawatan kulit terbaik bagi setiap prajurit.
Kolonel Harry Heriadi selaku Komandan Denma BAIS TNI mengonfirmasi arahan medis dari majelis. Permohonan pembantaran penahanan akan segera diajukan untuk proses penyembuhan total mata kanan Edi. Keadaan Andrie Yunus di RSCM juga menjadi pembanding serius atas dampak serangan mengerikan.
Andrie Yunus tidak dapat hadir memberikan kesaksian langsung pada persidangan Rabu ini tadi. Aktivis hak asasi manusia tersebut sedang menjalani prosedur operasi cangkok kulit pada bagian terbakar. Kerusakan jaringan kulit akibat air keras memerlukan penanganan medis yang sangat lama.
Hakim Fredy meminta Andrie memberikan kesaksian melalui sambungan daring pada pekan depan nanti. Kehadiran saksi korban sangat krusial untuk mengungkap kebenaran materiil dalam perkara pidana ini. Pengadilan tetap berupaya menjaga hak saksi tanpa mengabaikan kondisi kesehatan fisik yang menurun.
Fredy juga menitipkan pesan khusus mengenai nasib keluarga para terdakwa saat ini. Istri dan anak-anak Serda Edi Sudarko kemungkinan besar mengalami guncangan mental yang hebat. Kolonel Harry Heriadi diminta tetap memberikan dukungan moril kepada keluarga prajurit yang ditahan.
"Anggota keluarganya tetap menjadi tanggung jawab komandan sebagai bentuk jiwa korsa," kata Fredy. Pertanggungjawaban pidana tetap melekat pada diri terdakwa tanpa harus membebani nasib anak istri. Inilah esensi nilai kemanusiaan dalam sistem peradilan militer yang sedang ditegakkan di Jakarta.
Sidang Rabu, 6 Mei 2026, ini membongkar banyak kejanggalan. Kesepakatan empat anggota untuk melakukan serangan balas dendam dianggap sebagai tindakan yang sangat liar. Sistem pengawasan internal pada lingkungan BAIS TNI pun kini menjadi sorotan tajam publik.
Fredy Ferdian Isnartanto berharap kasus ini menjadi pelajaran berharga bagi seluruh prajurit militer. Kekerasan terhadap warga sipil tidak pernah dibenarkan dalam aturan hukum negara mana pun. Apalagi, tindakan tersebut dilakukan dengan cara-cara yang merendahkan martabat institusi intelijen negara sendiri.
Masyarakat menanti vonis adil bagi para pelaku penyiraman air keras terhadap aktivis Kontras. Keadilan bagi Andrie Yunus harus tegak meskipun pelakunya berasal dari kalangan militer aktif berkuasa. Persidangan akan terus berlanjut hingga seluruh fakta gelap dalam kasus ini terungkap terang.
Logika penggunaan tumbler air minum sebagai senjata kimia terus menjadi bahan pembicaraan hangat pengunjung. Kebodohan teknis ini justru menjadi bukti kuat bahwa rencana serangan dilakukan secara terburu-buru. Serda Edi Sudarko kini harus menanggung beban cacat fisik permanen akibat ulahnya sendiri tersebut.
Majelis hakim ingin memastikan tidak ada dalang intelektual lain di balik aksi keji ini. Sejauh ini bukti-bukti masih mengarah pada inisiatif pribadi tanpa campur tangan komando atas. Dunia hukum memantau ketat setiap jengkal proses persidangan militer yang sering dianggap tertutup.
Kisah tumbler maut ini akan menjadi catatan kelam dalam sejarah operasi intelijen di Indonesia. Sebuah pengingat bahwa kejahatan yang dilakukan secara amatir akan selalu meninggalkan jejak yang terang. Aparat hukum tidak akan mentoleransi setiap bentuk kekerasan terhadap warga sipil di muka bumi. R-02

