Nenek Dumaris Sitio yang Dicintai Warga Tewas, Kenangan Kebaikannya Banjiri Tangis
Korban Dumaris Sitio dan pelaku Anisa Florensia serta detik-detik pembantaian korban.
RIAU, SabangMerauke News - Pembunuhan Dumaris Sitio di Rumbai, Pekanbaru, membuka fakta pahit bahwa relasi keluarga berubah menjadi ancaman mematikan. Peristiwa terjadi pada Rabu, 29 April 2026, di rumah korban yang selama ini dikenal hangat. Kasus ini menyita perhatian karena melibatkan mantan menantu yang pernah dekat dengan korban.
Korban dikenal ramah dan dekat dengan lingkungan sekitar sejak lama tinggal di kawasan tersebut. Warga mengenang Dumaris sebagai sosok yang ringan tangan dan sering membantu tetangga sekitar. Hubungan sosial yang hangat itu kini kontras dengan akhir hidup yang tragis dan mengejutkan.
Ketua RT setempat, Isra, menggambarkan korban sebagai pribadi yang selalu hadir dalam kehidupan warga. “Ia ramah dan anak-anak senang karena sering diberi THR saat Lebaran,” ujar Isra. Kenangan itu membuat warga sulit menerima kenyataan atas kematian tragis yang terjadi mendadak.
Hubungan keluarga menjadi titik paling disorot dalam pengungkapan kasus pembunuhan ini oleh penyidik. Anisa Florensia diketahui pernah menjadi bagian dari keluarga setelah menikah dengan anak korban pada 2022. Pernikahan itu hanya bertahan satu tahun, namun komunikasi antara keduanya disebut tetap berjalan dengan baik.
Meski berpisah, korban disebut masih memberikan perhatian dan bantuan kepada mantan menantunya tersebut. Relasi yang tampak baik itu justru berubah menjadi latar belakang dugaan keterlibatan dalam kejahatan. Perubahan hubungan ini memunculkan pertanyaan besar tentang konflik tersembunyi yang tidak terlihat.
Rekaman kamera pengawas memperlihatkan momen awal kedatangan pelaku ke rumah korban dengan tenang. Dalam video terlihat seorang perempuan mencium tangan korban sebelum duduk berbincang singkat. Adegan tersebut menciptakan kontras tajam sebelum kekerasan terjadi beberapa saat kemudian.
Tak lama setelah percakapan berlangsung, seorang pria masuk membawa balok kayu sebagai senjata. Ia langsung memukul kepala korban berulang kali hingga korban terjatuh tanpa daya. Kekerasan terus terjadi bahkan saat korban sudah tidak mampu memberikan perlawanan.
Kanit Reskrim Polsek Rumbai Pesisir, Dodi Vivino, menyebut penyelidikan masih mendalami peran pelaku. “Pukulan benda tumpul menyebabkan pendarahan otak hingga fungsi vital berhenti,” ujar Dodi. Ia menegaskan penyidikan fokus mengurai keterlibatan masing-masing pelaku secara rinci dan jelas.
Peristiwa ini tidak berdiri sendiri karena ada kejadian sebelumnya yang menguatkan dugaan perencanaan. Awal April 2026, pelaku sempat datang ke rumah korban secara tiba-tiba tanpa alasan jelas. Setelah kunjungan tersebut, korban dilaporkan kehilangan sejumlah barang berharga dari dalam rumah.
Kejadian kehilangan itu mendorong keluarga memasang kamera pengawas sebagai langkah antisipasi keamanan. Langkah tersebut tanpa disadari menjadi alat penting untuk mengungkap kejadian tragis yang terjadi kemudian. Rekaman itu kini menjadi bukti kunci dalam penyelidikan aparat terhadap kasus pembunuhan ini.
Selain mantan menantu, beberapa orang lain diduga ikut terlibat dalam aksi kejahatan tersebut. Empat pelaku telah diamankan aparat setelah sempat melarikan diri ke luar daerah pascakejadian. Penangkapan dilakukan di wilayah berbeda setelah pengejaran lintas provinsi oleh aparat.
Kapolresta Pekanbaru, Muharman Arta, memastikan seluruh pelaku sudah berada dalam pengamanan. “Empat pelaku berhasil diamankan setelah pelarian ke luar daerah,” ujar Muharman. Ia menyebut detail peran dan motif akan disampaikan setelah proses pemeriksaan lebih mendalam selesai.
Di tengah penyelidikan, satu fakta lain muncul terkait anak korban yang turut diperiksa aparat. Anak laki-laki korban sempat datang ke rumah saat kejadian, namun pergi dalam waktu singkat. Ia mengaku tidak mengetahui kondisi korban saat itu, meski masih menjalani pemeriksaan intensif.
Kehadiran orang terdekat dalam rentang waktu kejadian menambah kompleksitas cerita di balik kasus ini. Relasi keluarga yang saling terhubung membuat garis antara kepercayaan dan ancaman menjadi kabur. Situasi ini menjadi sorotan karena kejahatan terjadi di ruang yang seharusnya paling aman.
Barang-barang berharga milik korban dilaporkan hilang setelah kejadian tragis tersebut berlangsung. Perhiasan, uang asing, hingga barang pribadi ikut raib dalam aksi yang diduga bermotif ekonomi. Namun, keterlibatan orang dekat membuat motif tidak sekadar soal harta, tetapi juga relasi personal.
Kabid Humas Polda Riau Zahwani Pandra Arsyad mengungkap keterlibatan kerabat korban dalam kasus ini. “Salah satu pelaku dalam rekaman merupakan mantan menantu korban,” ujar Pandra. Ia menegaskan penyidik terus mendalami motif di balik keterlibatan hubungan keluarga tersebut.
Warga sekitar masih diliputi rasa tidak percaya terhadap kejadian yang menimpa lingkungan mereka. Rumah yang selama ini terbuka dan hangat kini menjadi simbol luka dan ketakutan baru. Peristiwa ini mengubah cara pandang warga terhadap rasa aman dalam lingkungan sosial mereka.
Isra mengaku suasana berubah drastis setelah kejadian yang mengguncang seluruh warga setempat. “Semua syok dan tidak menyangka kejadian seperti ini menimpa dirinya,” ucap Isra lirih. Ia menyebut rasa kehilangan bercampur dengan rasa takut kini masih terasa di lingkungan tersebut.
Kasus ini membuka lapisan rapuh dalam hubungan keluarga yang tampak baik di permukaan. Kedekatan yang dulu terjalin bisa berubah arah saat konflik tersembunyi tidak terselesaikan. Kejadian ini menjadi pengingat pahit tentang kompleksitas relasi manusia dalam kehidupan sehari-hari.
Pemakaman korban berlangsung pada Sabtu, 2 Mei 2026, di Rumbai dengan suasana duka mendalam. Keluarga dan warga mengantar kepergian korban dengan perasaan kehilangan yang sulit dijelaskan. Peristiwa ini meninggalkan luka panjang yang tidak mudah sembuh dalam waktu dekat.
Penyelidikan terus berjalan untuk memastikan semua fakta terungkap tanpa celah yang terlewatkan. Aparat berupaya menyusun kronologi utuh agar keadilan bagi korban benar-benar tercapai. Kasus ini tidak sekadar kejahatan, tetapi juga potret retaknya kepercayaan dalam lingkar keluarga.
Akhir kisah Dumaris menjadi refleksi tentang rumah, kepercayaan, dan relasi yang tidak selalu sederhana. Tempat paling aman bisa berubah menjadi ruang paling berbahaya saat kepercayaan dikhianati. Dan ketika pelaku berasal dari lingkar terdekat, luka yang ditinggalkan terasa jauh lebih dalam. R-02

