Bakom Bantah Tudingan Serius ke Letkol Teddy: Tokoh Sepintar Amien Rais Jadi Korban Hoaks!
Kepala Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom) RI, Muhammad Qodari. Foto: Dok SM News
JAKARTA, SabangMerauke News - Fenomena hoaks berbasis kecerdasan buatan (AI) kembali memakan korban. Kali ini, tokoh senior nasional Amien Rais disebut ikut terseret arus disinformasi setelah mengomentari isu sensitif yang ternyata bersumber dari konten tidak valid.
Kepala Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom) RI, Muhammad Qodari, secara terbuka menyampaikan keprihatinannya atas kejadian tersebut. Ia menilai, maraknya manipulasi konten berbasis AI di media sosial kini semakin berbahaya karena mampu mengecoh bahkan figur publik berpengalaman.
“Ini memprihatinkan. Seorang tokoh sekaliber Pak Amien Rais bisa menjadi korban hoaks,” ujar Qodari, menyoroti video pernyataan Amien Rais yang sempat viral di media sosial.
Kasus ini bermula dari beredarnya sebuah video lagu berjudul “Aku Bukan Teddy” yang ramai diperbincangkan warganet. Video tersebut kemudian dijadikan dasar oleh Amien Rais untuk melontarkan tudingan terhadap Sekretaris Kabinet, Teddy Indra Wijaya, terkait isu orientasi seksual.
Namun, menurut Qodari, video yang dijadikan rujukan itu tidak dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya. Ia menegaskan bahwa konten tersebut hanyalah produk hiburan yang telah dimanipulasi, bahkan disertai elemen visual yang tidak relevan.
“Dasar penilaian itu berasal dari sebuah akun yang berisi lagu ‘Aku Bukan Teddy’ yang dianggap dinyanyikan oleh Ibu Titiek. Padahal faktanya tidak demikian,” jelasnya.
Qodari menambahkan, jika ditelusuri lebih jauh, video tersebut jelas menunjukkan tanda-tanda manipulasi. Sosok yang muncul dalam video bukanlah orang yang dimaksud, melainkan hanya kolase gambar yang disusun sedemikian rupa untuk memperkuat narasi tertentu.
Lebih jauh lagi, akun penyebar konten tersebut sebenarnya telah mencantumkan disclaimer bahwa video itu bukan konten asli dan dibuat hanya untuk tujuan hiburan. Namun, informasi penting ini kerap diabaikan oleh publik yang terlanjur terpengaruh oleh narasi yang dibangun.
Fenomena ini, menurut Qodari, menjadi contoh nyata bagaimana teknologi AI dapat disalahgunakan untuk membentuk opini publik secara keliru. Ia menilai, penyebaran hoaks kini tidak lagi sekadar teks atau gambar, melainkan telah berkembang menjadi konten audio-visual yang tampak meyakinkan.
“Ini bahaya dari hoaks di media sosial. Bahkan tokoh senior bisa terjebak karena kontennya terlihat seolah-olah nyata,” tegasnya.
Isu yang menyeret nama Teddy Indra Wijaya sendiri dinilai bukan hal baru. Narasi serangan terhadap dirinya disebut sebagai pola lama yang terus berulang, hanya saja kini dikemas dengan teknologi yang lebih canggih.
Sejumlah pihak bahkan menilai tudingan tersebut bukan lagi bentuk kritik, melainkan telah masuk ke ranah pembunuhan karakter. Kritik yang sehat, seharusnya disampaikan berbasis data dan fakta, bukan spekulasi yang diperkuat oleh konten manipulatif.
Dalam konteks ini, publik diingatkan akan fenomena illusory truth effect, yakni kecenderungan seseorang mempercayai informasi yang salah hanya karena sering diulang. Ketika konten hoaks disebarkan secara masif, ia perlahan dapat dianggap sebagai kebenaran.
Situasi ini menjadi semakin kompleks karena posisi strategis yang diemban Teddy sebagai Sekretaris Kabinet di era pemerintahan Prabowo Subianto. Peran penting tersebut membuatnya rentan menjadi target serangan opini yang tidak berdasar.
“Ketika posisi seseorang strategis, maka serangan terhadapnya juga akan semakin intens dan tidak selalu menggunakan cara-cara yang sehat,” demikian analisis yang berkembang di media sosial.
Qodari pun mengingatkan bahwa ruang publik harus dijaga dari narasi yang tidak memiliki dasar fakta. Ia menilai, pernyataan tokoh publik seharusnya dapat menjadi rujukan yang menyejukkan, bukan justru memperkeruh situasi.
Dalam kasus ini, ia menegaskan bahwa penilaian terhadap seorang pejabat publik semestinya didasarkan pada kinerja dan fakta empiris, bukan pada opini yang dibangun dari konten yang belum terverifikasi.
Perkembangan teknologi AI yang semakin pesat memang membuka banyak peluang, namun di sisi lain juga menghadirkan tantangan besar dalam menjaga kualitas informasi. Tanpa literasi digital yang memadai, masyarakat berisiko menjadi korban manipulasi yang semakin canggih.
Kasus yang menimpa Amien Rais ini menjadi peringatan penting bahwa siapa pun, tanpa terkecuali, dapat terjebak dalam pusaran hoaks. Oleh karena itu, kewaspadaan dan kemampuan memilah informasi menjadi kunci utama di era digital saat ini.
Pemerintah pun diharapkan dapat memperkuat edukasi literasi digital sekaligus menindak tegas penyebaran konten manipulatif yang berpotensi merusak tatanan sosial dan politik.
Di tengah derasnya arus informasi, publik dituntut untuk tidak mudah percaya, apalagi terhadap konten yang bersifat provokatif dan belum jelas sumbernya. Sebab, sekali hoaks dipercaya, dampaknya bisa meluas dan sulit dikendalikan. (R-03)

