Prajogo Masih Nomor Satu, Tapi Sektor Teknologi Diam-Diam Salip Konglomerat Lama
Prajogo Pangestu. (ist)
JAKARTA, SabangMerauke News - Daftar orang terkaya Indonesia 2026 kembali berubah, namun puncak masih dikuasai sektor energi. Per Jumat, 1 Mei 2026, posisi teratas tetap ditempati pengusaha petrokimia dengan kekayaan fantastis. Perubahan tipis terlihat, menandai pergeseran arah kekuatan ekonomi nasional yang semakin dinamis.
Prajogo Pangestu masih bertahan sebagai orang terkaya dengan total kekayaan sekitar US$21 miliar. Nilai tersebut setara Rp363,7 triliun, menjadikannya figur dominan dalam lanskap bisnis nasional. Bisnis petrokimia dan energi tetap menjadi fondasi utama kekayaan yang terus bertahan stabil.
Dominasi ini mencerminkan kekuatan sektor energi yang belum tergantikan dalam struktur ekonomi Indonesia. Meski tekanan global meningkat, sektor ini tetap menghasilkan keuntungan besar dalam skala nasional. Diversifikasi bisnis menjadi langkah penting menghadapi perubahan arah energi global yang terus berkembang.
Di posisi kedua, Low Tuck Kwong mempertahankan kekuatan melalui bisnis batu bara skala besar. Kekayaannya mencapai sekitar US$16,5 miliar, didukung performa industri energi berbasis fosil. Permintaan global terhadap batu bara masih memberikan ruang pertumbuhan bagi sektor tersebut.
Sementara itu, R Budi Hartono tetap menjadi kekuatan besar dari sektor perbankan nasional. Dengan kekayaan US$15,9 miliar, ia mengandalkan bisnis finansial dan industri tembakau. Stabilitas sektor perbankan menjaga posisinya tetap kuat dalam daftar orang terkaya Indonesia.
Anthoni Salim menyusul di posisi berikutnya dengan kekuatan bisnis konsumer dan pangan. Kekayaan mencapai US$11,9 miliar, didukung jaringan distribusi besar dan produk kebutuhan sehari-hari. Sektor ini tetap relevan karena permintaan konsumen yang stabil sepanjang waktu.
Tahir bersama keluarga menempati posisi lima besar dengan kekuatan di sektor keuangan dan properti. Total kekayaan mencapai US$9,7 miliar, mencerminkan pertumbuhan bisnis yang konsisten dalam beberapa tahun. Ekspansi sektor properti masih menjadi pendorong utama peningkatan nilai aset tersebut.
Di sisi lain, Sri Prakash Lohia mengandalkan industri petrokimia dan tekstil sebagai sumber kekayaan. Nilainya mencapai US$8,8 miliar, menunjukkan daya tahan sektor industri manufaktur skala global. Pasar internasional tetap menjadi faktor penting dalam menjaga stabilitas bisnis tersebut.
Perubahan menarik muncul dari sektor teknologi yang semakin menonjol dalam daftar tahun ini. Otto Toto Sugiri dan Marina Budiman menjadi representasi kuat ekonomi digital berbasis data center. Bisnis pusat data menjadi tulang punggung baru seiring meningkatnya kebutuhan cloud dan kecerdasan buatan.
Otto Toto Sugiri memiliki kekayaan sekitar US$8,4 miliar dari bisnis data center nasional. Marina Budiman menyusul dengan kekayaan US$6 miliar dari sektor yang sama berkembang pesat. Lonjakan ini menandai pergeseran penting menuju ekonomi berbasis digital dan infrastruktur teknologi.
Pertumbuhan sektor ini dipicu kebutuhan besar terhadap layanan digital dan penyimpanan data global. Indonesia menjadi pasar strategis dengan pertumbuhan pengguna internet yang terus meningkat signifikan. Hal ini membuka peluang besar bagi pemain teknologi untuk memperluas dominasi ekonomi mereka.
Kemunculan Lim Hariyanto Wijaya Sarwono memperkuat tren baru dari sektor pertambangan mineral strategis. Kekayaannya mencapai US$5,3 miliar, didorong ekspansi bisnis nikel dan hilirisasi industri. Nikel menjadi komoditas penting dalam rantai pasok kendaraan listrik global yang terus berkembang.
Sementara itu, Haryanto Tjiptodihardjo menutup daftar sepuluh besar dari sektor manufaktur bahan bangunan. Kekayaannya mencapai US$5 miliar, seiring pertumbuhan sektor properti dan pembangunan infrastruktur nasional. Permintaan material konstruksi terus meningkat mengikuti proyek pembangunan di berbagai wilayah Indonesia.
Perubahan komposisi ini menunjukkan arah baru dalam struktur kekayaan nasional yang semakin beragam. Sektor tradisional tetap kuat, namun sektor teknologi mulai mengambil peran lebih signifikan. Perpaduan ini menciptakan dinamika baru dalam peta kekuatan ekonomi Indonesia saat ini.
Analis ekonomi menilai pergeseran ini mencerminkan transformasi ekonomi menuju era digital dan energi. “Data center dan hilirisasi mineral menjadi sektor kunci dalam pertumbuhan kekayaan baru,” ujar analis pasar. Ia menilai perubahan ini akan terus berlanjut seiring perkembangan teknologi dan kebutuhan energi global.
Namun sektor energi tetap menjadi fondasi utama yang sulit tergantikan dalam waktu dekat. Kombinasi antara energi, teknologi, dan konsumsi domestik menjadi penggerak utama ekonomi nasional. Persaingan antar sektor ini akan menentukan arah kekayaan Indonesia dalam beberapa tahun ke depan.
Daftar terbaru ini menjadi cermin perubahan ekonomi yang bergerak cepat dan penuh adaptasi. Nama-nama lama tetap bertahan, namun pemain baru mulai menunjukkan kekuatan signifikan. Perjalanan menuju dominasi ekonomi masa depan kini semakin terbuka bagi berbagai sektor berkembang. R-02
Berikut daftar lengkap 10 orang terkaya di Indonesia terbaru berdasarkan Forbes per 1 Mei 2026:
- Prajogo Pangestu: Petrokimia & energi (Barito Pacific Group, Chandra Asri Pacific) : Rp363,7 triliun;
- Low Tuck Kwong: Batu bara & energi (Bayan Resources): Rp285,8 triliun
- R. Budi Hartono: Perbankan & tembakau (Djarum Group, BCA): Rp275,4 triliun
- Anthoni Salim: Konsumer & pangan (Salim Group, Indofood):Rp 206,1 triliun
- Tahir & keluarga: Keuangan & properti (Mayapada Group): Rp 168,0 triliun
- Sri Prakash Lohia: Petrokimia & tekstil (Indorama Corporation): Rp 152,4 triliun
- Otto Toto Sugiri: Teknologi pusat data (DCI Indonesia): Rp 145,5 triliun
- Marina Budiman: Teknologi pusat data (DCI Indonesia): Rp 103,9 triliun
- Lim Hariyanto Wijaya Sarwono: Pertambangan & perkebunan (Harita Group): Rp 91,8 triliun
- Haryanto Tjiptodihardjo: Manufaktur bahan bangunan (Impack Pratama Industri):Rp 86,6 triliun:

