Harga Pangan Meledak Lagi, Cabai dan Telur Jadi Biang Kerok Kenaikan
Ilustrasi pedagang pangan di pasar tradisional. (ist)
JAKARTA, SabangMerauke News - Harga pangan kembali bikin dahi berkerut saat awal pekan dimulai dengan lonjakan cukup terasa. Senin, 27 April 2026, data Bank Indonesia mencatat kenaikan terjadi pada sejumlah komoditas utama. Cabai, telur, beras, hingga minyak goreng kompak naik dan memicu kekhawatiran pasar domestik.
Lonjakan paling mencolok terlihat pada komoditas cabai merah besar yang naik tajam hari ini. Harga cabai merah besar melonjak 13,1% atau Rp6.250 menjadi Rp53.950 per kilogram. Cabai merah keriting ikut naik 3,33% atau Rp1.550 menjadi Rp48.050 per kilogram.
Kenaikan cabai langsung terasa di pasar karena komoditas ini menjadi bahan utama konsumsi harian. Pergerakan harga yang cepat membuat pedagang dan konsumen harus beradaptasi dalam waktu singkat. Situasi ini sering muncul saat distribusi terganggu atau pasokan berkurang mendadak.
Minyak goreng juga ikut merangkak naik meski dengan persentase yang lebih kecil. Minyak goreng curah naik 0,25% atau Rp50 menjadi Rp20.450 per kilogram. Minyak goreng kemasan bermerek melonjak 9,34% atau Rp2.200 menjadi Rp25.750 per kilogram.
Varian minyak goreng kemasan lain juga mengalami kenaikan sebesar 5,09% hari ini. Harga naik Rp1.150 sehingga kini berada di level Rp23.750 per kilogram di pasaran. Kenaikan ini memperlihatkan tekanan masih terasa pada sektor bahan pangan olahan.
Komoditas beras turut mengalami kenaikan yang merata pada berbagai jenis kualitas di pasar. Beras medium I naik 0,59% atau Rp 900 menjadi Rp 17.000 per kilogram. Beras medium II naik 5,02% atau Rp800 menjadi Rp16.750 per kilogram.
Beras kualitas bawah juga tidak luput dari tren kenaikan yang terjadi awal pekan ini. Beras bawah tipe I naik 6,19% atau Rp900 menjadi Rp15.450 per kilogram. Beras bawah tipe II naik 7,22% atau Rp1.050 menjadi Rp15.600 per kilogram.
Segmen beras premium juga ikut terdorong naik mengikuti tren pasar yang sedang bergerak. Beras super I naik 5,19% atau Rp900 menjadi Rp18.250 per kilogram. Beras super II naik 5,62% atau Rp950 menjadi Rp17.850 per kilogram.
Kenaikan juga terjadi pada komoditas gula pasir yang menjadi kebutuhan penting rumah tangga. Gula premium naik 9,63% atau Rp1.950 menjadi Rp22.200 per kilogram. Gula lokal ikut naik 5,48% atau Rp1.050 menjadi Rp20.200 per kilogram.
Komoditas protein hewani ikut bergerak naik meski tidak setinggi cabai dan gula. Daging ayam ras segar naik 0,5% atau Rp200 menjadi Rp40.050 per kilogram. Daging sapi tipe I naik 0,71% atau Rp1.050 menjadi Rp148.950 per kilogram.
Daging sapi tipe II juga mengalami kenaikan cukup terasa pada perdagangan awal pekan. Harga naik 4,01% atau Rp5.600 menjadi Rp145.400 per kilogram di pasar. Kenaikan ini memperlihatkan bahwa tekanan biaya produksi masih membayangi sektor pangan.
Telur ayam menjadi komoditas yang ikut mencuri perhatian karena kenaikan cukup tinggi hari ini. Harga telur naik 9,16% atau Rp2.950 menjadi Rp35.150 per kilogram. Kondisi ini membuat pengeluaran rumah tangga berpotensi meningkat secara signifikan.
Meski banyak komoditas naik, beberapa jenis cabai justru mengalami penurunan harga cukup tajam. Cabai rawit hijau turun 27,93% menjadi Rp35.350 per kilogram hari ini. Cabai rawit merah turun 8,78% atau Rp6.000 menjadi Rp62.300 per kilogram.
Data Pusat Informasi Harga Pangan Strategis Nasional menunjukkan tren cabai rawit hijau mulai melandai. Rata-rata harga nasional tercatat Rp70,06 ribu per kilogram, turun dari pekan sebelumnya Rp73,12 ribu. Penurunan ini memberi sedikit ruang napas bagi konsumen.
Namun, harga cabai rawit hijau di beberapa daerah masih tergolong tinggi dibandingkan dengan wilayah lain. Riau mencatat harga tertinggi mencapai Rp81.950 per kilogram di pasar modern. Bengkulu dan Bangka Belitung menyusul dengan harga di atas Rp77 ribu per kilogram.
Beberapa wilayah mencatat harga lebih rendah dibandingkan dengan rata-rata nasional untuk komoditas cabai rawit. Jambi, Aceh, dan Sumatera Utara menjadi daerah dengan harga relatif lebih rendah. Perbedaan harga antarwilayah menunjukkan distribusi belum merata secara optimal.
Pergerakan harga pangan saat ini tidak lepas dari berbagai faktor yang saling berkaitan. Cuaca, distribusi, dan biaya produksi menjadi pemicu utama perubahan harga di pasar. Dinamika ini membuat harga pangan sulit diprediksi dalam jangka pendek.
Bank Indonesia mencatat tren kenaikan ini perlu dicermati sebagai sinyal tekanan inflasi pangan. Perubahan harga yang cepat dapat memengaruhi daya beli masyarakat secara langsung dalam waktu singkat. Stabilitas pasokan menjadi kunci untuk menjaga harga tetap terkendali.
Seorang pedagang di pasar tradisional mengaku kenaikan cabai cukup terasa sejak beberapa hari terakhir. Ia menyebut harga berubah cepat sehingga margin keuntungan sulit dipastikan setiap hari. “Harga cabai naik cepat, pembeli mulai mengurangi jumlah belanja,” ujar Rudi, pedagang di Pasar Pagi Arengka, Pekanbaru, Minggu, 26 April 2026.
Kondisi ini membuat konsumen mulai menyesuaikan pola belanja agar tetap bisa memenuhi kebutuhan harian. Pengeluaran difokuskan pada kebutuhan utama sementara pembelian lain mulai dikurangi. Strategi ini menjadi cara bertahan saat harga pangan bergerak naik.
Tren kenaikan harga pangan awal pekan ini menjadi sinyal penting bagi pemerintah dan pelaku pasar. Upaya menjaga pasokan dan distribusi harus diperkuat agar lonjakan tidak berlanjut lebih tinggi. Stabilitas harga menjadi kunci untuk menjaga keseimbangan ekonomi masyarakat.R-02

