Aktivitas Vulkanik Gunung Dukuno Meningkat, Tercatat 109 Gempa Erupsi
Gunung Dukuno di Halmahera Utara, Maluku Utara. Foto: Dok SM News
MALUKU UTARA, SabangMerauke News - Gunung Dukuno di Halmahera Utara, Maluku Utara, kembali erupsi pada Kamis (23/4/2026), pukul 18.22 WIT. Berdasarkan data resmi Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi, tinggi kolom letusan teramati mencapai 1.200 meter di atas puncak, atau sekitar 2.287 meter di atas permukaan laut.
Erupsi terbaru ini kembali menegaskan bahwa aktivitas vulkanik Gunung Dukuno masih sangat tinggi dan perlu diwaspadai oleh masyarakat. Kolom abu yang teramati berwarna putih hingga kelabu dengan intensitas tebal mengarah ke barat laut. Hingga laporan ini disusun, aktivitas erupsi masih berlangsung, menunjukkan bahwa tekanan magma di dalam gunung belum sepenuhnya mereda.
Gunung Dukuno sendiri dikenal sebagai salah satu gunung api paling aktif di Indonesia. Aktivitas letusannya yang cenderung terus-menerus membuat kawasan di sekitarnya harus selalu berada dalam kondisi siaga. Bahkan, sepanjang tahun 2026 saja, gunung ini telah tercatat meletus sebanyak 72 kali, angka yang menunjukkan frekuensi erupsi yang cukup tinggi dalam kurun waktu kurang dari empat bulan.
Petugas Pos Pantau Gunung Dukuno, Bambang Sugiono, mengingatkan masyarakat dan wisatawan agar tidak melakukan aktivitas apa pun di sekitar kawah aktif. Ia menegaskan bahwa radius aman saat ini adalah sejauh 4 kilometer dari Kawah Malupang Warirang, pusat aktivitas erupsi Gunung Dukuno.
Selain larangan mendekati kawah, masyarakat juga diimbau untuk selalu menggunakan masker atau penutup hidung dan mulut. Hal ini penting mengingat abu vulkanik yang dihasilkan dari erupsi dapat membahayakan sistem pernapasan jika terhirup dalam jumlah tertentu.
“Pakai masker atau penutup hidung,” tegas Bambang dalam keterangannya.
Bahaya abu vulkanik memang tidak bisa dianggap remeh. Partikel halus yang terkandung di dalamnya dapat menyebabkan iritasi pada mata, kulit, serta gangguan pernapasan, terutama bagi kelompok rentan seperti anak-anak dan lansia. Selain itu, abu vulkanik juga dapat mengganggu aktivitas sehari-hari, termasuk transportasi dan pertanian warga setempat.
PVMBG juga menekankan bahwa sebaran abu vulkanik sangat bergantung pada arah dan kecepatan angin. Artinya, wilayah yang terdampak abu bisa berubah sewaktu-waktu tanpa pola yang tetap. Oleh karena itu, kesiapsiagaan masyarakat menjadi kunci utama dalam menghadapi kondisi ini.
Tidak hanya erupsi yang menjadi perhatian, aktivitas kegempaan Gunung Dukuno juga menunjukkan peningkatan signifikan. Berdasarkan hasil pemantauan PVMBG pada Rabu (22/4/2026), tercatat sebanyak 109 kali gempa letusan atau erupsi dengan amplitudo berkisar antara 6 hingga 34 mm, serta durasi gempa antara 37,76 hingga 63,35 detik.
Selain itu, terdeteksi pula satu kali gempa tektonik jauh dengan amplitudo 11 mm, serta satu kali gempa tremor menerus dengan amplitudo dominan 2 mm. Data ini menunjukkan bahwa dinamika di dalam tubuh gunung masih sangat aktif dan berpotensi memicu erupsi lanjutan.
Hingga saat ini, status Gunung Dukuno masih berada pada Level II atau Waspada. Status ini menandakan bahwa aktivitas vulkanik berada di atas normal, namun belum mencapai tingkat yang mengharuskan evakuasi besar-besaran. Meski demikian, masyarakat tetap diminta untuk tidak lengah dan selalu mengikuti arahan dari pihak berwenang.
Kondisi ini juga menjadi pengingat penting akan posisi Indonesia yang berada di jalur cincin api Pasifik atau “Ring of Fire”, yang membuat wilayahnya memiliki banyak gunung api aktif. Gunung Dukuno menjadi salah satu contoh nyata bagaimana aktivitas geologi dapat berlangsung secara terus-menerus dan memerlukan pemantauan intensif.
Dengan aktivitas yang masih berlangsung, masyarakat di sekitar Gunung Dukuno diharapkan tetap tenang namun waspada. Pemerintah daerah bersama PVMBG terus melakukan pemantauan dan akan segera memberikan pembaruan informasi jika terjadi perubahan signifikan dalam aktivitas gunung.
Kewaspadaan, kesiapan, serta kepatuhan terhadap imbauan resmi menjadi langkah paling efektif untuk meminimalkan risiko bencana. Dalam situasi seperti ini, informasi yang cepat dan akurat menjadi kunci keselamatan bersama. (R-05)

