BI Rate Tahan Napas di 4,75%, Tapi Kenapa Rupiah Tetap Tersungkur Hari Ini?
Ilustrasi kurs Dolar AS terhadap Rupiah Indonesia. (ist)
JAKARTA, SabangMerauke News - Kabar kurang sedap kembali datang dari papan skor pasar valuta asing sore ini. Mata uang Garuda harus rela tersungkur ke level Rp17.181 per dolar Amerika Serikat. Penutupan perdagangan Rabu, 22 April 2026, mencatatkan pelemahan 38 poin yang menyesakkan.
Kondisi ini ibarat jatuh tertimpa tangga karena tekanan datang dari luar dan dalam. Geopolitik di Timur Tengah yang melibatkan Donald Trump dan Iran menjadi biang kerok utama. Pernyataan sepihak soal gencatan senjata tanpa batas waktu justru membuat pelaku pasar menjadi bingung.
"Langkah tersebut tampak sepihak dan belum jelas apakah Iran atau Israel akan setuju," ujar pengamat pasar uang, Ibrahim Assuaibi, membedah situasi panas yang mengguncang ekonomi global tersebut sekarang. Blokade Amerika Serikat terhadap pesisir Iran juga dianggap sebagai bentuk agresi yang memicu spekulasi.
Dunia sedang menahan napas menunggu respons resmi dari para petinggi negara di Teheran sana. Ketidakpastian ini membuat investor memilih kabur ke aset aman dan meninggalkan mata uang berkembang. Akibatnya, ruang penguatan bagi rupiah menjadi sangat terbatas meski fundamental ekonomi diklaim masih oke.
Masalah internal ternyata tidak kalah pelik karena pemerintah sedang menghadapi ancaman tembok utang raksasa. Total jatuh tempo utang pada tahun dua ribu dua puluh enam mencapai delapan ratus triliun. Angka fantastis sebesar Rp833,96 triliun ini merupakan rekor tertinggi dalam periode satu dekade terakhir.
Beban berat ini adalah akumulasi utang masa lalu, termasuk skema berbagi beban saat pandemi. Sekitar Rp154,5 triliun kewajiban berasal dari kerja sama pemerintah dan Bank Indonesia beberapa tahun lalu. Strategi pembiayaan ulang atau refinancing dalam skala besar diperkirakan akan menjadi langkah utama.
"Rp 17.000 adalah realita baru yang akan disusul dengan realita-realita baru yang lain," tegas Ekonom Universitas Paramadina, Wijayanto Samirin, yang menilai level saat ini mencerminkan kondisi ekonomi yang sulit dihindari. Wijayanto bahkan merasa pesimistis bahwa mata uang kita bisa kembali ke kisaran 16.000.
Bank Indonesia sendiri tetap memasang badan dengan mempertahankan suku bunga acuan pada level empat persen. Keputusan dalam rapat Dewan Gubernur April 2026 ini demi menjaga stabilitas. Suku bunga BI Rate tetap di angka 4,75 persen agar sektor riil tidak makin tertekan.
Gubernur BI Perry Warjiyo menegaskan posisi nilai tukar rupiah saat ini sebenarnya masih undervalued. Artinya, harga di pasar sekarang masih berada di bawah nilai wajar fundamental ekonomi nasional kita. Perry optimis ada ruang besar bagi Garuda untuk kembali menguat dan stabil dalam jangka menengah.
"Secara fundamental, nilai tukar rupiah kita akan stabil didukung oleh pertumbuhan ekonomi tinggi," jelasnya. Perry Warjiyo menyampaikan pesan optimis tersebut dalam konferensi pers daring pada Rabu sore hari ini. Bank sentral juga meningkatkan intensitas intervensi di pasar valuta asing selama 24 jam.
Intervensi dilakukan mulai dari pasar spot hingga pasar Non-Deliverable Forward di luar negeri secara masif. Langkah ini bertujuan meredam gejolak akibat memburuknya kondisi ekonomi global akibat perang di Timur Tengah. Koordinasi erat dengan Kementerian Keuangan terus diperkuat guna memitigasi risiko pelarian modal asing secara besar.
Meskipun tekanan berat menghantui, aliran modal asing mulai masuk kembali pada awal triwulan kedua ini. Investasi portofolio mencatat dana masuk sebesar 1,9 miliar dolar Amerika Serikat hingga pertengahan April ini. Daya tarik instrumen keuangan domestik diharapkan tetap terjaga meski kondisi pasar global masih belum stabil.
Strategi moneter yang propasar diharapkan mampu menarik kembali minat para investor global terhadap aset rupiah. Penggunaan mata uang lokal dalam perdagangan internasional juga terus didorong melalui skema transaksi mata uang. Rencana peluncuran QRIS antarnegara dengan Tiongkok pada akhir April menjadi salah satu amunisi ekonomi digital.
Tantangan fiskal dan moneter yang tumpang tindih ini menuntut kebijakan yang sangat solid dan kredibel. Fokus utama kebijakan seharusnya diarahkan pada stabilitas nilai tukar daripada sekadar mengejar target angka tertentu. Kesinambungan anggaran tanpa bergantung pada utang baru menjadi kunci utama untuk menjaga kepercayaan para pelaku pasar.
Realita baru di angka tujuh belas ribuan ini harus dihadapi dengan langkah-langkah ekonomi strategis. Masyarakat diimbau tetap tenang namun waspada terhadap dampak kenaikan harga barang impor akibat pelemahan ini. Semoga badai geopolitik segera berlalu dan tembok utang bisa terlewati dengan manajemen keuangan yang tepat. R-02

