Iran Murka! Gencatan Senjata Sepihak Trump Ditolak, Ancam Balasan Militer
Pemerintah Iran menolak keras perpanjangan gencatan senjata yang diumumkan sepihak oleh Donald Trump, menyebut langkah itu tidak memiliki legitimasi dan justru memicu eskalasi konflik baru di kawasan. Foto : Istimewa
Iran, SABANGMERAUKE NEWS - Teheran langsung merespons pengumuman Presiden Amerika Serikat terkait perpanjangan gencatan senjata dengan sikap konfrontatif. Penasihat Ketua Parlemen Iran, Mahdi Mohammadi, menegaskan keputusan Washington tidak mengikat Iran dalam kondisi apa pun.
“Perpanjangan gencatan senjata Trump tidak berarti apa-apa,” kata Mohammadi, Rabu (22/4/2026). Ia menilai kebijakan tersebut kontradiktif karena tetap disertai blokade militer terhadap pelabuhan Iran.
Menurut Mohammadi, keberlanjutan blokade sama saja dengan tindakan agresi terbuka. Ia menyebut situasi itu tidak layak diselesaikan melalui diplomasi semata, melainkan memerlukan respons tegas.
“Kelanjutan pengepungan tidak berbeda dengan pemboman dan harus ditanggapi dengan respons militer,” ujarnya.
Iran juga mencurigai langkah sepihak Washington sebagai strategi taktis untuk mengulur waktu. Teheran menilai perpanjangan gencatan senjata hanya menjadi kedok sebelum serangan lanjutan dilancarkan.
“Perpanjangan ini jelas taktik mengulur waktu demi serangan mendadak. Saatnya Iran mengambil inisiatif,” kata Mohammadi menambahkan.
Sebelumnya, Donald Trump mengumumkan perpanjangan gencatan senjata yang awalnya berakhir 22 April 2026. Ia menegaskan militer AS tetap melanjutkan blokade terhadap akses pelabuhan Iran meski status gencatan senjata diperpanjang.
“Saya telah mengarahkan militer untuk melanjutkan blokade dan tetap siap dalam segala situasi,” ujar Trump dalam pernyataan resmi.
Trump menyebut perpanjangan tersebut tidak memiliki batas waktu pasti. Ia mengaitkannya dengan proses negosiasi yang masih berlangsung, sembari menunggu proposal dari pihak Iran.
Namun, langkah ini justru memperdalam ketegangan. Di satu sisi, Washington mengklaim membuka ruang diplomasi. Di sisi lain, tekanan militer tetap dijalankan, memicu persepsi ganda dari Teheran.
Analis geopolitik menilai situasi ini berpotensi memperburuk stabilitas kawasan Timur Tengah. Ketidakselarasan antara pernyataan politik dan aksi militer dinilai meningkatkan risiko konflik terbuka.
Dengan posisi Iran yang mulai menunjukkan sikap ofensif, dinamika konflik kini memasuki fase krusial. Respons berikutnya dari Teheran akan menjadi penentu arah eskalasi dalam waktu dekat.(R-03)

