Tragedi Pantai Ulak Karang
Gagal Dievakuasi Pakai Ban Bekas, Tangis Keluarga Pecah Saat Perahu SAR Balik Tanpa Hasil
Tim SAR Padang masih terus mencari 2 anak yang hanyut di pantai Padang pada Sabtu, 18 April 2026, lalu. Hingga hari ketiga kedua korban belum ditemukan. (ist)
SUMBAR, SabangMerauke News - Pencarian dua bocah hanyut di Pantai Ulak Karang hingga hari ini, Selasa, 21 April 2026, masih berlangsung. Tim SAR gabungan belum menemukan korban hingga hari ketiga operasi yang melelahkan. Harapan keluarga terus bertahan meski ombak laut belum memberi jawaban pasti.
Dua korban bernama Rasyid, 8 tahun, dan Zafran Al Malik Akbar, 9 tahun. Keduanya warga Gunung Pangilun yang terseret arus saat bermain air bersama teman-temannya.Peristiwa terjadi pada Sabtu, 18 April 2026, saat suasana pantai tampak tenang.
Kepala Kantor SAR Padang, Abdul Malik, menjelaskan operasi hari ketiga dimulai sejak pagi. Tim dibagi menjadi empat unit pencarian untuk menyisir titik koordinat yang telah dipetakan. "Operasi dimulai pukul 07.00 WIB dan berlangsung hingga sore dengan hasil nihil," ujar Abdul Malik.
Area pencarian diperluas hingga sekitar enam mil laut dari lokasi kejadian awal. Langkah ini diambil untuk mengantisipasi kemungkinan korban terbawa arus cukup jauh. Penyisiran dilakukan secara intensif di laut dan sepanjang garis pantai sekitar lokasi.
Berbagai peralatan canggih dikerahkan untuk mendukung operasi pencarian yang semakin kompleks. Perahu karet, kendaraan rescue, alat komunikasi, hingga drone thermal digunakan dalam pemantauan. Teknologi ini membantu tim mengamati area luas yang sulit dijangkau secara manual.
Operasi melibatkan banyak unsur mulai dari SAR, TNI, kepolisian, hingga relawan masyarakat. Puluhan personel bekerja bergantian menyisir laut dan pesisir tanpa mengenal lelah. Kolaborasi ini menjadi kekuatan utama dalam menghadapi kondisi medan yang tidak mudah.
Namun luasnya area menjadi kendala utama yang terus dihadapi tim di lapangan. Arus laut yang berubah serta kondisi perairan membuat pencarian membutuhkan waktu lebih lama. Cuaca berawan dengan angin sekitar lima knot turut memengaruhi efektivitas penyisiran.
"Medan pencarian sangat luas sehingga membutuhkan waktu dan strategi maksimal," kata Abdul Malik. Ia memastikan operasi akan terus dilanjutkan hingga korban ditemukan atau sesuai prosedur berlaku. Pencarian hari berikutnya dijadwalkan kembali dimulai pagi dengan strategi lanjutan.
Kejadian bermula saat enam anak bermain air di pantai tanpa pengawasan ketat. Empat anak berada di tengah laut sementara dua lainnya mencoba kembali ke tepi. Ombak kuat tiba-tiba datang dan menyeret dua bocah hingga hilang dari pandangan.
Seorang warga bernama Mayang sempat melihat kejadian tersebut secara langsung di lokasi. Ia mendengar teriakan minta tolong sebelum menyadari ada anak terseret arus. "Saya lihat mereka di tengah, tiba-tiba terdengar teriakan dan ada yang hanyut," ujar Mayang.
Upaya penyelamatan sempat dilakukan oleh teman korban yang mencoba menarik tubuh mereka. Namun pegangan terlepas akibat ombak besar yang menghantam dengan kuat. Situasi cepat berubah dan kedua korban akhirnya terbawa arus ke arah laut lepas.
Mayang berlari mencari bantuan ke sekitar kampus terdekat setelah kejadian tersebut. Ia meminta bantuan petugas keamanan dan warga untuk segera menuju lokasi pantai. Beberapa orang mencoba menolong menggunakan alat seadanya yang tersedia saat itu.
Warga bahkan meminjam ban bekas dari nelayan sebagai alat bantu evakuasi darurat. Namun saat kembali ke lokasi, kedua korban sudah tidak terlihat di permukaan air. Kondisi tersebut membuat suasana berubah panik dan penuh kecemasan mendalam.
Kepala BPBD Padang, Hendri Zulviton, membenarkan kronologi kejadian berdasarkan laporan lapangan. "Empat anak berhasil kembali, dua lainnya diduga terseret ombak dan hilang," ujar Hendri Zulviton. Ia menegaskan kondisi ombak saat itu cukup berbahaya untuk aktivitas berenang.
Di lokasi, keluarga korban terus menunggu dengan harapan yang belum padam hingga kini. Tangis dan doa mengiringi setiap proses pencarian yang dilakukan tim SAR gabungan. Waktu berjalan lambat bagi keluarga yang menanti kabar di tepi pantai tersebut.
Nenek salah satu korban, Yulidar, terlihat terpukul saat menunggu kabar cucunya. Ia datang ke pantai setelah menerima informasi mengejutkan dari keluarga pada sore hari. "Saya terus berdoa agar cucu saya segera ditemukan," ujar Yulidar dengan suara bergetar.
Keluarga mengaku tidak mengetahui anak-anak pergi bermain ke pantai pada hari itu. Informasi datang tiba-tiba dan langsung mengubah suasana menjadi penuh kepanikan. Sejak saat itu, mereka terus bertahan di lokasi menunggu hasil pencarian.
Masyarakat sekitar juga ikut memadati area pantai untuk menyaksikan proses pencarian berlangsung. Rasa empati dan keingintahuan membuat lokasi dipenuhi warga hingga menjelang malam hari. Suasana menjadi hening saat matahari tenggelam dan pencarian dihentikan sementara.
"Operasi hari ini dihentikan pukul 18.00 WIB dan dilanjutkan kembali esok pagi," ujar Abdul Malik. Tim akan kembali menyusun strategi baru untuk meningkatkan peluang menemukan korban. Harapan tetap dijaga meski waktu terus berjalan tanpa kepastian hingga saat ini.
Peristiwa ini menjadi pengingat penting terkait keselamatan saat beraktivitas di laut terbuka. Pengawasan terhadap anak-anak menjadi faktor penting untuk mencegah kejadian serupa terulang. Kini semua mata tertuju pada pencarian yang terus berlangsung di tengah gelombang tak menentu. R-02

