Update Tragedi Pantai Padang: Identitas Korban Tenggelam Belakang Kampus Bung Hatta Terungkap
Tim SAR Gabungan menaikkan perahu karet ke daratan untuk menghentikan upaya pencarian 2 anak yang dilaporkan hanyut di Pantai Ujung Karang, Padang, Sabtu, 18 April 2026. Pencarian dilanjutkan Minggu, 19 April 2026, pagi. (tribunpadang.com)
SUMATERA BARAT, SabangMerauke News - Deburan ombak di Pantai Ujung Karang Padang menyisakan duka mendalam bagi warga Gunung Pangilun. Peristiwa tragis tersebut menimpa dua bocah lelaki yang sedang asyik bermain air laut pasang. Suasana ceria mendadak berubah menjadi horor saat teriakan minta tolong memecah keheningan siang hari.
Kejadian memilukan ini berlangsung pada Sabtu, 18 April 2026, siang. Lokasi persis musibah berada tepat di belakang kawasan kampus Universitas Bung Hatta yang megah. Dua anak dilaporkan hilang terseret arus kuat saat berenang bersama teman sebaya mereka di sana.
Kepala Pelaksana BPBD Kota Padang, Hendri Zulviton, mengonfirmasi identitas korban yang masih dalam pencarian. "Dua anak bernama Rasyid delapan tahun dan Zafran sembilan tahun terseret arus ombak keruh," ungkapnya saat memberikan keterangan resmi kepada awak media di lokasi kejadian.
Seorang warga setempat bernama Mayang sempat melihat detik-detik mencekam saat para korban mulai terseret. Saksi mata tersebut sebenarnya sudah melarang anak-anak itu berenang karena kondisi laut sangat berbahaya. Namun, peringatan tulus dari Mayang tidak dihiraukan oleh sekumpulan bocah yang sedang asyik bermain.
Mayang melihat ada enam orang anak yang sedang berada di area tengah laut lepas. Empat anak tampak berjuang keras kembali ke pinggir pantai saat ombak mulai meninggi. Sayangnya, dua anak lainnya justru semakin menjauh terbawa arus hingga menghilang dari pandangan mata warga.
Salah seorang teman korban bernama Naufal sempat melakukan aksi heroik untuk menolong teman sejawat. Naufal berusaha menarik tangan temannya yang mulai tenggelam di tengah terjangan ombak yang sangat kuat. Namun, tenaga bocah itu tidak sanggup melawan besarnya kekuatan air laut yang terus menarik.
Pegangan tangan Naufal akhirnya terlepas akibat hantaman gelombang besar yang datang secara tiba-tiba sekali. Korban pun terpisah dan satu di antaranya terlihat semakin menjauh menuju ke arah tengah laut. Mayang segera berlari mencari pertolongan ke arah pos keamanan kampus yang berada sangat dekat.
Petugas keamanan kampus langsung meninggalkan aktivitas makan siang demi menuju lokasi kejadian yang genting. Upaya pencarian darurat dilakukan dengan menggunakan ban bekas milik nelayan sekitar pintu muara pantai. Namun, saat bantuan datang ke lokasi semula, tubuh para korban sudah tidak terlihat lagi.
Keluarga korban segera berdatangan ke lokasi dengan wajah penuh air mata dan rasa cemas. Nenek korban bernama Yulidar tampak duduk dengan tatapan kosong menatap hamparan laut yang luas. Ia mengaku sama sekali tidak tahu kalau cucu kesayangannya pergi bermain ke pantai ini.
Kabar duka tersebut baru sampai ke telinga keluarga sekitar pukul empat sore waktu setempat. Yulidar terus memanjatkan doa agar sang cucu segera ditemukan dalam kondisi selamat apa pun keadaannya. Cucu kesayangannya merupakan pelajar kelas tiga di SDN 06 Padang yang sangat rajin.
Tim SAR Gabungan telah mengerahkan enam belas personel serta dua unit perahu karet evakuasi. Proses penyisiran dilakukan sejak siang hari hingga matahari mulai tenggelam di ufuk barat sana. Namun, hingga pukul enam sore, keberadaan Rasyid dan Zafran masih belum membuahkan hasil positif.
Komandan Regu Kantor SAR Kelas A Padang, Tri Desyu, menghentikan sementara pencarian langsung malam. Keputusan tersebut diambil sesuai dengan Standar Operasional Prosedur keamanan bagi seluruh personel tim penyelamat. Pencarian secara resmi akan dilanjutkan kembali pada hari Minggu pagi sekitar pukul tujuh tiga puluh.
Masyarakat dilarang keras turun ke laut melakukan kontak langsung dengan air selama malam hari. Pemantauan hanya diperbolehkan dari pinggir pantai dengan bantuan alat pencahayaan yang cukup memadai saja. Risiko keselamatan menjadi alasan utama pelarangan warga mendekati bibik laut yang sedang pasang tersebut.
Beberapa pemuda setempat juga sempat mencoba menolong, namun kaki mereka terluka akibat karang tajam. Kondisi bawah laut yang penuh bebatuan karang memang menjadi kendala serius bagi tim evakuasi. Air laut yang keruh juga mempersulit pandangan personel saat melakukan penyelaman di sekitar lokasi.
Tragedi ini menjadi pengingat keras bagi para orang tua untuk selalu mengawasi kegiatan anak. Pantai di belakang kampus ini memang relatif sepi dan tidak memiliki petugas pengawas pantai. Semoga proses pencarian besok pagi membuahkan hasil terbaik bagi keluarga yang sedang berduka cita. R-02

