Riau Siaga Karhutla, Kemenhut Genjot Penyemaian Awan Hingga 22 April
Petugas memuat garam ke dalam pesawat untuk Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) di Lanud Roesmin Nurjadin, Pekanbaru. (ist)
JAKARTA, SabangMerauke News - Langit Riau tak lagi sekadar biru, kini disusupi operasi sunyi penjinak karhutla ekstrem. Upaya ini bergerak cepat saat kemarau datang lebih awal. Kementerian Kehutanan menggelar operasi modifikasi cuaca untuk menekan ancaman kebakaran hutan dan lahan.
Operasi berlangsung sejak Selasa, 14 April 2026 hingga Selasa, 22 April 2026 mendatang. Langkah ini muncul setelah sinyal bahaya karhutla meningkat sejak Februari melanda wilayah Riau. Lahan gambut kering berubah menjadi bom waktu, siap menyala saat panas menyentuh permukaan rapuh.
Direktur Pengendalian Kebakaran Hutan Kemenhut, Thomas Nifinlur, memimpin strategi udara tersebut secara intensif. “Operasi berjalan sembilan hari dengan target peningkatan kelembapan lahan melalui pembasahan intensif,” ujarnya. Ia menambahkan bahwa penyemaian awan menjadi kunci utama untuk memperlambat kemunculan titik api berbahaya.
Hingga Rabu, 15 April 2026, dua penerbangan telah menyemai 1.600 kilogram garam ke awan. Area operasi mencakup Kabupaten Siak, Bengkalis, Kepulauan Meranti, serta Kota Dumai yang rawan. Langkah ini adalah bagian awal dari total empat belas sorti yang dirancang selama operasi berlangsung.
Penyemaian garam ke awan bukan sekadar eksperimen, melainkan teknik terukur berbasis sains atmosfer modern. Proses ini memicu hujan buatan agar kelembapan tanah tetap tinggi selama kemarau berlangsung panjang. Embung, kanal, serta cadangan air alami ikut diisi untuk memperkuat sistem pertahanan alami lahan.
Riau dipilih sebagai fokus karena sejarah panjang karhutla yang sulit dikendalikan di lahan gambut. Karakter tanah menyimpan bara di bawah permukaan membuat api sulit dipadamkan secara konvensional. Api kecil bisa berubah menjadi bencana asap lintas provinsi dalam hitungan hari saja.
Pemerintah Provinsi Riau menetapkan status siaga darurat sejak Minggu, 2 Februari 2026 lalu. Status ini berlaku hingga Senin, 30 November 2026, menandai panjangnya ancaman sepanjang tahun berjalan. Keputusan tersebut tercatat dalam regulasi resmi bernomor KTPS 102/11/2026 yang memperkuat kesiapsiagaan daerah.
Data nasional menunjukkan luas karhutla Januari hingga Maret 2026 mencapai 55.324 hektare lebih. Riau menyumbang 8.555 hektare, menempatkannya sebagai wilayah rawan kedua setelah Kalimantan Barat. Kepulauan Riau juga masuk daftar dengan 4.167 hektare lahan terbakar sepanjang periode awal tahun.
“Pengendalian kini fokus pada pencegahan, bukan hanya pemadaman setelah api muncul,” kata Thomas Nifinlur, Kamis, 16 April 2026. Pendekatan ini mengubah pola lama yang reaktif menjadi strategi preventif berbasis data lapangan terkini. Operasi modifikasi cuaca menjadi ujung tombak sejak dikembangkan secara serius pada tahun 2015 lalu.
Selain operasi udara, patroli darat terus digencarkan menyisir wilayah rawan setiap hari tanpa henti. Edukasi masyarakat juga diperluas melalui kampanye tentang bahaya pembakaran lahan saat kondisi sangat kering. Kelompok Masyarakat Peduli Api dibentuk untuk menjaga wilayah dari potensi kebakaran sejak dini.
Direktur Operasional Modifikasi Cuaca, Budi Harsoyo, menjelaskan pentingnya waktu pelaksanaan operasi tersebut. “OMC ideal dilakukan menjelang kemarau agar kelembapan tanah tetap stabil menghadapi panas ekstrem,” ujarnya. Ia menegaskan dukungan armada pesawat menjadi faktor penting keberhasilan operasi tersebut secara menyeluruh.
Saat ini tiga armada pesawat dikerahkan untuk menyemai awan secara paralel di beberapa wilayah berbeda. Pembagian area semai dilakukan agar cakupan operasi lebih luas dan merata di seluruh titik rawan. Jika potensi awan masih tersedia, operasi bisa dilanjutkan dengan dukungan sektor swasta ke depan.
Menteri Kehutanan, Raja Juli Antoni, juga menyoroti penurunan signifikan titik panas dalam beberapa pekan. Dari ribuan titik, angka kini turun menjadi ratusan berkat kerja kolektif lintas lembaga negara. “Penurunan ini hasil kolaborasi kuat antara TNI, Polri, BNPB, dan Manggala Agni,” ujarnya, Jumat, 17 April 2026.
Meski demikian, ancaman belum sepenuhnya hilang karena cuaca ekstrem masih mengintai wilayah rawan. Penambahan helikopter serta armada water bombing direncanakan untuk memperkuat operasi udara mendatang. Mobilisasi pasukan darat juga dipersiapkan untuk wilayah Rokan Hulu dan Rokan Hilir yang rawan.
Di sisi lain, hujan alami membantu menekan kebakaran di beberapa wilayah seperti Kota Pekanbaru. BPBD mencatat nihil kebakaran baru sejak awal April karena intensitas hujan meningkat secara signifikan. Namun, kewaspadaan tetap dijaga karena bara dalam tanah bisa menyala kembali saat cuaca berubah panas.
Kepala Pelaksana BPBD Pekanbaru, Iwa Gemino, menyebut kondisi relatif terkendali dalam dua pekan terakhir.
“Sejak pemadaman terakhir di Jalan Pramuka, tidak ada laporan kebakaran baru,” ujarnya, Jumat, 17 April 2026. Ia menegaskan faktor cuaca mendung menjaga kelembapan gambut tetap stabil dalam periode tersebut.
Total luas lahan terbakar di Pekanbaru sejak awal tahun mencapai 32,9 hektare dalam 58 kejadian. Angka tersebut menjadi pengingat ancaman tetap nyata meski kondisi sementara terlihat lebih tenang. Langkah preventif terus dilakukan untuk memastikan tidak ada bara tersisa di bawah permukaan tanah.
Pemerintah kembali mengingatkan larangan membuka lahan menggunakan metode pembakaran yang berisiko tinggi. Sanksi pidana menanti pelanggar yang tetap nekat membakar lahan saat kondisi sangat mudah terbakar. Pengalaman masa lalu saat asap menutup langit menjadi pelajaran keras yang tak ingin terulang.
Operasi modifikasi cuaca menjadi simbol perang sunyi melawan api yang tak pernah benar-benar padam. Langit, tanah, dan manusia kini terhubung dalam satu strategi menghadapi ancaman lingkungan kompleks. Riau berdiri di garis depan, menunggu hasil dari pertarungan antara panas dan hujan buatan. R-02

