Hanya Tersisa 11 Hari! Stok Gas Nasional Lampu Kuning, Pemerintah Larang Panic Buying
Seorang warga membeli gas LPG 3 kg dalam jumlah besar. Kementerian ESDM mencatat stock LPG nasional tinggal 11 hari saja. (antarafoto)
JAKARTA, SabangMerauke News - Stok liquefied petroleum gas (LPG) nasional menyentuh batas kritis. Cadangan hanya tinggal 11 hari, memicu kekhawatiran publik di tengah tekanan global energi. Ketergantungan impor yang tinggi membuat posisi energi domestik semakin rentan terhadap gejolak internasional.
Kementerian ESDM mencatat stok LPG nasional berada di kisaran 11 hari kebutuhan konsumsi. Angka ini sedikit di bawah ambang batas aman nasional 11,4 hari. Kondisi ini memicu kewaspadaan meski pemerintah menyatakan pasokan masih dalam kategori terkendali.
Direktur Jenderal Migas Kementerian ESDM, Laode Sulaeman, memastikan kondisi energi tetap aman. “Stok per jenis komoditas berbeda-beda, tapi semua dalam kondisi aman,” ujar Laode Sulaeman di Jakarta, Rabu malam, 15 April 2026.
Laode mengingatkan masyarakat untuk tidak melakukan pembelian berlebihan yang dapat memicu kelangkaan. "Kami mengimbau menggunakan bahan bakar secara wajar dan bijak, tidak panic buying,” katanya. Ia menilai lonjakan permintaan mendadak sering memperparah tekanan distribusi di berbagai wilayah.
Tekanan global menjadi faktor utama yang membayangi stabilitas pasokan LPG nasional saat ini. Ketegangan geopolitik Timur Tengah memicu gangguan distribusi energi dunia, termasuk jalur vital. Penutupan Selat Hormuz mempersempit aliran energi global dan berdampak langsung pada Indonesia.
Indonesia masih sangat bergantung pada impor LPG untuk memenuhi kebutuhan domestik setiap hari. Data menunjukkan sekitar delapan puluh tiga persen kebutuhan LPG dipenuhi dari pasokan luar negeri. Produksi domestik belum mampu mengejar kebutuhan yang terus meningkat setiap tahun.
Ditjen Migas mencatat impor LPG Januari hingga Februari 2026 mencapai 1,3 juta metrik ton. Total kebutuhan nasional dalam periode yang sama mencapai 1,56 juta metrik ton. Produksi dalam negeri hanya sekitar 130 ribu metrik ton selama periode tersebut.
Mayoritas impor LPG berasal dari Amerika Serikat dengan porsi dominan nasional. Negara lain seperti Uni Emirat Arab dan Arab Saudi turut memasok kebutuhan energi Indonesia. Qatar, Australia, serta Kuwait juga berkontribusi dalam rantai pasok LPG nasional.
Ketergantungan tinggi terhadap impor membuat harga LPG domestik sangat sensitif terhadap gejolak global.Kenaikan harga mulai terasa di tingkat konsumen, terutama untuk LPG nonsubsidi ukuran 12 kilogram. Warga di berbagai daerah mulai melaporkan kenaikan harga meski stok masih tersedia.
Elly, warga Jakarta Selatan, membeli LPG 12 kilogram seharga Rp210.000. Harga tersebut naik dari kisaran Rp200 ribu dalam beberapa waktu terakhir. “Saya beli kemarin, naik sedikit, tapi stok masih ada,” ujar Elly, Rabu 15 April 2026.
Kenaikan harga tidak diikuti oleh kelangkaan signifikan di tingkat pengecer resmi saat ini. Distribusi masih berjalan normal meski tekanan harga mulai terasa di kalangan masyarakat. Kondisi ini menciptakan kekhawatiran baru terutama bagi rumah tangga dengan konsumsi rutin tinggi.
Dwi, warga Tangerang Selatan, mengaku membeli LPG dengan harga serupa pada awal April 2026. “Masih normal, masih diantar ke rumah seperti biasa,” ujar Dwi. Ia menilai distribusi tetap lancar meski harga mulai bergerak naik perlahan.
Musyarofah, ibu rumah tangga, berharap harga LPG tetap stabil untuk kebutuhan sehari-hari. “Gas kebutuhan utama, kenaikan harga langsung terasa,” kata Musyarofah. Ia mengaku pengeluaran rumah tangga meningkat akibat kenaikan harga energi tersebut.
Pemerintah merespons tekanan ini melalui berbagai kebijakan untuk menjaga stabilitas pasokan LPG nasional. Salah satu langkah dilakukan dengan mengalihkan pasokan LPG industri ke kebutuhan masyarakat. Kebijakan ini diharapkan mampu menahan tekanan distribusi di tengah kondisi global yang tidak menentu.
Sekretaris Ditjen Migas, Rizwi Jilanisaf Hisjam, menjelaskan strategi tersebut. “Kami memberikan prioritas produksi kilang swasta untuk kebutuhan masyarakat melalui Pertamina,” ujarnya. Langkah ini bertujuan memperkuat distribusi LPG ke sektor rumah tangga secara cepat.
Peran Pertamina Patra Niaga menjadi krusial dalam menjaga distribusi nasional. Perusahaan ini memastikan pasokan tetap tersedia di tengah tekanan global energi saat ini. Distribusi terus dioptimalkan agar tidak terjadi kekosongan di berbagai wilayah Indonesia.
Corporate Secretary Pertamina Patra Niaga, Roberth MV Dumatubun, menegaskan komitmen tersebut. “Stok dijaga agar cukup dan gerakan hemat energi terus digaungkan,” ujar Roberth MV Dumatubun. Ia juga mengingatkan pentingnya efisiensi energi dalam menghadapi situasi global saat ini.
Menteri ESDM, Bahlil Lahadalia, menyebut masa sulit LPG mulai terlewati. Ia menyatakan kondisi pasokan berangsur membaik sejak awal April 2026 lalu. Tambahan pasokan dari luar negeri akan segera memperkuat cadangan nasional.
“Cadangan sudah di atas sepuluh hari, kapal tambahan segera masuk,” kata Bahlil Lahadalia. Pemerintah terus mempercepat kedatangan kargo untuk menjaga kestabilan pasokan nasional. Langkah ini diharapkan mampu menahan gejolak harga dalam waktu dekat.
Meski demikian, posisi stok masih berada di bawah batas minimum nasional saat ini. Kondisi tersebut menuntut pengelolaan distribusi yang lebih ketat dan efisien ke depan. Keseimbangan antara pasokan dan konsumsi menjadi faktor penentu stabilitas energi nasional.
Pengamat energi menilai situasi ini mencerminkan kerentanan sistem energi berbasis impor tinggi. Ketergantungan luar negeri membuat kebijakan domestik terbatas saat terjadi tekanan global besar. Diversifikasi energi menjadi solusi jangka panjang untuk memperkuat ketahanan nasional.
Dalam jangka pendek, stabilitas bergantung pada kelancaran impor dan distribusi dalam negeri. Pemerintah juga harus menjaga kepercayaan pasar agar tidak terjadi kepanikan berlebihan. Koordinasi lintas sektor menjadi kunci menghadapi tekanan energi global saat ini.
Masyarakat diimbau tetap rasional dalam menggunakan energi untuk menjaga stabilitas bersama. Penggunaan efisien dapat membantu mengurangi tekanan terhadap pasokan nasional secara keseluruhan. Kesadaran kolektif menjadi faktor penting dalam menjaga keseimbangan energi nasional. R-02

