Dua Skema PP-PTS 2026 Resmi Dibuka, Kampus Swasta Berebut Dana Besar
Direktur Kelembagaan Diktisaintek, Prof Dr Mukhamad Najib. Foto : Istimewa
Jakarta, SABANGMERAUKE NEWS - Program Penguatan Perguruan Tinggi Swasta 2026 resmi diluncurkan Kemdiktisaintek dengan dua skema strategis. Bantuan hingga Rp650 juta per kampus disiapkan guna meningkatkan kualitas pembelajaran, fasilitas laboratorium, serta daya saing lulusan menuju standar global yang semakin kompetitif.
Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi meluncurkan PP-PTS 2026 dengan dua skema bantuan.
Program ini menyasar peningkatan kualitas pembelajaran serta penguatan fasilitas pendidikan perguruan tinggi swasta nasional. Skema baru dihadirkan untuk menjawab kebutuhan kampus menghadapi persaingan global yang semakin ketat. Pemerintah menargetkan lulusan PTS memiliki daya saing tinggi serta relevansi kuat terhadap kebutuhan industri.
Direktur Kelembagaan Diktisaintek, Prof Dr Mukhamad Najib, menjelaskan perbedaan fokus dua skema tersebut. Skema A berorientasi penyediaan peralatan dasar penunjang pembelajaran di berbagai bidang keilmuan strategis. Skema B diarahkan untuk memperkuat keunggulan spesifik kampus agar mampu bersaing secara global.
“Bantuan skema B ditujukan meningkatkan keunggulan spesifik kampus agar mampu bersaing global,” ujar Najib. Pernyataan tersebut disampaikan saat paparan resmi di Gedung C Kemdiktisaintek Jakarta pada Senin. Ia menekankan pentingnya diferensiasi program agar setiap kampus memiliki identitas keunggulan yang jelas.
Skema A menawarkan bantuan hingga Rp500 juta per kampus untuk pengadaan fasilitas dasar pembelajaran. Bantuan mencakup peralatan teknologi informasi, desain komunikasi, serta laboratorium IPA dan kesehatan. Selain itu, tersedia dukungan peralatan laboratorium teknik serta pengolahan pangan untuk kebutuhan vokasional.
Sementara itu, skema B menyediakan bantuan hingga Rp650 juta per kampus dengan fokus teknologi lanjutan. Bantuan diarahkan pada penguatan laboratorium spesifik yang mendukung keunggulan akademik masing-masing perguruan tinggi. Peralatan bersifat advanced diprioritaskan guna mendukung inovasi dan riset berbasis kebutuhan industri.
“Nah skema B berfokus pada peralatan laboratorium advanced yang memperkuat keunggulan kampus,” kata Najib. Ia menambahkan fasilitas tersebut akan mendorong peningkatan kualitas riset serta inovasi mahasiswa. Penguatan ini diharapkan mempercepat transformasi perguruan tinggi menuju standar internasional yang kompetitif.
Indikator kinerja skema A mencakup penerapan metode pembelajaran berbasis kasus serta proyek kolaboratif mahasiswa. Selain itu, tingkat kelulusan mata kuliah serta kepuasan mahasiswa menjadi tolok ukur evaluasi utama. Keketatan seleksi mahasiswa baru juga menjadi indikator penting dalam peningkatan kualitas institusi pendidikan.
Untuk skema B, indikator kinerja difokuskan pada kegiatan pengabdian kepada masyarakat serta kemitraan strategis. Jumlah kerja sama dengan mitra eksternal menjadi ukuran penting dalam menilai dampak program. Pemanfaatan hasil kegiatan bagi masyarakat juga menjadi indikator keberhasilan implementasi program tersebut.
Najib menegaskan program ini menargetkan peningkatan akses, kualitas, serta relevansi pendidikan tinggi swasta nasional. Kapasitas kampus diharapkan meningkat sehingga mampu menampung lebih banyak mahasiswa berkualitas unggul. Kualitas pembelajaran juga didorong melalui integrasi teknologi serta fasilitas modern yang semakin berkembang.
“Target utama program ini meningkatkan akses, kualitas, serta relevansi pendidikan tinggi swasta nasional,” tegas Najib. Informasi lengkap terkait persyaratan program dapat diakses melalui laman resmi PP-PTS Kemdiktisaintek. Pemerintah optimistis program ini mempercepat transformasi pendidikan tinggi menuju standar global berkelanjutan.(R-03)

