Enam Kali Demo, Warga Tesso Nilo Siap Menginap di Jalan Sampai Presiden Turun
Aksi massa dari Aliansi Mahasiswa dan Masyarakat Pelalawan (AMMP) di Jalan Cut Nyak Dien, Pekanbaru, Senin, 13 April 2025. (ist)
RIAU, SabangMerauke News - Konflik lahan kawasan Taman Nasional Tesso Nilo (TNTN) kini memasuki babak baru yang makin panas. Aliansi Mahasiswa dan Masyarakat Pelalawan (AMMP) resmi menduduki jalanan di Pekanbaru. Mereka menuntut kejelasan nasib setelah rencana relokasi pemerintah pusat dianggap gagal total.
Massa aksi memblokade akses Jalan Cut Nyak Dien menuju Jalan Ahmad Yani, Pekanbaru. Mereka mendirikan tenda-tenda sebagai wujud keprihatinan. Kemacetan panjang tidak terhindari akibat penutupan jalur utama pusat pemerintahan Provinsi Riau tersebut.
"Relokasi pertama saja sudah gagal total karena daerah tujuan menolak kami," tegas Wandri Syaputra Simbolon, Koordinator Aksi . Dia menyuarakan keresahan warga yang merasa dibuang tanpa ada kepastian. Pemerintah pusat dituding tidak memahami kondisi lapangan secara utuh mengenai penolakan warga setempat.
Status warga sebagai penghuni ilegal kawasan hutan lindung juga memicu kemarahan massa aksi. Wandri menyayangkan label negatif yang disematkan negara kepada masyarakat yang menetap puluhan tahun. Menurutnya, administrasi kependudukan warga sangat lengkap layaknya warga negara Indonesia pada umumnya.
"Warga di sini punya KTP dan punya KK, jangan asal samaratakan," cetus Wandri dengan nada tinggi. Ia merasa aneh jika administrasi negara terbit, namun status tanah terus dipermasalahkan. Ketimpangan informasi ini membuat keresahan sosial makin meluas di kalangan penduduk Tesso Nilo.
Pemerintah pusat diminta segera menghentikan retorika relokasi tanpa adanya skema lahan pengganti yang jelas. Tanpa kejelasan, warga hanya akan menjadi bola pingpong antarinstansi yang tidak berujung. Kondisi ekonomi masyarakat kini semakin terjepit akibat ketidakpastian status hukum lahan garapan mereka.
Aksi kali ini tercatat sebagai demonstrasi keenam kalinya yang digelar di tingkat Provinsi Riau. Wandri mengonfirmasi bahwa surat pemberitahuan aksi sudah masuk untuk durasi satu pekan penuh. Massa bertekad bertahan dari tanggal 13 hingga Sabtu, 18 April 2026 mendatang.
"Kami sudah enam kali datang ke Riau, tapi belum ada kepastian," keluh Wandri saat ditemui. Ia menegaskan tidak akan membubarkan barisan sebelum tuntutan mereka dipenuhi secara konkret. Keinginan utama massa adalah melakukan pertemuan daring langsung dengan pihak Istana Negara.
Logistik dan tenda sudah dipersiapkan secara matang untuk menghadapi dinginnya malam di trotoar. Kehadiran mereka merupakan bentuk akumulasi kekecewaan terhadap lambatnya respons Pemerintah Provinsi Riau. Jalur hukum dan audiensi sebelumnya dinilai hanya menghasilkan janji manis tanpa realisasi nyata.
"Kami tunggu Pak Presiden menemui kami lewat layar atau langsung," tambah Wandri penuh harap. Rakyat ingin menyampaikan langsung beban hidup masyarakat Tesso Nilo kepada pemimpin tertinggi negara. Harapannya, Presiden bisa memberikan solusi yang lebih manusiawi daripada sekadar pemindahan paksa warga.
Massa menuntut penyelamatan masyarakat sesuai amanat Pasal 33 Ayat 3 UUD 1945 secara utuh. Bumi, air, dan kekayaan alam harus dipergunakan sebesar-besarnya untuk kemakmuran rakyat, bukan pengusiran. Mereka merasa hak dasar sebagai manusia telah terabaikan demi kepentingan konservasi yang kaku.
Pantauan lapangan menunjukkan aktivitas massa mulai meningkat sejak pagi hari dengan pengawalan ketat kepolisian. Spanduk tuntutan membentang luas menutupi pagar gedung pemerintahan sebagai bentuk protes keras warga. Belum ada perwakilan pemerintah yang menemui massa hingga menjelang sore hari yang terik.
Ketegangan sempat terjadi saat petugas mencoba membuka blokade jalan yang mulai mengganggu lalu lintas. Namun, soliditas massa AMMP berhasil mempertahankan posisinya di tengah aspal jalanan Pekanbaru. Mereka berjanji tetap tertib selama tidak ada tindakan represif dari aparat penegak hukum.
Masyarakat Tesso Nilo kini hanya bisa menunggu keajaiban dari Jakarta untuk mengakhiri penderitaan mereka. Jika aspirasi tidak didengar, gelombang massa lebih besar diprediksi akan menyusul dari Kabupaten Pelalawan. Tenda-tenda di Cut Nyak Dien menjadi simbol perlawanan rakyat kecil melawan ketidakpastian hukum. R-02
.
BERITA TERKAIT :
-
Liga 2 Pegadaian Championship
Sempat Tertinggal, PSPS Mengamuk di Kandang, Persikad Tak Berkutik

