Ibu Masih Dipenjara, Dua Balita PMI Terusir dari Malaysia Hanya Ditemani Petugas Konsuler
Sebanyak 281 PMI dideportasi dari Malaysia tiba di Batam melalui jalur laut (ist)
Kepri, SABANGMERAUKE NEWS - Harta paling berharga bagi anak adalah pelukan hangat dari orang tua kandung. Namun, kenyataan pahit harus ditelan dua balita dalam rombongan deportasi asal Malaysia, Jumat kemarin, 10 April 2026. Kasih sayang orang tua kini terpaksa digantikan oleh pendampingan dingin dari petugas konsuler negara.
Pelabuhan Batam menjadi saksi bisu penderitaan anak-anak tak berdosa itu. KJRI Johor Bahru memfasilitasi kepulangan lima anak kecil yang terjebak dalam masalah hukum imigrasi. Rinciannya meliputi dua anak laki-laki serta tiga anak perempuan yang kini berstatus tanpa pendamping.
Dua anak balita terpaksa dipulangkan sendirian karena sang ibu masih menjalani proses hukum penjara. Pihak konsulat memastikan anak-anak ini mendapatkan perhatian khusus guna meminimalkan dampak psikologis yang berat. Misi kemanusiaan ini menjadi fokus utama di tengah pemulangan dua ratus delapan puluh satu warga.
"Dua balita dipulangkan karena ibunya masih menjalani proses hukum di Malaysia saat ini juga," ujar Pelaksana Fungsi Konsuler KJRI Johor Bahru, Leny Marliani, melalui keterangan tertulis Sabtu, 11 April 2026. Leny menegaskan pendampingan khusus dilakukan guna memastikan kesehatan mental anak-anak tetap terjaga selama perjalanan.
Terdapat pula seorang anak terlantar yang sebelumnya dilaporkan hilang melalui konter pengaduan resmi kantor. Anak tersebut akhirnya berhasil ditemukan dan dipulangkan guna berkumpul kembali bersama keluarga besar di Indonesia. Keberadaan anak tanpa orang tua dalam pusat tahanan menjadi perhatian serius bagi pemerintah pusat.
Tahap pertama pemulangan pada 9 April kemarin membawa 131 orang melintasi perbatasan laut internasional. Feri Citra Regency mengangkut rombongan kelompok rentan yang membutuhkan perhatian medis serta pengawasan ekstra ketat. Sembilan orang dari tempat singgah sementara ikut masuk dalam kategori kelompok dengan risiko tinggi.
Investigasi mendalam mengungkap fakta menyedihkan mengenai kondisi mental anak-anak yang terpisah dari ibunda mereka. Ruang kabin feri menjadi saksi mata tangisan bocah yang mencari keberadaan sosok pelindung utama mereka. Petugas konsuler harus berperan ganda sebagai penjaga sekaligus penghibur selama pelayaran menuju Pelabuhan Batam.
"Kami memastikan mereka mendapat pendampingan selama perjalanan agar meminimalkan dampak trauma perpisahan tersebut," lanjut Leny Marliani yang mendampingi langsung proses serah terima anak-anak di dermaga kedatangan internasional. Setibanya di Tanah Air, anak-anak tersebut diserahkan kepada Pos Pelayanan Pelindungan Pekerja Migran Indonesia.
Sebanyak 1.704 warga negara Indonesia tercatat telah dideportasi sepanjang tahun dua ribu dua puluh enam. Banyaknya orang yang tidak memiliki dokumen kependudukan memperlambat proses penerbitan Surat Perjalanan Laksana Paspor. Anak-anak yang lahir di pusat tahanan sering kali tidak memiliki akta lahir maupun identitas resmi.
Kondisi ini menyulitkan petugas dalam melakukan verifikasi data kependudukan secara cepat dan juga akurat. Anak-anak pahlawan devisa ini menjadi korban paling nyata dari ketidakteraturan administrasi para pekerja migran. Pemerintah daerah asal seperti Nusa Tenggara Barat, Riau dan Aceh diminta memberikan perhatian pasca kepulangan.
Seorang pekerja migran yang sedang dalam kondisi sakit parah juga ikut dalam rombongan kepulangan. Akses layanan medis segera diberikan setibanya kapal bersandar di wilayah hukum Kepulauan Riau Indonesia. Sinergi lintas instansi diperlukan guna menangani kasus kompleks yang melibatkan anak-anak di bawah umur.
Dinamika lapangan yang keras memaksa setiap warga untuk selalu mematuhi aturan hukum negara jiran. Risiko terpisah dari keluarga tercinta merupakan harga mahal yang harus dibayar akibat pelanggaran imigrasi. KJRI Johor Bahru mengimbau agar para orang tua tidak membawa anak-anak ke jalur ilegal.
Fasilitas Tempat Singgah Sementara milik kantor konsulat kini menampung banyak kasus kelompok rentan baru. Misi pemulangan tahap kedua pada 10 April membawa 150 warga tambahan menuju tanah air tercinta. Program kepulangan ini merupakan hasil kerjasama erat dengan Jabatan Imigresen Malaysia pusat di Putrajaya.
Anak-anak tersebut kini menanti kepastian kapan orang tua mereka bisa kembali pulang ke rumah. Pendataan oleh BP3MI menjadi langkah awal sebelum mereka dikembalikan ke pelukan keluarga besar di daerah. Dukungan psikososial dari lingkungan sekitar sangat dibutuhkan guna menyembuhkan luka batin anak-anak deportan ini.
Perjalanan laut dari Pelabuhan Pasir Gudang menuju Batam menyisakan kenangan kelam bagi para penyintas cilik. Negara berjanji akan terus hadir memberikan pelindungan maksimal bagi setiap warga di luar negeri pusat. Semoga tidak ada lagi anak Indonesia yang harus pulang tanpa dekapan hangat dari orang tua.
Masa depan anak-anak ini tetap harus diperjuangkan meskipun mereka memulai hidup dari garis kemiskinan. Pendidikan dan kesehatan menjadi hak dasar yang tidak boleh hilang akibat kesalahan masa lalu orang tua. Batam hanya menjadi pintu transit menuju kehidupan baru yang lebih layak di Bumi Pertiwi. R-02
BERITA TERKAIT :
-
Hari Anak Belum Sempat Lahir Internasional
Jangan Asal Buang! Pesan Haru untuk Janin yang Belum Sempat Menatap Dunia

