Lahiran Sendiri Berujung Maut, Kisah Pilu Perantau Nias di Kos Batam
Kasat Reskrim Polresta Barelang, Kompol Debby Tri Andrestian
Kepri, SABANGMERAUKE NEWS - Kasus ibu muda tewas di kos Batam bersama bayi masih misterius. Polisi mendalami dugaan persalinan mandiri yang berujung pada pendarahan hebat hingga kematian tragis. Temuan bayi dalam lemari memicu perhatian luas dan penyelidikan intensif aparat.
Peristiwa terjadi di Perum Pendawa Asri, Buliang, Kecamatan Batu Aji, saat dini hari mencekam. Korban berinisial JPB berusia 21 tahun ditemukan tidak bernyawa di kamar mandi kos. Kondisi tubuh korban menunjukkan tanda darurat medis setelah proses persalinan tanpa bantuan tenaga kesehatan.
Direktur Kriminal Umum Polda Kepri, Kombes Pol Ronni Bonic, menyampaikan penyelidikan masih berjalan. Sejumlah saksi telah dimintai keterangan untuk mengurai kronologi sebelum kejadian tragis tersebut. Rekaman CCTV juga diperiksa guna memastikan aktivitas korban sebelum ditemukan meninggal dunia.
“Penyidik memeriksa saksi termasuk pacar korban dan mendalami seluruh aktivitas sebelum kejadian,” ujar Kombes Pol Ronni Bonic, Jumat, 10 April 2026. Ia menambahkan bahwa hasil pemeriksaan awal belum menemukan tanda kekerasan pada tubuh korban. Fokus penyelidikan mengarah pada kondisi medis saat persalinan berlangsung.
Korban diketahui berstatus lajang dan merupakan perantau asal Nias, Sumatera Utara. Di Batam, korban memiliki keluarga, namun tidak tinggal dalam satu rumah. Kondisi ini membuat korban menjalani masa kehamilan tanpa banyak diketahui lingkungan sekitar.
Kapolsek Batu Aji, AKP Bayu Rizki, mengungkap dugaan korban menyembunyikan kehamilan dari orang terdekat. Bahkan saat perubahan fisik mulai terlihat, korban tetap menolak pemeriksaan medis. Upaya menyembunyikan kondisi ini menjadi bagian penting dalam penyelidikan polisi.
“Korban diduga menyembunyikan kehamilan. Ini masih kami dalami melalui keterangan saksi,” kata AKP Bayu Rizki. Ia menjelaskan korban sempat menghubungi pacar pada malam kejadian. Panggilan tersebut tidak terjawab karena sang pacar sedang bekerja.
Sebelum ditemukan meninggal, korban sempat mengeluh sakit perut pada Senin, 6 April 2026, sore. Ia mengirim pesan meminta obat kepada pacarnya melalui aplikasi percakapan. Keluhan tersebut diduga berkaitan dengan proses persalinan yang terjadi tanpa penanganan medis.
Sekitar pukul 22.30 WIB, korban tidak dapat dihubungi sehingga memicu kekhawatiran rekan dekatnya. Saksi kemudian mendatangi kamar kos nomor 204 yang ditempati korban. Pintu kamar ditemukan sedikit terbuka dalam kondisi mencurigakan.
Saat diperiksa, korban tidak berada di dalam kamar utama. Saksi kemudian menuju kamar mandi setelah tidak mendapat respons. Korban ditemukan terlentang di lantai kamar mandi dengan kondisi mengenaskan.
Korban sempat dibawa ke Rumah Sakit Graha Hermine sekitar pukul 23.40 WIB. Namun, nyawa tidak tertolong akibat kondisi pendarahan yang sudah parah. Dugaan awal mengarah pada komplikasi persalinan tanpa bantuan tenaga medis.
Kasat Reskrim Polresta Barelang, Kompol Debby Tri Andrestian, mengungkap temuan penting dalam penyelidikan. Polisi menemukan bayi laki-laki di dalam lemari kamar korban. Bayi tersebut terbungkus handuk dan disimpan di bagian bawah lemari.
“Bayi ditemukan di dalam lemari, ini menjadi bagian penting dalam pengungkapan kasus,” ujar Kompol Debby Tri Andrestian. Ia menambahkan berat bayi diperkirakan sekitar 3,2 kilogram. Kondisi tersebut menunjukkan bayi siap dilahirkan dalam waktu dekat.
Tim Inafis langsung melakukan olah tempat kejadian perkara setelah penemuan tersebut. Bercak darah ditemukan di tempat tidur, lantai, serta ember berisi air bercampur darah. Temuan ini memperkuat dugaan proses persalinan berlangsung dalam kondisi darurat tanpa bantuan.
Kabid Humas Polda Kepri, Kombes Pol Nona Pricillia Ohei, menyampaikan proses autopsi masih berjalan. Hasil medis menjadi kunci untuk memastikan penyebab kematian ibu dan bayi. Polisi mengimbau masyarakat menunggu hasil resmi penyelidikan.
“Penyebab kematian masih menunggu hasil pemeriksaan tim medis dan penyidik,” kata Kombes Pol Nona Pricillia Ohei, Rabu 8 April 2026. Ia menegaskan belum ada kesimpulan terkait unsur pidana dalam kasus tersebut. Semua kemungkinan masih terbuka dalam proses penyelidikan.
Kasus ini menjadi sorotan karena menyangkut kondisi sosial dan kesehatan reproduksi perempuan muda. Minimnya akses bantuan medis diduga memperparah situasi darurat yang terjadi. Polisi terus mengumpulkan bukti untuk memastikan kronologi secara utuh.
Penyelidikan masih berlanjut dengan fokus pada faktor medis dan latar belakang korban. Aparat berupaya mengungkap fakta tanpa spekulasi agar hasil akurat. Tragedi ini menyisakan pertanyaan besar yang belum sepenuhnya terjawab hingga kini. R-02

