Lulus Universitas Favorit Tanpa Tes, Siswa Padang Ini Malah Masuk RSJ Akibat Bullying
Ilustrasi korban perundungan di sekolah. Foto: SM News/Created by AI
Sumbar, SABANGMERAUKE NEWS - Nasib tragis menimpa BM, remaja tangguh yang baru saja mengukir prestasi gemilang. Siswa SMA Pertiwi 2 Padang ini resmi diterima di jurusan Sastra Indonesia Universitas Andalas. Pengumuman Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi tersebut muncul dua hari sebelum jiwanya terguncang hebat.
Kabar kelulusan seharusnya menjadi momen bahagia bagi BM, siswa SMA Pertiwi 2 Padang. Ia diterima di jurusan Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Andalas. Namun suasana bahagia itu tidak pernah benar-benar hadir dalam dirinya.
Ibunya, Muswan Tiara, mengingat momen ketika anaknya melihat hasil seleksi tersebut. “Dia bilang, benar lulus atau tidak, tanpa ekspresi senang,” ujar Muswan Tiara, Jumat, 10 April 2026. Tidak ada senyum, tidak ada pelukan, hanya tatapan kosong yang membekas.
Tiara justru menangis bahagia saat mengetahui anaknya lulus perguruan tinggi negeri. Ia tidak menyangka anaknya mampu menembus seleksi prestasi tanpa catatan akademik menonjol. Menurut Tiara, BM dikenal tekun dan tidak pernah mengeluh soal sekolah.
Setiap pagi, BM bangun setelah subuh dan langsung bersiap berangkat sekolah. Semangat itu menjadi kebanggaan tersendiri bagi keluarga kecil tersebut. Sejak ayahnya meninggal pada 2022, BM menjadi tulang punggung tambahan keluarga.
Ia bekerja sebagai buruh angkut buah di kawasan Air Camar. Penghasilan kecil itu digunakan untuk kebutuhan harian dan biaya sekolah. “Dia tidak mau menyusahkan keluarga sejak ayahnya tiada,” kata Muswan Tiara.
Namun semua berubah hanya dua hari setelah pengumuman kelulusan SNBP. Pada Kamis dini hari, 2 April 2026, BM tiba-tiba menolak pergi sekolah. Ia mengucapkan kalimat yang membuat ibunya terkejut. “Guru sekongkol, guru tidak berakhlak,” ucap BM kepada ibunya.
Tiara mencoba memahami, namun anaknya justru pergi meninggalkan rumah. BM berlari menuju Polresta Padang tanpa penjelasan yang jelas. Tiara mengejar bersama kerabat dalam kondisi panik dan bingung.
Sesampainya di kantor polisi, BM terlihat berbicara tidak terarah. Ia hanya mau mendekat kepada petugas berseragam. “Dia takut saat saya dekati, hanya mau dengan polisi,” ujar Muswan Tiara.
Petugas kemudian membantu menenangkan situasi malam itu. BM akhirnya dibawa ke RSJ Prof HB Saanin untuk pemeriksaan lebih lanjut. Keputusan itu diambil demi keselamatan dan kondisi psikologis BM. Tiara memilih menahan diri meski hati terasa hancur. Ia mempercayakan perawatan anaknya kepada tenaga medis. “Saya takut dia kabur lagi jika dibawa pulang,” kata Muswan Tiara.
Sejak saat itu, Tiara belum diizinkan bertemu anaknya. Pihak rumah sakit masih melakukan observasi intensif. Informasi kondisi BM hanya disampaikan melalui perawat.
Kasus ini kemudian viral di media sosial dan memicu spekulasi luas. Dugaan perundungan di lingkungan sekolah mulai mencuat ke publik. Video keluarga korban mendatangi sekolah beredar luas. Dalam video, keluarga menghadapkan beberapa siswa kepada guru. Keluarga merasa anaknya mengalami tekanan berat dari lingkungan sekolah.
Kepala SMA Pertiwi 2 Padang, Syafril, mengonfirmasi adanya peristiwa tersebut. “Kami masih mengumpulkan fakta sebelum mengambil kesimpulan,” ujar Syafril, Rabu, 8 April 2026.
Sekolah menegaskan belum dapat memastikan adanya perundungan. Proses penelusuran dilakukan secara menyeluruh dan hati-hati. Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan, Desi Nofita Sari, menekankan objektivitas. “Informasi belum lengkap, semua pihak harus didengar,” ujar Desi Nofita Sari.
Empat siswa yang dituduh terlibat telah dimintai keterangan. Mereka mengaku hanya bercanda dan tidak berniat menyakiti. Sekolah melihat kemungkinan perbedaan persepsi dalam interaksi antar siswa. Namun dugaan tersebut masih memerlukan pembuktian lebih lanjut.
BM dikenal sebagai siswa pendiam dan jarang berinteraksi. Karakter tersebut membuatnya sulit mengungkap tekanan yang dirasakan. Kasus ini membuka sisi lain kehidupan remaja di sekolah.
Tekanan sosial sering tidak terlihat namun berdampak besar. Psikolog pendidikan menilai komunikasi menjadi kunci pencegahan kasus serupa. Remaja membutuhkan ruang aman untuk menyampaikan perasaan.
Lingkungan sekolah juga perlu lebih peka terhadap perubahan perilaku siswa. Kasus BM menjadi pengingat penting bagi dunia pendidikan. Prestasi akademik tidak selalu mencerminkan kondisi mental seseorang.
Di balik angka kelulusan, ada cerita yang tidak terlihat. Tiara kini hanya berharap anaknya pulih dan kembali seperti semula. Ia ingin melihat anaknya melanjutkan kuliah sesuai impian. “Yang penting dia sehat dan bisa hidup normal lagi,” ujar Muswan Tiara.
Kasus ini masih terus ditelusuri oleh sekolah dan pihak terkait. Publik menanti kejelasan sekaligus berharap tidak ada korban berikutnya. R-02

