Rupiah Jebol Rekor Terlemah Sepanjang Sejarah, Alarm Bahaya Ekonomi Menyala
Ilustrasi kurs Dolar AS terhadap Rupiah Indonesia. (ist)
Jakarta, SABANGMERAUKE NEWS - Nilai tukar rupiah kembali tertekan dan mencetak rekor terlemah sepanjang sejarah pada Kamis, 9 April 2026. Mata uang Garuda ditutup di kisaran Rp17.090 per dolar Amerika Serikat setelah melemah 0,46 persen. Tekanan datang dari kombinasi harga minyak tinggi, konflik global, serta kekhawatiran fiskal yang semakin menguat.
Pergerakan rupiah sepanjang hari berlangsung fluktuatif dengan rentang Rp17.030 hingga Rp17.104 per dolar AS. Pada awal perdagangan sempat stabil, lalu perlahan kehilangan tenaga seiring meningkatnya tekanan eksternal. Sentimen global mendominasi arah pasar dan membuat rupiah sulit keluar dari tekanan.
Analis pasar uang dan Direktur PT Traze Andalan Futures, Ibrahim Assuaibi, melihat pelemahan ini dipicu gangguan jalur energi global. “Gangguan di Selat Hormuz membuat pasokan minyak terganggu dan menekan sentimen pasar,” ujarnya, Kamis. Kondisi tersebut memperbesar kekhawatiran terhadap stabilitas ekonomi kawasan.
Ketegangan geopolitik di Timur Tengah kembali meningkat setelah konflik Iran, Amerika Serikat, dan Israel memanas. Jalur distribusi energi dunia mengalami gangguan serius akibat pembatasan lalu lintas kapal tanker. Situasi ini membuat harga minyak mentah melonjak mendekati US$98 per barel.
Kenaikan harga energi memunculkan tekanan tambahan terhadap fiskal Indonesia. Risiko pembengkakan subsidi bahan bakar menjadi sorotan utama pelaku pasar. Di tengah kondisi tersebut, pemerintah tetap mempertahankan kebijakan harga energi untuk menjaga daya beli masyarakat.
Namun langkah tersebut menimbulkan kekhawatiran baru di pasar keuangan. Investor mulai menghitung ulang risiko defisit anggaran yang berpotensi melebar. Kementerian Keuangan tetap menjaga target defisit di bawah tiga persen produk domestik bruto.
Tekanan terhadap rupiah semakin berat setelah cadangan devisa mengalami penurunan selama tiga bulan berturut-turut. Posisi cadangan turun dari US$156,47 miliar pada Desember 2025 menjadi US$148,2 miliar pada Maret 2026. Penurunan ini mencerminkan meningkatnya kebutuhan intervensi stabilisasi nilai tukar.
Selain faktor domestik, tekanan juga datang dari pergerakan mata uang global. Mayoritas mata uang Asia melemah terhadap dolar AS pada perdagangan hari ini. Peso Filipina mencatat pelemahan terdalam, diikuti yen Jepang dan rupee India.
Rupiah bahkan menjadi mata uang dengan kinerja terburuk di kawasan. Kondisi ini memperlihatkan sensitivitas tinggi terhadap sentimen global. Pasar merespons cepat setiap perkembangan geopolitik dan pergerakan harga energi.
Meski indeks dolar AS cenderung stagnan di kisaran level 99, tekanan terhadap mata uang emerging market tetap terasa. Investor global mulai mengalihkan dana ke aset yang dianggap lebih aman. Aliran modal keluar menjadi salah satu faktor pelemahan rupiah.
Di sisi lain, proyeksi ekonomi Indonesia juga mengalami revisi turun. Bank Dunia memperkirakan pertumbuhan ekonomi 2026 berada di level 4,7 persen. Angka ini lebih rendah dari proyeksi sebelumnya dan mencerminkan tekanan global yang meningkat.
Organisasi internasional lain juga menunjukkan pandangan serupa terhadap prospek ekonomi. Ketidakpastian global, konflik energi, serta perubahan kebijakan perdagangan menjadi faktor utama. Kondisi ini mempersempit ruang penguatan rupiah dalam jangka pendek.
Meski begitu, pemerintah tetap optimistis terhadap pertumbuhan ekonomi domestik. Program hilirisasi, konsumsi rumah tangga, serta investasi menjadi penopang utama. Upaya menjaga stabilitas makroekonomi terus dilakukan untuk meredam tekanan eksternal.
Ibrahim Assuaibi memperkirakan pergerakan rupiah masih akan fluktuatif dalam waktu dekat. “Rupiah berpotensi bergerak di rentang Rp17.090 hingga Rp17.140 pada perdagangan berikutnya,” ujarnya. Proyeksi tersebut mencerminkan ketidakpastian yang masih tinggi di pasar.
Pasar keuangan saat ini bergerak dalam tekanan berlapis yang saling berkelindan. Faktor geopolitik, harga energi, serta kondisi domestik membentuk dinamika kompleks. Rupiah menjadi cerminan langsung dari pertarungan sentimen tersebut.
Dengan situasi seperti ini, volatilitas nilai tukar diperkirakan tetap tinggi. Pelaku pasar cenderung berhati-hati dalam mengambil keputusan. Stabilitas rupiah akan sangat bergantung pada perkembangan global dan efektivitas kebijakan domestik. R-02

