Kelurahan Simpang Tiga Jadi Hutan Kabel, Warga Curhat ke Azwendi
Kegiatan reses Wakil Ketua DPRD Pekanbaru di Simpang Tiga mengungkap persoalan kabel semrawut dan banjir. Foto : Istimewa
Pekanbaru SABANGMERAUKE NEWS - Kegiatan reses Wakil Ketua DPRD Pekanbaru di Simpang Tiga mengungkap persoalan kabel semrawut dan banjir.
Wakil Ketua DPRD Pekanbaru Tengku Azwendi Fajri menggelar reses di Jalan Kusuma Selasa sore.
Kegiatan berlangsung di Komplek Peputra Indah I RW 02 Kelurahan Simpang Tiga Bukit Raya.
Reses masa sidang kedua tahun 2025/2026 dihadiri lurah tokoh masyarakat serta pengurus lingkungan setempat.
Warga memanfaatkan forum tersebut menyampaikan berbagai keluhan terkait kondisi lingkungan yang semakin memprihatinkan.
Masalah utama muncul berupa kabel optik semrawut dan banjir berulang mengganggu aktivitas harian warga.
Kedua persoalan dinilai berdampak langsung terhadap kenyamanan keamanan serta estetika kawasan permukiman warga setempat.
Sejumlah warga mengeluhkan pemasangan kabel melintas di atas rumah tanpa izin pemilik sah.
Kondisi tersebut membuat warga merasa dirugikan karena berpotensi membahayakan keselamatan serta merusak bangunan rumah.
Selain itu kabel menjuntai dinilai merusak pemandangan lingkungan serta menurunkan kualitas tata kota setempat.
Menanggapi hal tersebut Azwendi menegaskan pelaku usaha tidak boleh memasang jaringan secara sembarangan.
Ia menekankan pentingnya menjaga estetika kota serta mematuhi aturan penggunaan lahan milik daerah.
“Tentu saya ingatkan pelaku usaha jangan sembrono menjaga estetika kota dan aturan berlaku,” tegasnya.
Azwendi juga mendorong pemerintah kota segera menyusun regulasi jelas terkait penataan jaringan kabel.
Menurutnya selama ini masyarakat serta pelaku usaha menunggu kepastian aturan agar tidak terjadi pelanggaran.
“Kita berharap pemerintah segera membuat regulasi jelas agar masalah kabel semrawut segera terselesaikan,” ujarnya.
Ia menilai penataan kabel tidak hanya soal keindahan melainkan menyangkut keamanan dan infrastruktur kota.
Dampak lain mencakup kenyamanan masyarakat serta potensi peningkatan pendapatan daerah dari sektor jaringan.
“Kita minta Pemko segera moratorium dan penertiban karena dampaknya luas bagi masyarakat,” tambahnya.
Selain kabel warga juga mengeluhkan banjir yang sering terjadi di kawasan Simpang Tiga tersebut.
Azwendi menjelaskan banjir bukan sekadar genangan melainkan aliran deras dari hulu menuju hilir.
Air kerap melintasi jalan permukiman bahkan masuk rumah warga meski durasi relatif singkat.
“Banjir biasanya hanya satu hingga dua jam namun tetap berisiko bagi warga sekitar,” katanya.
Ia menyebut derasnya arus air menyebabkan gangguan aktivitas serta kerusakan ringan pada properti warga.
Masalah tersebut dinilai memerlukan penanganan serius agar tidak terus berulang setiap musim hujan tiba.
Untuk itu Azwendi meminta pemerintah kota membangun sistem drainase terintegrasi dari hulu hingga hilir.
Sistem tersebut diharapkan mampu menampung debit air tinggi sehingga tidak meluap ke permukiman warga.
“Kita berharap drainase terintegrasi mampu mengalirkan air lancar tanpa melintasi rumah warga,” tutupnya.(R-04)

