Tak Pernah Terlihat dari Bumi, Kru Artemis II Alami Fenomena Langka di Balik Bulan
Ilustrasi para astronaut menyaksikan fenomena yang nyaris mustahil dilihat dari Bumi: gerhana Matahari total dari balik Bulan, atau yang disebut sebagai “gerhana Matahari pribadi”. Foto: SM News/Created by Al
JAKARTA, SabangMerauke News - Momen luar biasa dialami kru misi Artemis II saat mengelilingi Bulan. Di tengah perjalanan mereka di ruang angkasa, para astronaut menyaksikan fenomena yang nyaris mustahil dilihat dari Bumi: gerhana Matahari total dari balik Bulan, atau yang disebut sebagai “gerhana Matahari pribadi”.
Peristiwa langka ini terjadi ketika kapsul Orion melintas di sisi jauh Bulan. Dari sudut pandang kru, Bulan tampak jauh lebih besar dibandingkan saat dilihat dari Bumi, hingga mampu menutupi Matahari sepenuhnya. Pemandangan tersebut menciptakan gerhana total yang bukan hanya dramatis, tetapi juga berlangsung jauh lebih lama dibandingkan fenomena serupa di Bumi.
Empat astronaut yang berada di dalam Orion — Reid Wiseman, Victor Glover, Christina Koch, dan Jeremy Hansen — menjadi saksi langsung fenomena tersebut. Mereka menyaksikan bagaimana cakram gelap Bulan perlahan menelan cahaya Matahari, menyisakan cahaya tipis korona yang bersinar seperti mahkota bercahaya di sekelilingnya.
Untuk mengamati momen tersebut dengan aman, para astronaut telah mempersiapkan kacamata khusus gerhana. Dengan alat ini, mereka dapat melihat korona Matahari — lapisan terluar atmosfer Matahari — yang biasanya hanya bisa diamati saat gerhana total di Bumi. Namun, berbeda dari pengamatan di Bumi yang sering dibatasi waktu singkat, kru Artemis II menikmati fenomena ini dalam durasi yang jauh lebih panjang.
Gerhana yang mereka saksikan bahkan berlangsung mendekati satu jam. Durasi yang tidak biasa ini terjadi karena posisi pesawat ruang angkasa yang berada di luar orbit Bumi dan dekat dengan Bulan. Kombinasi jarak, sudut pandang, serta pergerakan relatif antara Matahari, Bulan, dan Orion menciptakan kondisi ideal untuk fenomena langka tersebut.
Selain menjadi pengalaman visual yang menakjubkan, momen ini juga memiliki nilai ilmiah yang tinggi. Para astronaut memanfaatkan kesempatan tersebut untuk mengamati aktivitas Matahari dari perspektif unik yang tidak dapat dicapai dari permukaan Bumi. Pengamatan terhadap korona, misalnya, dapat membantu ilmuwan memahami lebih dalam tentang suhu ekstrem dan dinamika energi Matahari.
Tidak hanya itu, kru juga berpeluang mengamati fenomena lain di sekitar Bulan, termasuk kemungkinan kilatan meteoroid yang menghantam permukaannya. Dari jarak yang relatif dekat, setiap perubahan cahaya atau aktivitas di permukaan Bulan dapat terlihat lebih jelas dibandingkan pengamatan dari Bumi.
NASA sebelumnya telah memprediksi terjadinya fenomena ini sebagai bagian dari perhitungan geometri misi. Meski demikian, menyaksikan langsung gerhana Matahari dari balik Bulan tetap menjadi pengalaman luar biasa yang sulit digambarkan, bahkan bagi astronaut berpengalaman sekalipun.
Misi Artemis II sendiri merupakan tonggak penting dalam eksplorasi luar angkasa modern. Ini adalah penerbangan berawak pertama ke sekitar Bulan sejak era Apollo lebih dari 50 tahun lalu. Diluncurkan pada 1 April 2026, misi ini menjadi langkah krusial sebelum misi berikutnya yang direncanakan membawa manusia kembali menginjakkan kaki di permukaan Bulan.
Selama menjalankan misi, para astronaut tidak hanya fokus pada pengujian sistem pendukung kehidupan dan navigasi di ruang angkasa dalam. Mereka juga mencatat berbagai pencapaian penting, termasuk memecahkan rekor sebagai manusia yang melakukan perjalanan terjauh dari Bumi — melampaui rekor sebelumnya yang dipegang oleh misi Apollo 13.
Selain gerhana Matahari pribadi, kru Artemis II juga berhasil mengabadikan pemandangan ikonik seperti Earthrise — momen ketika Bumi tampak “terbit” dari balik cakrawala Bulan. Pemandangan ini menjadi simbol betapa kecilnya planet tempat manusia berasal jika dilihat dari kedalaman ruang angkasa.
Mereka juga merekam sisi gelap Bulan yang jarang terekspos publik. Area ini selalu membelakangi Bumi sehingga sulit diamati tanpa misi langsung. Dengan teknologi kamera canggih yang dibawa Orion, gambar-gambar baru dari wilayah tersebut diharapkan dapat memberikan wawasan tambahan bagi para ilmuwan.
NASA dijadwalkan akan merilis lebih banyak foto dan video dari fenomena gerhana Matahari pribadi ini dalam waktu dekat. Materi visual tersebut diperkirakan akan menjadi salah satu dokumentasi paling spektakuler dalam sejarah eksplorasi ruang angkasa modern.
Secara keseluruhan, misi Artemis II tidak hanya membuka jalan bagi eksplorasi Bulan yang lebih ambisius, tetapi juga menghadirkan pengalaman yang memperluas batas pemahaman manusia tentang alam semesta. Momen gerhana Matahari pribadi yang disaksikan langsung oleh para astronaut menjadi pengingat bahwa masih banyak keajaiban kosmik yang menunggu untuk dijelajahi.
Dengan durasi misi sekitar 10 hari sebelum kembali ke Bumi, perjalanan ini menjadi salah satu babak paling bersejarah dalam upaya manusia menjelajah luar angkasa. Artemis II bukan sekadar perjalanan, melainkan langkah besar menuju masa depan eksplorasi antariksa yang lebih jauh dan lebih berani. (R-05)

