Lebaran Membawa Duka: Truk Sawit Tertahan di Rupat, Harga TBS Anjlok Nyaris Setengahnya
Pengumpul buah sawit menggumpulkan hasil panen petani menggunakan perahu. (ist)
Riau, SABANGMERAUKE NEWS - Nasib kurang beruntung sedang menimpa para petani kelapa sawit di wilayah Rupat, Kabupaten Bengkalis. Harga emas hijau tersebut dilaporkan terjun bebas. Kondisi ini merupakan imbas nyata dari kemacetan parah armada truk pengangkut hasil perkebunan tersebut.
Antrean kendaraan terlihat mengular panjang pada area Pelabuhan Penyeberangan Dumai menuju wilayah Pulau Rupat. Kendaraan pengangkut hasil bumi tersebut tertahan lama karena tidak masuk dalam daftar prioritas mudik. Kapal feri lebih mengutamakan mobil pribadi serta angkutan bahan pokok sesuai aturan pemerintah pusat.
Dampaknya sangat terasa pada tingkat penampungan atau ram sawit yang ada di pelosok desa. Tempat penyimpanan buah kini sudah penuh sesak karena tidak bisa mengirim barang ke pabrik. Kondisi gudang yang meluap memaksa pengusaha berhenti membeli tandan buah segar milik warga setempat.
Anggota Komisi IV DPRD Riau, Khairul Umam, memberikan penjelasan mendalam terkait fenomena ekonomi yang menyedihkan. Penurunan harga terjadi secara otomatis ketika stok melimpah, namun jalur distribusi pengiriman sedang terhambat. "Ram-ram tidak mampu mengambil hasil kebun petani karena buah tidak bisa dijual ke luar," ujarnya.
Persoalan ini memicu keprihatinan mendalam mengingat harga pasar normal sebenarnya masih tergolong sangat tinggi. Saat ini harga sawit secara umum berada pada level angka di atas Rp3.000 per kilogram. Namun, keterbatasan akses kapal membuat petani hanya mampu menjual seharga Rp1.700 per kilogram saja.
Angka tersebut tentu sangat menyakitkan bagi dompet masyarakat yang sedang merayakan Hari Raya Idulfitri. Biaya operasional panen serta perawatan kebun tidak sebanding dengan harga jual yang sangat rendah. Masyarakat Rupat sangat bergantung pada sektor perkebunan sawit sebagai urat nadi utama ekonomi keluarga.
Menyikapi masalah krusial ini, Komisi IV DPRD Riau segera memanggil Dinas Perhubungan Provinsi Riau. Pertemuan tersebut bertujuan mencari jalan keluar tercepat guna mengurai kemacetan panjang pada pelabuhan tersebut. Pemerintah daerah diminta lebih peka terhadap nasib ekonomi masyarakat kecil saat momen libur panjang.
Pemerintah berencana menambah jam operasional pelabuhan hingga tengah malam guna mengangkut truk yang tertahan. Langkah darurat ini diharapkan mampu mengurangi tumpukan kendaraan pada kantong parkir sekitar area dermaga. Distribusi hasil bumi harus tetap berjalan lancar tanpa mengganggu kenyamanan para pemudik Lebaran tahun ini.
Kabar baik datang mengenai kesiapan armada kapal feri tambahan yang akan segera mulai beroperasi. Saat ini hanya dua unit kapal yang melayani penyeberangan karena satu armada sedang diperbaiki. Proses perawatan kapal atau docking dikabarkan sudah selesai serta siap berlayar kembali pekan depan.
Dishub Riau menjanjikan total tiga unit kapal akan beroperasi penuh sebelum tanggal 10 April. "Kapal tambahan direncanakan mulai beroperasi kembali pada tanggal sepuluh April mendatang," jelas Khairul Umam. Tambahan daya angkut ini diyakini mampu menuntaskan masalah antrean truk sawit dalam waktu singkat.
Anggota dewan juga mendesak agar angkutan sawit dimasukkan dalam kategori prioritas penyeberangan di Riau. Alasannya jelas karena komoditas ini menyangkut hajat hidup orang banyak serta kestabilan ekonomi daerah. Tanpa prioritas khusus, petani sawit akan selalu menjadi korban setiap kali musim mudik tiba.
Rapat koordinasi tersebut membuahkan kesepakatan untuk melakukan evaluasi menyeluruh terhadap sistem pengelolaan pelabuhan. Pengawasan ketat di lapangan diperlukan agar tidak ada oknum yang bermain dalam pengaturan antrean. Semua pihak harus bekerja sama demi menyelamatkan harga sawit yang menjadi tumpuan hidup warga.
Kondisi ekonomi di Pulau Rupat sangat dipengaruhi oleh kelancaran akses logistik menuju Kota Dumai. Jika transportasi laut terganggu, maka seluruh rantai pasokan kebutuhan maupun hasil bumi ikut terdampak. Semoga tambahan kapal bisa menjadi solusi permanen bagi kesejahteraan petani kelapa sawit di Bengkalis.
Masyarakat kini hanya bisa berharap agar harga sawit kembali normal pada posisi semula segera. Tabungan dari hasil panen sangat dibutuhkan untuk mencukupi kebutuhan sekolah anak setelah libur Lebaran. Perjuangan mengolah lahan sawit yang berat harus dihargai dengan harga jual yang pantas serta adil.
DPRD Riau berjanji akan terus mengawal janji Dinas Perhubungan terkait pengoperasian kapal feri tersebut. Pengawasan langsung ke lokasi pelabuhan akan dilakukan guna memastikan tidak ada lagi truk tertahan. Mari doakan agar roda ekonomi masyarakat pesisir Riau kembali berputar kencang tanpa ada kendala. R-02

