Jangan Tertipu Tren! Pistachio Ternyata Sehat, Tapi Bisa Jadi Berbahaya Jika…
Viral dessert pistachio memang menggoda, tapi jangan salah kaprah, tidak semua yang berlabel “pistachio” otomatis sehat. Foto : Istimewa
Riau, SABANGMERAUKE NEWS - Viral dessert pistachio memang menggoda, tapi jangan salah kaprah, tidak semua yang berlabel “pistachio” otomatis sehat. Kunci utamanya ada pada bentuk konsumsi dan kandungan tambahannya.
Tren makanan berbahan pistachio kini merajai berbagai dessert kekinian, mulai dari croissant, minuman, hingga cokelat premium. Warna hijau khasnya membuat tampilan lebih elegan sekaligus memicu persepsi sebagai bahan “lebih sehat”. Namun, di balik popularitas tersebut, muncul pertanyaan: apakah pistachio benar-benar baik untuk tubuh?
Secara ilmiah, pistachio termasuk camilan sehat. Ahli gizi menyebut kacang ini kaya serat, protein, serta lemak tak jenuh yang berperan penting dalam menjaga kesehatan jantung. Dalam satu porsi sekitar 30 gram, pistachio mengandung sekitar 3 gram serat, 6 gram protein, dan lemak sehat yang dominan.
Serat dalam pistachio membantu sistem pencernaan dan menjaga keseimbangan mikrobiota usus. Selain itu, kombinasi serat dan protein dapat memperlambat penyerapan gula dalam darah, sehingga energi tubuh lebih stabil dan tidak mudah lapar.
Dari sisi lemak, pistachio tergolong aman karena mayoritas merupakan lemak tak jenuh. Jenis lemak ini dikenal berkontribusi dalam menurunkan risiko penyakit jantung jika dikonsumsi dalam batas wajar. Meski begitu, kandungan kalorinya cukup tinggi, yakni sekitar 160 kalori per porsi.
Menariknya, sejumlah penelitian menunjukkan konsumsi kacang secara rutin tidak selalu berujung pada kenaikan berat badan. Hal ini karena efek mengenyangkan dari protein dan serat membuat seseorang cenderung makan lebih sedikit secara keseluruhan.
Tak hanya itu, pistachio juga mengandung berbagai mikronutrien penting seperti kalium, magnesium, fosfor, vitamin B6, dan vitamin E. Antioksidan seperti lutein, zeaxanthin, dan polifenol turut berperan melindungi sel tubuh dari kerusakan akibat radikal bebas.
Namun, manfaat tersebut bisa “hilang” dalam produk olahan. Banyak dessert kekinian berbahan pistachio justru mengandung gula tinggi dan lemak jenuh tambahan. Dalam bentuk ini, pistachio hanya menjadi perasa, bukan sumber nutrisi utama.
Karena itu, para ahli menyarankan konsumsi pistachio dalam bentuk utuh, tanpa tambahan gula atau pengolahan berlebihan, agar manfaat kesehatannya tetap optimal.(R-03)

