Jeritan Pilu Nelmiati di Balik Puing Kebakaran: Cuma Baju di Badan yang Tersisa!
Seorang petugas Damkar merapikan selang air seusai berjuang memadamkan kebakaran yang melalap 8 unit rumah semipermanen di Jalan Ahmad Yani, Pekanbaru. (ist)
SABANGMERAUKE NEWS, Pekanbaru - Langit siang di Jalan Ahmad Yani, Pekanbaru, mendadak berubah menjadi hitam pekat pada Senin, 30 Maret 2026. Kobaran api raksasa melahap delapan unit rumah kontrakan semipermanen di kawasan Pasar Teleng. Letaknya yang tepat di belakang Kantor Camat Sukajadi membuat suasana pusat kota berubah mencekam seketika.
Jeritan minta tolong bersahut-sahutan di tengah kepulan asap yang membumbung tinggi ke angkasa. Bangunan yang mayoritas berbahan papan tua membuat si jago merah berpesta dengan sangat lahap. Warga sekitar berlarian menyelamatkan apa saja yang bisa ditarik keluar dari dalam kepungan api membara.
"Tak ada lagi rumah kami, tak ada yang bisa diselamatkan dari dalam sana," kata salah seorang korban. Isak tangis pecah saat melihat tempat bernaung selama ini rata dengan tanah dalam sekejap. Api mulai mengamuk hebat sekitar pukul 11.30 WIB siang tadi.
Kepanikan semakin memuncak saat suara ledakan tabung gas terdengar berulang kali dari arah lokasi kejadian. Petugas kepolisian dan TNI yang berjaga di lokasi terpaksa meminta warga untuk menjauh segera. Material kayu yang sudah kering kerontang membuat api menjalar sangat cepat ke bangunan yang berdempetan.
Tangis Histeris Nelmiati di Tengah Puing
Sosok Nelmiati menjadi gambaran nyata betapa pedihnya musibah yang datang tanpa permisi ini. Wanita berusia lima puluh enam tahun tersebut hanya bisa terduduk lemas meratapi rumahnya yang musnah. Saat kejadian, ia sebenarnya sedang bersiap menuju warung untuk membeli keperluan mandi dan sabun cuci.
Langkah kakinya terhenti ketika melihat lidah api sudah menjilat dinding kayu di samping rumahnya. Tidak ada waktu untuk mengemas ijazah, perhiasan, atau surat berharga yang tersimpan di dalam lemari. Fokus utama saat itu hanyalah menyelamatkan nyawa anggota keluarga yang sedang berada di area rumah.
"Saya mau ke warung, tiba-tiba api sudah besar saja menyambar bangunan samping," ujar Nelmiati terisak. Mengutip pemberitaan kompas.com, ia merasa sangat sedih karena tidak memiliki tempat tinggal lagi sekarang. Kini hanya baju yang melekat di badan yang menjadi harta tersisa bagi keluarga kecilnya tersebut.
Suaminya yang sedang bekerja merehab bagian rumah juga tidak sempat melakukan tindakan penyelamatan berarti. Hanya sebuah becak, televisi, dan kipas angin yang kebetulan berada di luar rumah bisa selamat. Barang-barang itu selamat karena diletakkan di atas becak sebelum kobaran api menyentuh bangunan utama.
Aksi Heroik Damkar di Pemukiman Padat
Akses jalan yang sempit di pemukiman padat penduduk menjadi tantangan besar bagi armada pemadam. Petugas Pemadam Kebakaran Pekanbaru harus berjibaku ekstra keras agar api tidak merembet ke ruko terdekat. Sejumlah unit mobil tangki air dikerahkan guna menjinakkan amukan api yang semakin liar tertiup angin.
Petugas menyemprotkan air dari berbagai sudut guna melokalisir titik panas agar tidak semakin meluas. Warga bahu-membahu bersama aparat menarik selang air menuju lorong-lorong sempit di belakang kantor camat. Semangat gotong royong terlihat jelas meski di tengah suasana duka yang menyelimuti para penghuni kontrakan.
"Kami ini orang tak punya, nak, tempat tinggal kami sudah habis terbakar semuanya," ucap Nelmiati. Kalimat memilukan tersebut menggambarkan betapa beratnya beban yang harus dipikul para korban kebakaran kali ini. Beruntung, tidak ada korban jiwa dilaporkan dalam insiden yang menghanguskan delapan pintu kontrakan papan itu.
Proses pendinginan dilakukan selama hampir satu setengah jam untuk memastikan tidak ada api tersembunyi. Sisa-sisa arang dan abu menjadi saksi bisu betapa panasnya suhu di titik nol kebakaran tersebut. Garis polisi kini sudah terpasang rapi di sekeliling lokasi guna kepentingan olah tempat kejadian perkara.
Menanti Harapan di Balik Garis Polisi
Penyebab pasti munculnya percikan api pertama kali masih menjadi misteri yang sedang didalami polisi. Dugaan sementara mengarah pada korsleting listrik, namun petugas masih mengumpulkan keterangan saksi mata di lapangan. Kerugian material akibat peristiwa ini ditaksir mencapai puluhan hingga ratusan juta rupiah bagi para pemilik.
Para penghuni kontrakan kini harus mengungsi ke rumah kerabat atau posko darurat yang disediakan. Kebutuhan mendesak seperti pakaian layak pakai, makanan, dan dokumen identitas sangat dibutuhkan saat ini juga. Kehilangan KTP, kartu BPJS, dan dompet membuat langkah para korban untuk bangkit terasa semakin sulit.
"Cuma kain di badan yang tinggal, surat-surat habis terbakar tidak ada sisa," kata Nelmiati, sedih. Harapan besar kini tertuju kepada pemerintah daerah untuk memberikan bantuan stimulan bagi warga terdampak. Mereka memerlukan uluran tangan untuk sekadar menyewa tempat tinggal baru atau membeli kebutuhan pokok harian.
Kawasan Jalan Ahmad Yani kini kembali tenang, namun duka mendalam masih membekas bagi Nelmiati. Tragedi Senin siang ini menjadi pengingat keras betapa pentingnya kewaspadaan terhadap instalasi listrik di rumah. Mari ulurkan bantuan bagi sesama yang sedang tertimpa musibah agar beban mereka terasa lebih ringan. R-02

