Lebaran Belum Usai, Cengbeng Memperpanjang Arus Balik di Pelabuhan Tanjung Harapan Selatpanjang
Para penumpang yang berangkat atau naik kapal melalui pelabuhan Tanjung Harapan Selatpanjang. Foto: SM News
SABANGMERAUKE NEWS, Riau - Suasana Idulfitri di Kepulauan Meranti tampaknya belum benar-benar usai. Di tengah arus balik yang masih bergulir, hadirnya momentum Cengbeng justru memperpanjang gelombang mobilitas masyarakat. Seolah belum sempat jeda, langkah para perantau kembali beriringan sebagian pulang setelah Lebaran dan sebagian lagi datang untuk menunaikan penghormatan kepada leluhur.
Di Pelabuhan Tanjung Harapan, denyut pergerakan itu terlihat jelas. Dermaga tak pernah benar-benar lengang. Orang-orang datang dengan koper dan kantong bawaan, sementara yang lain melambaikan tangan perpisahan sebelum kapal perlahan menjauh dari bibir pelabuhan. Dalam suasana itulah, Selatpanjang kembali menunjukkan perannya sebagai simpul pertemuan keluarga, tradisi, dan perjalanan panjang para perantau.
Berdasarkan data KSOP Kelas IV Selatpanjang, hingga saat ini jumlah penumpang yang berangkat atau naik kapal melalui pelabuhan tersebut tercatat sebanyak 36.948 orang. Sementara jumlah penumpang yang datang atau turun selama periode angkutan Lebaran 2026 mencapai 46.183 orang. Dengan demikian, total pergerakan penumpang naik dan turun selama periode tersebut mencapai 83.131 orang—angka yang menggambarkan betapa padatnya arus mobilitas di wilayah pesisir Kepulauan Meranti.
Menariknya lagi, di tengah padatnya arus mudik dan balik tersebut, data Direktorat Jenderal Perhubungan Laut mencatat bahwa Pelabuhan Tanjung Harapan Selatpanjang masuk dalam peringkat ke-9 pelabuhan terpadat di Indonesia selama periode Idulfitri 2026. Capaian ini menjadi penanda kuat bahwa pelabuhan tersebut bukan sekadar titik keberangkatan dan kedatangan, melainkan nadi utama pergerakan masyarakat pesisir Riau, khususnya Kepulauan Meranti.
Arus balik sendiri sebenarnya telah mulai terlihat sejak hari pertama setelah Lebaran. Namun lonjakan paling signifikan terjadi pada H+1 (22 Maret) dengan jumlah penumpang berangkat sebanyak 1.927 orang, kemudian meningkat tajam pada H+2 (23 Maret) menjadi 3.003 orang, dan kembali bertambah pada H+3 (24 Maret) sebanyak 3.188 orang. Pada H+4 Lebaran, jumlah penumpang yang meninggalkan Pelabuhan Tanjung Harapan masih tergolong tinggi, yakni 2.990 orang.
Pergerakan itu terus berlanjut pada hari-hari berikutnya. Pada H+5 (26 Maret) tercatat 1.820 orang datang dan 3.023 orang berangkat. Lalu pada H+7 (27 Maret) sebanyak 2.472 orang tiba dan 3.246 orang berangkat. Selanjutnya pada H+8 (28 Maret) tercatat 2.611 orang tiba dan 3.301 orang berangkat. Bahkan hingga H+9 dan H+10, mobilitas masyarakat masih menunjukkan intensitas tinggi, masing-masing dengan 3.301 orang tiba dan 2.611 berangkat, serta 2.343 orang tiba dan 3.697 orang berangkat.
Angka-angka tersebut bukan sekadar statistik pergerakan manusia. Di baliknya ada cerita tentang anak-anak yang kembali ke rantau setelah memeluk orang tua, tentang keluarga yang masih menyempatkan pulang untuk berziarah saat Cengbeng, serta tentang Selatpanjang yang setiap tahun menjadi titik temu antara tradisi, kerinduan, dan perjalanan panjang para perantau. Di sanalah pelabuhan berdiri—bukan hanya sebagai tempat kapal bersandar, tetapi sebagai saksi setia perjalanan pulang dan kembali masyarakat Kepulauan Meranti.
Fenomena padatnya arus penumpang di Pelabuhan Tanjung Harapan tahun ini bukanlah sesuatu yang terjadi tanpa sebab. Ia menjadi dampak langsung dari bertemunya dua momentum besar dalam satu waktu—Idulfitri yang belum sepenuhnya usai, serta datangnya tradisi Cengbeng yang menggerakkan gelombang pulang para perantau.
Kepala KSOP Kelas IV Selatpanjang, Derita Adi Prasetyo melalui petugas Lalu Lintas Angkutan Laut dan Kepelabuhanan, Ade Kurniawan, menilai kondisi arus balik tahun ini berbeda dari pola yang biasa terjadi pada tahun-tahun sebelumnya.
“Kalau tahun-tahun sebelumnya, setelah H+2 arus cenderung menurun. Namun kali ini terus meningkat karena bersamaan dengan Cengbeng, sehingga mobilitas masyarakat tetap tinggi,” ungkap Ade kepada wartawan, Minggu (29/3/2026).
Menurutnya, selain para pemudik yang kembali ke tempat aktivitasnya masing-masing, Kepulauan Meranti juga kedatangan warga yang pulang khusus untuk menjalankan tradisi ziarah kubur saat Cengbeng. Tradisi penghormatan kepada leluhur itu membuat arus perjalanan tidak hanya bergerak satu arah, tetapi berlangsung dinamis dari dua sisi sekaligus datang dan pergi hampir dalam waktu bersamaan.
Kepadatan paling terasa di Pelabuhan Tanjung Harapan Selatpanjang. Sejak pagi hari, antrean penumpang terlihat memenuhi ruang tunggu hingga loket tiket. Namun di tengah ramainya aktivitas itu, suasana tetap terjaga tertib. Petugas pelabuhan tampak sigap mengatur alur naik dan turun penumpang secara bergantian agar pergerakan tetap lancar.
Mengantisipasi lonjakan mobilitas tersebut, pengawasan di pelabuhan pun diperketat. Pemeriksaan tiket dilakukan lebih intensif, pengaturan arus penumpang diperjelas, dan kapasitas kapal diawasi secara ketat agar tidak melampaui batas yang ditentukan.
Tak hanya itu, aspek keselamatan menjadi perhatian utama. Setiap kapal yang akan berlayar wajib melalui pengecekan kelayakan operasional, mulai dari kesiapan alat keselamatan seperti jaket pelampung hingga keakuratan data manifest penumpang.
“Kami memprioritaskan pengawasan di titik-titik rawan kepadatan, terutama di Pelabuhan Tanjung Harapan. Semua prosedur keselamatan wajib dipenuhi sebelum kapal diberangkatkan,” tegasnya.
Meski tekanan arus penumpang meningkat tajam hingga memasuki H+7 Lebaran, operasional pelayaran di Selatpanjang tetap berjalan relatif lancar. Kehadiran petugas di lapangan menjadi kunci menjaga stabilitas layanan, sehingga masyarakat yang bepergian dalam momentum Lebaran dan Cengbeng tetap dapat melakukan perjalanan dengan aman, tertib, dan nyaman—seperti tradisi pulang yang terus berulang dari tahun ke tahun di negeri kepulauan ini. (R-01)

