Dampak Perang Mulai Terasa, Harga Kedelai Melonjak—Tahu Tempe Terancam Ikut Naik
Ilustrasi kenaikan harga tahu-tempe. Foto: SM News/Create by AI
SABANGMERAUKE NEWS, Jakarta - Kenaikan harga kedelai impor mulai terasa di dalam negeri dan berpotensi mendorong lonjakan harga tahu dan tempe dalam waktu dekat. Per 18 Maret 2026, harga kedelai di tingkat perajin tercatat mengalami peningkatan signifikan, dipicu kombinasi faktor global mulai dari konflik geopolitik hingga penguatan dolar AS.
Berdasarkan data Gabungan Koperasi Produsen Tempe Tahu Indonesia (Gakoptindo), harga kedelai di tingkat koperasi perajin kini berada di kisaran Rp9.700 hingga Rp12.000 per kilogram. Mayoritas harga berkisar antara Rp10.000 hingga Rp10.800 per kilogram, naik dibandingkan periode sebelumnya yang relatif lebih stabil.
Di sejumlah daerah, harga kedelai bahkan sudah menembus angka yang cukup tinggi. Di Jawa Barat, harga kedelai tercatat berada di kisaran Rp10.100 hingga Rp10.400 per kilogram. Sementara di Jakarta, harga berkisar Rp10.400 hingga Rp10.700 per kilogram. Adapun di beberapa wilayah seperti Sumatra Barat, harga kedelai sudah mencapai Rp12.000 per kilogram.
Sekretaris Jenderal Gakoptindo, Wibowo Nur Cahyo, mengungkapkan bahwa tren kenaikan harga kedelai impor ini memang sudah terjadi dan berpotensi terus berlanjut dalam waktu ke depan. Ia menilai kondisi global saat ini menjadi faktor utama yang memengaruhi harga bahan baku utama tahu dan tempe tersebut.
“Nah, tentunya secara kenaikan harga kedelai impor itu memang sudah terjadi peningkatan. Kemungkinan peningkatan harga lagi bisa saja terjadi,” ujarnya, Rabu (25/3/2026).
Meski demikian, Wibowo menegaskan bahwa kenaikan harga kedelai saat ini bukan dipicu oleh lonjakan impor China yang diperkirakan meningkat sekitar 2 juta ton pada periode 2026-2027. Menurutnya, tambahan impor tersebut tidak akan mengganggu keseimbangan pasokan global.
Ia menjelaskan bahwa kondisi stok kedelai di Amerika Serikat sebagai salah satu pemasok utama justru sedang dalam kondisi berlebih atau overstock. Dengan kondisi tersebut, pasokan global seharusnya masih cukup aman.
“Kalau sekarang ini sebenarnya mereka (Amerika Serikat) overstock. Jadi tidak terlalu mengganggu,” jelasnya.
Mengacu pada laporan World Grain, Layanan Pertanian Luar Negeri (Foreign Agricultural Service/FAS) Departemen Pertanian Amerika Serikat memproyeksikan impor kedelai China akan mencapai 108 juta ton pada 2026-2027, naik sekitar 2 juta ton dibandingkan periode sebelumnya. Peningkatan ini didorong oleh tingginya permintaan bungkil kedelai untuk kebutuhan pakan ternak, khususnya sektor unggas dan akuakultur.
Selain itu, China juga kembali aktif membeli kedelai dari Amerika Serikat setelah tercapainya kesepakatan dagang antara kedua negara pada Oktober 2025. Hingga akhir Februari 2026, realisasi pembelian kedelai oleh China telah mencapai 10,8 juta ton dari total komitmen sebesar 12 juta ton.
Namun, menurut Wibowo, faktor utama kenaikan harga kedelai di Indonesia justru berasal dari kombinasi faktor lain yang lebih kompleks. Di antaranya adalah pergerakan harga di pasar global seperti Chicago Board of Trade (CBOT), penguatan nilai tukar dolar AS, serta dinamika ekonomi dan politik baik di dalam maupun luar negeri.
Ia menekankan bahwa eskalasi konflik geopolitik menjadi pemicu terbesar saat ini, terutama konflik yang melibatkan Israel, Amerika Serikat, dan Iran. Ketegangan tersebut berdampak langsung pada kenaikan harga energi dunia.
“Faktor yang memberatkan paling utama saat ini adalah perang di Timur Tengah. Itu berdampak besar,” ujarnya.
Kenaikan harga minyak akibat konflik tersebut turut mendorong peningkatan biaya logistik, termasuk biaya pengangkutan kedelai dari Amerika Serikat ke Indonesia. Mengingat distribusi kedelai sangat bergantung pada transportasi laut, lonjakan harga bahan bakar menjadi beban tambahan yang signifikan.
“Pengangkutan dari Amerika ke Indonesia menggunakan kapal dengan kebutuhan bahan bakar tinggi. Jadi dampaknya langsung terasa di biaya distribusi,” jelasnya.
Di tengah tekanan biaya produksi yang meningkat, para perajin tahu dan tempe saat ini masih berupaya menahan kenaikan harga jual kepada konsumen. Salah satu strategi yang dilakukan adalah dengan mengurangi ukuran produk tanpa mengubah harga.
Penyesuaian ini dilakukan secara bertahap, seiring dengan kenaikan harga bahan baku. Misalnya, ketebalan tahu yang sebelumnya sekitar 3 cm bisa dikurangi menjadi 2,8 cm atau bahkan 2,5 cm. Hal serupa juga terjadi pada tempe, yang ketebalannya dapat berkurang dari 2 cm menjadi sekitar 1,8 cm.
“Jadi siasatnya itu menyesuaikan ketebalan saja, bukan menaikkan harga,” kata Wibowo.
Dari sisi keuntungan, para perajin mengaku masih memiliki sedikit ruang untuk bertahan meski margin mulai tergerus. Jika sebelumnya keuntungan bisa mencapai Rp1.000 per unit, kini turun menjadi sekitar Rp800.
Meski demikian, Wibowo mengingatkan bahwa ada batas toleransi bagi para perajin. Jika harga kedelai terus melonjak hingga menembus Rp12.000 per kilogram secara merata, maka opsi untuk meminta intervensi pemerintah akan mulai dipertimbangkan.
“Kalau sudah di atas Rp12 ribu per kg, baru kami akan menyuarakan kemungkinan minta subsidi,” tegasnya.
Untuk saat ini, ia menilai kondisi tersebut masih belum terjadi secara luas dan masih dalam batas yang dapat ditoleransi oleh perajin. Namun, risiko kenaikan harga tahu dan tempe tetap terbuka jika tekanan global terus berlanjut.
Dengan kondisi ini, masyarakat diimbau untuk bersiap menghadapi kemungkinan penyesuaian harga atau ukuran produk tahu dan tempe di pasaran. Sebab, sebagai bahan pangan yang sangat bergantung pada impor, kedelai tetap rentan terhadap gejolak global, terutama di tengah ketidakpastian ekonomi dan politik dunia saat ini. (R-05)

