Tragis! Wanita Korban Pelecehan Ini Nekat Pingin Bunuh Diri di Depan Kantor Presiden Prabowo
Dua polisi mendekati JSLP yang berniat bunuh diri di depan Istana Merdeka. (ist)
SABANGMERAUKE NEWS, Jakarta - Suasana sunyi di depan gerbang Istana Merdeka mendadak berubah tegang pada Minggu, 22 Maret 2026 malam. Seorang perempuan muda berinisial JSLP terlihat berdiri mematung dengan gerak-gerik yang sangat mencurigakan petugas. Anggota Paspampres di Pos 02 langsung sigap menghampiri saat melihat sepatu wanita itu sudah tergeletak lepas.
Jam menunjukkan pukul 23.35 WIB ketika tim pengamanan mulai melakukan pendekatan secara persuasif kepada JSLP. Tas miliknya sudah ditaruh di bawah dan sebuah tali tambang putih sepanjang dua meter ditemukan oleh petugas. JSLP diduga kuat hendak melakukan aksi gantung diri tepat di area ring satu pusat kekuasaan.
Laporan langsung diteruskan ke Komandan Posko dan anggota Brimob yang sedang berjaga di kawasan Medan Merdeka. Petugas medis dari Bidokkes Polres Metro Jakarta Pusat tiba di lokasi sekitar pukul 00.10 WIB dini hari. Proses evakuasi tidak berjalan mulus karena perempuan asal Jakarta Timur ini terus menghindar saat didekati.
Butuh waktu hampir satu jam sampai akhirnya JSLP berhasil diamankan oleh petugas gabungan di lapangan. Saat hendak dibawa ke Polres Metro Jakarta Pusat, wanita malang ini sempat memberontak sekuat tenaga. "Yang bersangkutan terus menjauh setiap kali akan didekati," ujar Kompol Rita Oktavia pada Rabu, 25 Maret 2026.
Misteri Tali Tambang Dua Meter
Polisi menemukan bukti otentik berupa tali tambang warna putih yang sengaja disiapkan di dalam tas korban. Benda ini memperkuat dugaan adanya rencana matang JSLP untuk mengakhiri hidupnya di depan umum. Petugas juga menemukan buku kontrol kejiwaan dari Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo di dalam tasnya tersebut.
Hasil pemeriksaan awal menunjukkan JSLP sedang mengidap depresi berat dan gangguan kesehatan mental yang cukup serius. Kondisi psikisnya sangat tidak stabil sehingga dia cenderung tertutup dan menolak berkomunikasi dengan tim penyidik polisi. Dia berulang kali hanya meracau ingin mati tanpa mau memberikan nomor telepon kontak anggota keluarganya.
Kepolisian kemudian berkoordinasi dengan dokter spesialis kejiwaan yang selama ini menangani pengobatan rutin korban di RSCM. Atas rekomendasi tim medis, JSLP langsung dibawa ke rumah sakit guna mendapatkan penanganan lanjutan yang intensif. "Saya pengin bunuh diri, saya pengin bunuh diri," tutur Rita, menirukan ucapan lirih yang keluar dari mulut JSLP.
Hingga saat ini, JSLP masih dalam perawatan medis dan lebih banyak menghabiskan waktu dengan beristirahat total. Dokter belum memberikan izin kepada polisi untuk melakukan pemeriksaan berita acara karena kondisi pasien belum stabil. Keamanan pasien menjadi prioritas utama sebelum menggali keterangan lebih dalam soal motif aksinya di depan istana.
Luka Lama Pelecehan Seksual
Di balik aksi nekatnya, ternyata tersimpan kisah hidup yang sangat memilukan bagi seorang wanita berusia dua puluh tahun. JSLP pernah menjadi korban pelecehan seksual pada tahun 2023 silam di wilayah hukum Jakarta Pusat. Kala itu dia masih di bawah umur dan sempat membuat laporan resmi ke unit Perlindungan Perempuan dan Anak.
Namun, proses hukum perkara tersebut terpaksa gugur karena adanya kesepakatan damai antarkeluarga kedua belah pihak. Keluarga sepakat menikahkan JSLP dengan pelaku pelecehan tersebut di Kantor Urusan Agama Tegal, Jawa Tengah. Pernikahan yang didasari rasa tanggung jawab pelaku ini ternyata menjadi awal penderitaan baru bagi kehidupan korban.
Setelah menikah, JSLP diboyong oleh suaminya untuk tinggal menetap di wilayah Kabupaten Buol, Sulawesi Tengah. Alih-alih mendapatkan kebahagiaan, JSLP justru diduga mengalami kekerasan dalam rumah tangga yang dilakukan oleh sang suami. Beban mental sebagai korban pelecehan ditambah KDRT membuat kondisi psikologisnya hancur berkeping-keping hingga memicu depresi.
Trauma masa lalu yang bertumpuk diduga kuat menjadi pemicu utama munculnya niat mengakhiri hidup dengan cara tragis. Dia akhirnya memutuskan kembali ke Jakarta sendirian untuk menghindari perlakuan kasar dari suaminya yang masih di Sulawesi. "Mungkin saat rumah tangga ada kejadian KDRT," lanjut Rita, memberikan penjelasan mengenai latar belakang pelarian korban.
Upaya Mencari Suami di Tolitoli
Satres PPA Polres Metro Jakarta Pusat kini berupaya keras menjalin komunikasi dengan suami JSLP di Sulawesi Tengah. Keberadaan keluarga besar korban juga sedang ditelusuri karena JSLP sangat tertutup mengenai identitas orang tuanya saat diperiksa. Polisi membutuhkan kehadiran keluarga untuk mendampingi proses pemulihan mental JSLP yang saat ini sedang terpuruk.
Muncul kabar burung yang menyebutkan bahwa suami JSLP merupakan seorang aparatur sipil negara di daerah asalnya. Namun, Kompol Rita Oktavia enggan memberikan jawaban pasti terkait status pekerjaan pria yang berada di Buol tersebut. Fokus kepolisian saat ini adalah menyelesaikan permasalahan keluarga ini melalui jalur komunikasi yang baik dan benar.
Pihak kepolisian berkomitmen memberikan perlindungan maksimal bagi JSLP mengingat statusnya sebagai korban kekerasan yang berulang kali dialami. Kasus ini menjadi pengingat pentingnya penanganan serius terhadap isu kesehatan mental dan perlindungan bagi korban pelecehan. Pendampingan psikologis akan terus diberikan sampai JSLP benar-benar pulih dan tidak lagi memiliki keinginan bunuh diri.
Saat ini JSLP berada dalam pengawasan ketat tim medis RSCM agar tidak melakukan tindakan yang membahayakan diri sendiri. Petugas berharap suami atau keluarga inti bisa segera datang ke Jakarta untuk memberikan dukungan moral bagi korban. "Penanganannya diselesaikan dengan cara komunikasi dulu," pungkas Rita, menutup keterangan resmi terkait perkembangan kasus ini. R-02

