Dolar AS Perkasa, Rupiah Tersungkur ke Rp16.920! Ini Penyebabnya
Ilustrasri nilai tukar rupiah melemah. Foto: SM News/Create by Al
SABANGMERAUKE NEWS, Jakarta - Nilai tukar rupiah kembali menunjukkan pelemahan pada perdagangan Rabu pagi (25/3/2026), seiring meningkatnya tekanan global akibat konflik geopolitik di Timur Tengah. Sentimen negatif dari pasar internasional, terutama terkait penutupan Selat Hormuz, menjadi pemicu utama depresiasi mata uang Garuda terhadap dolar Amerika Serikat (AS).
Pada pembukaan perdagangan, rupiah tercatat melemah sebesar 22 poin atau 0,13% ke level Rp16.920 per dolar AS, dibandingkan penutupan sebelumnya di Rp16.898 per dolar AS. Pelemahan ini mencerminkan sikap hati-hati investor global yang cenderung menghindari risiko di tengah ketidakpastian yang masih tinggi.
Analis mata uang menilai bahwa kondisi pasar saat ini masih berada dalam fase risk-off, di mana pelaku pasar lebih memilih aset aman seperti dolar AS. Kenaikan harga minyak dunia turut memperburuk tekanan terhadap rupiah. Hal ini tidak terlepas dari gangguan distribusi energi global akibat blokade jalur vital perdagangan minyak.
Penutupan Selat Hormuz berdampak besar terhadap rantai pasok energi global. Jalur ini merupakan salah satu titik paling krusial bagi pengiriman minyak mentah dan gas alam cair dari kawasan Teluk Persia ke berbagai negara. Ketika akses terganggu, harga energi melonjak dan memicu kekhawatiran inflasi global.
Saat ini, harga minyak mentah jenis WTI berada di kisaran 88 dolar AS per barel, sementara Brent menyentuh 98 dolar AS per barel. Kenaikan harga tersebut memberikan tekanan tambahan bagi negara-negara importir energi, termasuk Indonesia, yang pada akhirnya berdampak pada nilai tukar rupiah.
Konflik di Timur Tengah yang melibatkan Iran serta operasi militer dari Amerika Serikat dan Israel menjadi latar belakang utama situasi ini. Meski sempat muncul harapan adanya de-eskalasi, ketidakpastian masih membayangi pasar. Laporan mengenai rencana penghentian sementara serangan oleh Presiden AS Donald Trump sempat memberikan sentimen positif.
Namun, pernyataan tersebut langsung dibantah oleh pihak Iran. Ketua parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, menegaskan bahwa tidak ada negosiasi yang sedang berlangsung dengan Amerika Serikat. Ia bahkan menyebut kabar tersebut sebagai upaya manipulasi pasar energi dan finansial global.
Situasi yang saling bertolak belakang ini membuat investor semakin berhati-hati dalam mengambil keputusan. Ketidakjelasan arah konflik menyebabkan volatilitas tinggi di pasar keuangan, termasuk pasar valuta asing.
Di tengah kondisi tersebut, peran Bank Indonesia menjadi sangat penting dalam menjaga stabilitas rupiah. Bank sentral memastikan akan terus melakukan berbagai langkah strategis untuk meredam gejolak, terutama selama periode libur Lebaran 2026.
Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia, Destry Damayanti, menyatakan bahwa pihaknya telah menyiapkan berbagai instrumen kebijakan moneter guna menjaga ketahanan eksternal Indonesia. Meskipun pasar domestik tutup selama libur panjang, perdagangan rupiah di pasar luar negeri atau offshore tetap berlangsung.
Menurutnya, pergerakan rupiah di pasar offshore perlu mendapat perhatian serius karena fluktuasinya dapat berdampak langsung terhadap stabilitas ekonomi nasional saat pasar domestik kembali dibuka.
“Bank Indonesia memastikan akan menjaga stabilitas rupiah sepanjang libur Lebaran 2026 sebagai langkah antisipasi terhadap meningkatnya ketidakpastian global akibat konflik Timur Tengah,” ujarnya dalam keterangan resmi.
Langkah-langkah yang disiapkan meliputi intervensi di pasar valuta asing, penguatan likuiditas, hingga penyesuaian kebijakan suku bunga jika diperlukan. Semua ini dilakukan untuk menjaga kepercayaan investor terhadap ekonomi Indonesia.
Selain itu, Bank Indonesia juga berkomitmen untuk terus memantau perkembangan global secara intensif. Jika eskalasi konflik semakin meningkat, maka respons kebijakan akan disesuaikan agar tetap mampu menjaga stabilitas makroekonomi.
Pelemahan rupiah hari ini menjadi pengingat bahwa faktor eksternal masih memiliki pengaruh besar terhadap pergerakan mata uang domestik. Ketergantungan pada dinamika global, khususnya harga energi dan geopolitik, membuat rupiah rentan terhadap gejolak.
Meski demikian, fundamental ekonomi Indonesia dinilai masih cukup kuat untuk menghadapi tekanan jangka pendek. Dengan koordinasi kebijakan yang solid antara pemerintah dan Bank Indonesia, diharapkan dampak negatif dari gejolak global dapat diminimalkan.
Ke depan, pelaku pasar akan terus mencermati perkembangan konflik di Timur Tengah, terutama terkait status Selat Hormuz. Jika jalur tersebut kembali dibuka dan distribusi energi normal, tekanan terhadap rupiah berpotensi mereda.
Namun, selama ketidakpastian masih tinggi, volatilitas nilai tukar diperkirakan akan tetap terjadi. Oleh karena itu, stabilitas rupiah akan sangat bergantung pada respons kebijakan serta perkembangan situasi global dalam beberapa waktu ke depan. (R-05)

