Jangan Anggap Sepele, Aritmia Bisa Serang Usia Muda Tanpa Gejala
Ilustrasi aritmia. Foto: Dok SM News
SABANGMERAUKE NEWS, Jakarta - Kasus aritmia atau gangguan irama jantung kini tak lagi identik dengan usia lanjut. Di tengah gaya hidup modern yang serba cepat, aritmia justru mulai banyak ditemukan pada kalangan usia muda. Kondisi ini menjadi perhatian serius karena sering muncul tanpa gejala jelas, namun berpotensi memicu komplikasi berbahaya jika diabaikan.
Dokter spesialis jantung dan pembuluh darah subspesialis aritmia, Setiawan Widodo, mengungkapkan bahwa aritmia adalah gangguan pada sistem kelistrikan jantung yang mengatur detak. Akibatnya, denyut jantung bisa menjadi terlalu cepat (takikardia), terlalu lambat (bradikardia), atau tidak teratur.
“Normalnya, jantung berdetak antara 60 hingga 100 kali per menit saat istirahat. Pada penderita aritmia, ritme ini bisa berubah drastis,” jelas Setiawan, Selasa (24/3/2026).
Fenomena meningkatnya kasus aritmia di usia muda tidak terjadi begitu saja. Ada sejumlah faktor pemicu yang kerap dianggap sepele, padahal memiliki dampak signifikan terhadap kesehatan jantung.
Salah satu penyebab utama adalah konsumsi kafein berlebihan, termasuk dari kopi, teh, dan minuman berenergi. Tidak hanya itu, penggunaan suplemen penurun berat badan yang mengandung stimulan juga dapat memicu lonjakan detak jantung secara tidak normal.
Selain itu, penggunaan zat stimulan terlarang seperti amfetamin dan kokain menjadi faktor risiko yang sangat berbahaya. Zat ini memang memberikan efek euforia, tetapi secara langsung dapat mengganggu sistem listrik jantung dan meningkatkan risiko aritmia berat.
Ketidakseimbangan elektrolit juga menjadi penyebab yang sering tidak disadari. Kekurangan kalium, magnesium, atau kalsium—yang bisa terjadi akibat dehidrasi, pola makan buruk, atau gangguan makan—dapat mengacaukan ritme jantung.
Di sisi lain, beberapa kasus aritmia pada usia muda dipicu oleh kelainan jantung bawaan. Misalnya, Sindrom Wolff-Parkinson-White (WPW) dan Long QT Syndrome, yang dapat menyebabkan detak jantung sangat cepat dan berpotensi mengancam jiwa.
Gangguan hormon seperti penyakit tiroid juga berperan penting. Hipertiroidisme dapat mempercepat detak jantung, sedangkan hipotiroidisme justru memperlambatnya.
Tak kalah penting, gaya hidup tidak sehat menjadi faktor dominan. Kurang tidur, stres kronis, kebiasaan merokok, konsumsi alkohol, hingga pola hidup sedentari (minim aktivitas fisik) menjadi kombinasi berbahaya yang memperbesar risiko aritmia di usia muda.
“Semua faktor ini membuat siapa pun, termasuk anak muda, tetap berisiko mengalami aritmia,” tegas Setiawan.
Yang menjadi persoalan, gejala aritmia sering kali tidak disadari. Banyak penderita menganggapnya sebagai keluhan ringan yang tidak perlu diperiksa. Padahal, gejala awal bisa berupa detak jantung tidak teratur, dada berdebar, pusing, hingga mudah lelah.
Dalam beberapa kasus, aritmia bahkan tidak menimbulkan gejala sama sekali hingga akhirnya terdeteksi saat kondisi sudah memburuk.
Karena itu, Setiawan mengingatkan pentingnya kewaspadaan sejak dini. Jika merasakan gejala mencurigakan, masyarakat dianjurkan segera melakukan pemeriksaan medis, salah satunya elektrokardiogram (EKG).
Pemeriksaan EKG merupakan metode non-invasif yang digunakan untuk merekam aktivitas listrik jantung. Dengan alat ini, dokter dapat mendeteksi adanya gangguan irama secara akurat dan menentukan langkah penanganan yang tepat.
Selain deteksi dini, pencegahan menjadi kunci utama dalam menghadapi ancaman aritmia di usia muda. Langkah-langkah sederhana dapat dilakukan, seperti membatasi konsumsi kafein dan minuman energi, menjaga pola tidur yang cukup, serta mengelola stres dengan baik.
Menghindari penggunaan obat-obatan stimulan tanpa resep dokter juga sangat penting. Di samping itu, pola makan sehat yang kaya nutrisi dan seimbang perlu diterapkan untuk menjaga keseimbangan elektrolit dalam tubuh.
Aktivitas fisik secara rutin juga menjadi bagian penting dalam menjaga kesehatan jantung. Olahraga teratur dapat membantu memperkuat fungsi jantung sekaligus mengurangi risiko gangguan irama.
Tak kalah penting, pemeriksaan kesehatan jantung secara berkala perlu dilakukan, terutama bagi mereka yang memiliki riwayat penyakit jantung dalam keluarga.
Aritmia pada usia muda adalah ancaman nyata yang kerap tersembunyi di balik gaya hidup modern. Kesadaran akan gejala, faktor risiko, serta pentingnya pemeriksaan dini menjadi langkah penting untuk mencegah dampak yang lebih serius.
Dengan pola hidup sehat dan perhatian terhadap sinyal tubuh, risiko aritmia dapat ditekan sejak dini. Jangan abaikan detak jantung yang terasa tidak biasa—karena bisa jadi itu adalah tanda awal gangguan yang lebih besar. (R-05)

