Wartawan Gaek Kena Jebakan Betmen? Kakanwil Riau dan KNPI Perang Narasi Panas!
Ilustrasi penangkapan wartawan karena diduga memeras Kalapas Pekanbaru. Foto: SM News/Create by AI
SABANGMERAUKE NEWS, Pekanbaru - Suasana malam takbiran di Pekanbaru mendadak guncang gara-gara kasus amplop cokelat di Kafe Zaki. Penangkapan pria sepuh berinisial KS alias Edi Lelek memicu perang narasi antara petinggi penjara dan aktivis pemuda.
Kakanwil Ditjenpas Riau, Maizar, angkat bicara soal drama kriminal ini. Dia menuding KS memeras Kepala Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIA Pekanbaru hingga belasan juta rupiah. Modusnya adalah janji untuk menghapus konten negatif soal peredaran narkoba dalam penjara.
Tetapi salah satu Ketua DPD Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) Riau, Larshen Yunus, justru meledak mendengar kabar tersebut. Larshen menyebut penangkapan KS merupakan "jebakan betmen" yang sangat biadab. Pria lansia berumur 60 tahun itu dianggap menjadi korban kriminalisasi oknum pejabat.
Maizar Bongkar Kronologi
Maizar menjelaskan bahwa kasus bermula dari berita peredaran narkotika yang tidak berimbang. Lapas sudah mengajukan hak jawab, namun tidak kunjung tayang. Situasi memanas saat oknum wartawan meminta uang agar konten negatif segera lenyap.
Permintaan dana awal sebesar 3 juta rupiah sempat manajemen lapas berikan. Namun pelaku justru kembali meminta tambahan dana hingga mencapai 15 juta rupiah. "Kalau sudah masuk ranah pemerasan, tentu harus proses hukum," tegas Maizar dengan nada serius.
Lapas kemudian melaporkan kejadian ini ke Polsek Bukit Raya demi penindakan hukum. Polisi mengatur strategi penyerahan uang langsung di sebuah kafe jalan Arifin Ahmad. Pelaku akhirnya tertangkap tangan saat menerima amplop berisi uang 5 juta rupiah.
Sebut Kriminalisasi
Larshen Yunus justru mempertanyakan dugaan jebakan betmen garapan pejabat lapas. Aktivis antikorupsi ini merasa ada penyalahgunaan kewenangan dalam penangkapan tersebut. Edi Lelek merupakan pria lansia yang tinggal di Kota Pekanbaru.
Larshen merasa heran mengapa masalah internal narkoba dalam lapas justru tidak kunjung selesai.
"Pelapor atas kasus tersebut benar-benar picik dan biadab," ungkap Larshen.
Ia meminta polisi cermat dalam menganalisis riwayat komunikasi kedua belah pihak.
Menurut Larshen, tindak pidana pemerasan tidak bisa hanya berdasarkan barang bukti uang di lokasi. Rekaman CCTV di kafe harus diperiksa oleh polisi untuk melihat ekspresi saat pertemuan berlangsung. Jika suasana terlihat penuh gelak tawa, maka unsur pemerasan sulit terpenuhi.
Borok Lapas Jadi Sorotan
Isu pengendalian narkoba dari balik jeruji memang sedang menjadi perbincangan hangat masyarakat. Narapidana berinisial AA bahkan dituding mengendalikan 117 kilogram sabu dari dalam penjara. Namun, pejabat lapas kerap memilih irit bicara saat media mencoba melakukan konfirmasi.
Kalapas Pekanbaru, Yuniarto, membantah informasi soal warga binaan pengendali narkoba berinisial AW. Padahal polisi sempat menyebut nama tersebut dalam rangkaian pengungkapan kasus kurir sabu. Perbedaan informasi ini memicu kecurigaan publik terhadap transparansi manajemen penjara.
Maizar menegaskan manajemen lapas tetap berkomitmen memberantas peredaran narkotika sesuai prosedur. Penangkapan KS dianggap sebagai langkah untuk melindungi nama baik instansi dari upaya pemerasan ilegal. Namun, KNPI mendesak agar polisi jangan sampai hanya mengikuti pesanan para pejabat daerah.
Nasib Edi Lelek di Ujung Tanduk
Polisi kini menahan KS untuk menjalani proses penyelidikan lebih lanjut di Mapolsek. Tersangka terancam jeratan Pasal 483 KUHP terkait aksi pemerasan dan pengancaman. Tim Reskrim masih memburu satu rekan pelaku yang berhasil melarikan diri saat penyergapan.
Larshen Yunus mengajak Kapolsek Bukit Raya untuk bertindak jujur dan tidak mencla-mencle. Keadilan harus tegak bagi semua kalangan tanpa melihat jabatan sang pelapor. Masyarakat kini menunggu apakah kasus ini murni kriminalitas atau sekadar pembungkaman suara kritis.
Idulfitri kali ini terasa sangat berbeda bagi keluarga wartawan gaek tersebut. Jeruji besi menjadi tempat persinggahan sementara di tengah hiruk-pikuk perayaan kemenangan. Publik Riau terus memantau setiap langkah hukum dalam skandal amplop cokelat Arifin Ahmad ini. R-02

