Dibunuh Saat Kunjungi Anak, Ali Larijani Jadi Target Utama Serangan Israel-AS
Ali Larijani. Foto: Dok SM News
SABANGMERAUKE NEWS, Jakarta – Dunia internasional kembali diguncang kabar besar dari Timur Tengah. Kepala keamanan top sekaligus politikus senior Iran, Ali Larijani, dilaporkan tewas dalam serangan gabungan Amerika Serikat (AS) dan Israel di wilayah Republik Islam tersebut. Kematian tokoh berpengaruh ini menjadi pukulan telak bagi struktur kekuasaan Iran di tengah memanasnya konflik kawasan.
Menurut laporan kantor berita semi-resmi Iran, Fars, Larijani tewas akibat serangan udara yang menghantam kawasan pinggiran timur Teheran saat ia tengah mengunjungi putrinya. Informasi ini diperkuat oleh pernyataan Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, yang sebelumnya menyebut Larijani sebagai salah satu target penting dalam operasi militer tersebut.
Larijani bukanlah sosok biasa. Di usia 67 tahun, ia dikenal sebagai salah satu arsitek utama kebijakan keamanan Iran dan tokoh kunci dalam lingkaran kekuasaan tertinggi. Selama bertahun-tahun, ia menjadi penasihat dekat Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei, hingga wafatnya Khamenei dalam serangan udara pada bulan sebelumnya.
Sosok Strategis di Balik Kebijakan Iran
Sebagai figur sentral dalam politik Iran, Larijani memiliki rekam jejak panjang di berbagai posisi strategis. Ia pernah menjabat sebagai komandan Korps Garda Revolusi Iran pada era perang Iran-Irak di tahun 1980-an—sebuah periode yang membentuk karakter militernya yang tegas.
Tak hanya itu, ia juga sempat memimpin lembaga penyiaran nasional Iran sebelum akhirnya menduduki jabatan penting sebagai Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi. Dalam karier politiknya, Larijani juga menjabat sebagai Ketua Parlemen Iran selama 12 tahun, menjadikannya salah satu tokoh paling berpengaruh dalam sistem pemerintahan negara tersebut.
Sebagai bagian dari keluarga ulama terkemuka pasca Revolusi Islam 1979, Larijani dikenal sebagai sosok yang cerdas, pragmatis, namun tetap setia pada sistem teokrasi Iran. Ia memainkan peran penting dalam berbagai isu strategis, mulai dari negosiasi nuklir dengan Barat hingga pengelolaan hubungan regional Teheran.
Peran dalam Program Nuklir dan Diplomasi
Larijani dikenal luas sebagai wajah diplomasi Iran di kancah internasional. Ia menjadi salah satu tokoh utama dalam perundingan nuklir dengan negara-negara Barat, berusaha menjaga keseimbangan antara ambisi pengembangan teknologi nuklir dan tekanan internasional.
Dengan gaya komunikasi yang tenang dan terukur, ia sering tampil di media untuk menjelaskan posisi Iran kepada dunia. Meski berada di lingkaran kekuasaan yang keras, Larijani kerap mengambil pendekatan lebih moderat dibandingkan tokoh garis keras lainnya.
Namun, pendekatan tersebut tidak selalu berhasil. Kebijakan nuklir yang ia bantu rancang kini dianggap gagal total, terutama setelah serangan militer AS-Israel yang dimulai pada 28 Februari lalu. Serangan tersebut diyakini sebagai respons terhadap ambisi nuklir Iran yang dinilai semakin mengkhawatirkan oleh Barat.
Kontroversi dan Sanksi Internasional
Di balik citra moderatnya, Larijani juga tidak lepas dari kontroversi. Ia diduga berperan dalam penanganan keras terhadap gelombang protes besar di Iran pada Januari lalu. Penindakan tersebut dilaporkan menewaskan ribuan demonstran dan memicu kecaman global.
Akibat peristiwa itu, pemerintah Amerika Serikat menjatuhkan sanksi terhadap Larijani hanya beberapa pekan sebelum kematiannya. Sanksi tersebut menjadi simbol meningkatnya tekanan internasional terhadap elite politik Iran.
Setelah konflik militer dengan AS dan Israel memanas, Larijani termasuk tokoh pertama yang angkat bicara. Ia menuduh pihak luar berupaya menghancurkan Iran dan memperingatkan keras terhadap potensi aksi protes dalam negeri.
Dampak Kematian Larijani
Kematian Larijani diperkirakan akan memicu perubahan besar dalam dinamika politik Iran. Sebagai salah satu figur kunci yang menjembatani militer, politik, dan diplomasi, kepergiannya meninggalkan kekosongan strategis yang sulit diisi.
Selain itu, kematian Ali Khamenei sebelumnya telah memicu perebutan kekuasaan di internal elite Iran. Dalam situasi tersebut, Korps Garda Revolusi diperkirakan akan semakin memperkuat dominasinya, menggeser peran politisi sipil seperti Larijani.
Para analis menilai bahwa absennya figur moderat seperti Larijani dapat mendorong Iran ke arah kebijakan yang lebih keras dan konfrontatif. Hal ini berpotensi memperburuk ketegangan dengan Barat dan meningkatkan risiko konflik yang lebih luas di kawasan Timur Tengah.
Eskalasi Konflik yang Kian Memanas
Serangan yang menewaskan Larijani menjadi bagian dari eskalasi konflik yang terus meningkat antara Iran di satu sisi, dan Amerika Serikat serta Israel di sisi lain. Operasi militer yang dimulai sejak akhir Februari telah menargetkan berbagai fasilitas strategis dan tokoh penting Iran.
Situasi ini memicu kekhawatiran global akan potensi perang besar di kawasan yang selama ini dikenal sebagai salah satu titik paling rawan konflik di dunia.
Dengan tewasnya Larijani, Iran tidak hanya kehilangan seorang tokoh penting, tetapi juga simbol stabilitas dalam sistem politiknya. Dunia kini menanti bagaimana Teheran akan merespons—apakah memilih jalur balasan militer atau membuka ruang diplomasi baru di tengah tekanan yang semakin besar. (R-03)

