Serie A Italia
Comeback Gila Como 1907! Gusur Juventus dan Roma dari Empat Besar
Como 1907 berhasil masuk zona Liga Champions usai mengalahkan AS Roma. (ist)
SABANGMERAUKE NEWS, Como - Roma datang ke kandang Como dengan mimpi besar, namun pulang dengan kepala panas. Di Stadion Giuseppe Sinigaglia, Senin, 16 Maret 2026 dini hari WIB, I Lupi sempat memimpin lebih dulu lalu roboh 1-2 dari Como.
Awalnya semua tampak ramah untuk Roma. Laga baru masuk menit keenam saat Stephan El Shaarawy dijatuhkan Diego Carlos di kotak terlarang. Wasit menunjuk titik putih tanpa banyak drama. Donyell Malen maju sebagai algojo dan menendang lurus ke tengah. Bola masuk. Roma unggul cepat 1-0 dan seisi laga seperti memberi sinyal palsu.
Keunggulan itu tidak membuat Roma nyaman. Como malah terus menekan seperti tamu yang tak mau pulang. Alex Valle mengancam lebih dulu. Mile Svilar masih sigap. Sergi Roberto ikut menebar ancaman. Nico Paz juga mendapat ruang tembak. Sampai babak pertama habis, Como terlihat lebih lapar meski papan skor masih berpihak pada Roma.
Roma sempat mencoba meredam tempo. Namun ritme laga pelan-pelan berpindah ke tangan tuan rumah. Como bermain lebih berani. Umpan-umpan vertikal mereka makin tajam. Roma justru terlihat seperti tim yang sedang menunggu masalah datang.
Babak Kedua yang Menggila
Masalah itu akhirnya benar-benar datang pada menit ke-59. Tasos Douvikas lolos dari jebakan offside dan melesat ke depan gawang. Penyelesaian akhirnya dingin. Skor berubah jadi 1-1. Stadion mendidih. Roma mulai goyah. Como mencium darah.
Lima menit kemudian, laga masuk ke titik yang bikin Roma naik pitam. Wesley mendapat kartu kuning kedua usai dianggap melanggar Assane Diao. Roma harus bermain dengan 10 orang sejak menit ke-64. Gasperini menilai keputusan itu sangat menentukan. Ia juga menyentil tren pemain yang gampang jatuh di lapangan. “Hari ini tak ada gunanya mengomentari tren sepak bola ini, terutama soal diving,” katanya usai laga.
Sejak momen itu, Roma seperti kehilangan pegangan. Como terus menggempur dari segala arah. Martin Baturina sempat mengancam. Assane Diao juga membuat lini belakang Roma ketar-ketir. Svilar beberapa kali masih menahan kebobolan lebih banyak. Namun tembok itu akhirnya jebol juga.
Menit ke-79 jadi pukulan telak. Ivan Smolcic melepaskan percobaan keras. Svilar bisa menepis. Bola liar jatuh ke area berbahaya. Diego Carlos menyambarnya tanpa ampun. Sepakan itu meluncur ke pojok kiri gawang. Como berbalik unggul 2-1. Roma tersentak. Como berpesta. Gasperini makin panas.
Roma lalu mencoba mengejar. Namun tenaga mereka sudah terkuras. Malen yang sempat jadi pembeda di awal laga tak lagi terasa pengaruhnya setelah pergantian dan tekanan makin berat. Gasperini juga menegaskan timnya sangat bergantung pada penyerang itu dalam menciptakan peluang bersih. “Kami memang mengandalkannya,” ucapnya singkat.
Gasperini Murka, Fabregas Tetap Dingin
Kekalahan ini tidak cuma menyakitkan di papan skor. Emosi juga ikut mendidih. Gasperini terang-terangan kecewa pada keputusan yang berujung kartu merah. Menurutnya, insiden itu merusak arah pertandingan. “Itu episode yang menentukan,” kata pelatih Roma tersebut. Nada bicaranya menunjukkan satu hal: Roma merasa dirampok momentum saat sedang berusaha bertahan dalam laga yang keras dan rapat.
Di kubu seberang, Cesc Fabregas memilih nada yang lebih tenang. Ia memuji respons timnya setelah tertinggal cepat lewat penalti. Menurutnya, Como tidak kehilangan kepala. Como justru menunjukkan lapar, sabar, dan disiplin. “Para pemain saya luar biasa lapar,” ujar Fabregas. Kalimat itu terdengar sederhana, tapi sangat pas menggambarkan permainan Como malam itu.
Fabregas juga belum mau mabuk Liga Champions. Kemenangan ini memang membawa Como naik ke peringkat keempat dengan 54 poin. Juventus ada tepat di belakang dengan 53 poin. Roma tertahan di angka 51. Namun eks gelandang Arsenal, Barcelona, dan Chelsea itu meminta timnya tetap membumi. Ia menegaskan Como belum mau sibuk bicara tiket Liga Champions. Fokus utama tetap pertumbuhan tim dan konsistensi.
Buat Roma, kekalahan ini terasa seperti alarm keras yang berbunyi di tengah malam. Mereka sempat memegang tiket masuk empat besar, lalu melepaskannya sendiri saat laga berubah panas. Keunggulan cepat tidak cukup. Disiplin buyar. Tekanan lawan makin liar. Saat satu pemain hilang, seluruh bangunan tim ikut miring.
Masalah buat Roma belum selesai. Mereka kini harus cepat bangkit karena agenda Eropa sudah menunggu. Gasperini menuntut timnya segera memulihkan energi dan menata kepala. “Kamis adalah pertandingan yang penting dan kami harus siap,” ujarnya. Itu bukan sekadar kalimat penutup. Itu peringatan darurat untuk tim yang baru saja jatuh di momen paling sensitif musim ini.
Malam di Como pun ditutup dengan dua wajah yang bertolak belakang. Tuan rumah tersenyum sambil menatap langit empat besar. Roma berjalan keluar dengan luka, amarah, dan banyak tanda tanya. Dalam 90 menit yang liar ini, Serie A sekali lagi menunjukkan satu hal: unggul cepat tidak selalu berarti selamat. R-02

