Serie A Italia
Hasil Memalukan! AC Milan Buang Peluang Emas, Scudetto Kian Menjauh
Kiper Lazio, Edoardo Motta mencoba menepis sundulan Rafael Leao di laga Lazio vs AC Milan, Senin, 16 Maret 2026 dini hari. (AP Photo)
SABANGMERAUKE NEWS, Roma - AC Milan datang ke Roma dengan kepala penuh mimpi. Mereka ingin memangkas jarak dari Inter Milan. Namun, yang terjadi malah sebaliknya. Rossoneri terpeleset di Stadion Olimpico usai tumbang 0-1 dari Lazio pada Senin, 16 Maret 2026 dini hari WIB.
Hasil ini terasa seperti rem mendadak di tengah laju perburuan gelar. Inter lebih dulu terpeleset saat ditahan Atalanta. Milan punya jalan terbuka untuk mendekat. Jalan itu malah berubah jadi lorong gelap setelah Gustav Isaksen muncul sebagai pembeda.
Gol tunggal Isaksen lahir di babak pertama. Gol itu cukup untuk membuat Lazio berpesta kecil di rumah sendiri. Milan menguasai bola lebih lama, menekan lebih sering, namun gagal mengubah dominasi jadi angka di papan skor. Reuters melaporkan kekalahan ini membuat Milan tetap di posisi kedua dengan 60 poin, tertinggal delapan angka dari Inter, sementara Lazio naik ke posisi kesembilan dengan 40 poin.
Laga ini seperti cerita lama Milan yang diputar ulang. Mereka tampil cukup rapi pada awal pertandingan. Mereka memegang ritme. Mereka menguasai arah serangan. Namun satu celah kecil langsung dihukum Lazio tanpa ampun.
Peluang pertama Milan lahir pada menit ke-23. Umpan silang Alexis Saelemaekers disambut Estupinan dengan sundulan menyelam. Bola meleset tipis. Stadion belum sempat tenang saat Lazio membalas lewat Kenneth Taylor. Tembakannya dari sudut sempit menghantam mistar dan membuat jantung Milan bergetar.
Getaran itu berubah jadi petaka pada menit ke-26. Adam Marusic mengirim bola lambung ke depan. Estupinan gagal membaca arah. Isaksen lolos di ruang kosong. Winger Denmark itu menembak tajam ke dekat tiang dan menaklukkan Mike Maignan. Skor 1-0 pun lahir seperti sambaran mendadak.
Gol itu mengubah wajah pertandingan. Milan makin agresif. Lazio malah makin nyaman. Tuan rumah tidak banyak bicara dengan bola. Mereka bicara lewat disiplin, tekanan, dan rapatnya barisan belakang. Milan terus berputar di depan kotak penalti, tapi sering mentok seperti mobil kencang yang masuk jalan buntu.
Milan Dominan, Lazio Lebih Tajam
Masuk babak kedua, Milan langsung tancap gas. Christian Pulisic melepaskan tembakan dari tepi kotak penalti. Edoardo Motta terbang dan menepisnya. Itu salah satu momen yang membuat Milan merasa malam ini mungkin belum tertutup rapat.
Rossoneri sempat mengira kerja keras mereka akhirnya berbuah. Bola masuk ke gawang Lazio lewat Zachary Athekame. Namun wasit menganulir gol itu karena bola lebih dulu mengenai lengan. Harapan Milan naik sebentar lalu jatuh lagi. Reuters juga mencatat gol tersebut dibatalkan pada menit ke-75 dan menjadi salah satu titik balik yang membuat tekanan Milan kehilangan gigi.
Selepas momen itu, Milan terus menyerang. Rafael Leao mencoba membelah sisi lapangan. Pulisic mencari ruang tembak. Modric mengatur aliran bola. Namun Lazio tetap kukuh. Setiap serangan Milan terasa seperti ombak besar yang pecah di batu karang.
Lazio tidak tampil mewah. Lazio tampil cerdas. Mereka tahu kapan menekan. Mereka tahu kapan mundur. Mereka tahu kapan mengunci ruang. Di malam seperti ini, efisiensi terasa lebih mahal daripada penguasaan bola.
Gustav Isaksen pun layak disebut sebagai wajah kemenangan Lazio. Satu golnya jadi pembeda utama. Ia juga jadi ancaman paling nyata setiap kali tim ibu kota menyerang balik. Di laga yang tidak penuh hujan peluang, satu pemain tajam memang bisa jadi pembuka pintu kemenangan.
Banyak mata juga tertuju pada bangku Milan. Tekanan laga terasa jelas. Misi mengejar Inter menempel di kepala para pemain. Saat peluang demi peluang gagal jadi gol, permainan Milan terlihat makin tergesa. Tempo naik, akurasi justru turun.
Scudetto Kian Menjauh
Usai laga, Massimiliano Allegri tidak bersembunyi di balik alasan manis. Ia mengakui timnya banyak membuat kesalahan sendiri. Menurutnya, Lazio bermain lepas karena tidak dibebani target besar di papan atas, sedangkan Milan datang dengan beban mengejar jarak dari Inter. Komentar itu sejalan dengan laporan Bola.net yang menyorot pengakuan Allegri soal kesalahan teknis timnya.
“Kami membuat banyak kesalahan teknikal,” kata Allegri usai pertandingan. Kalimat itu pendek. Kalimat itu tajam. Kalimat itu juga seperti ringkasan sempurna untuk malam buruk Rossoneri di Roma.
Allegri juga menilai timnya sebenarnya tidak tampil sangat buruk. Namun sepak bola tidak membayar niat. Sepak bola membayar detail. Saat organisasi permainan longgar di satu momen, Lazio langsung mencetak gol. Saat peluang hadir untuk Milan, penyelesaian akhirnya justru luntur.
Kekalahan ini membuat pembicaraan soal scudetto mulai terdengar makin berat bagi Milan. Inter memang tidak menang pada pekan ini. Namun Milan gagal memanfaatkan momen emas itu. Selisih delapan poin tetap bertahan. Dengan musim yang makin menua, jarak itu terasa tidak kecil lagi. Reuters menulis Allegri kini mendorong timnya untuk cepat reset dan fokus mengamankan tiket Liga Champions.
Di sisi lain, Lazio menikmati kemenangan yang terasa penting. Tambahan tiga poin mengangkat posisi mereka ke papan tengah atas. Lebih dari itu, kemenangan atas tim sebesar Milan memberi suntikan tenaga untuk laga-laga berikutnya. Olimpico pun menjadi panggung yang menyenangkan bagi tuan rumah.
Milan kini harus cepat bangkit. Luka dari Roma tidak bisa terlalu lama dipelihara. Jadwal tidak suka menunggu tim yang sedang murung. Rossoneri masih punya cukup laga untuk memberi respons, namun mereka tidak punya banyak ruang untuk tergelincir lagi.
Malam di Olimpico akhirnya ditutup dengan satu pesan keras. Dominasi tanpa ketajaman cuma jadi angka kosong. Milan membawa ambisi besar ke Roma. Lazio membawa pulang hasil besar. Satu gol Isaksen cukup untuk membuat perburuan gelar Milan terasa makin terjal. R-02

