Dampak Perang Timur Tengah! Harga Tiket Pesawat Tiba-tiba Melambung Hingga Dua Kali Lipat
Ilustrasi perang Timur Tengah. Foto: Dok SM News
SABANGMERAUKE NEWS, Jakarta - Lonjakan harga tiket pesawat mulai dirasakan para pelancong di berbagai rute internasional setelah memanasnya konflik Amerika Serikat–Israel dengan Iran. Perang yang memicu kenaikan harga minyak dunia itu berdampak langsung pada biaya bahan bakar jet, sehingga maskapai penerbangan terpaksa menyesuaikan tarif penerbangan.
Sejumlah penumpang bahkan mengaku terkejut melihat harga tiket yang tiba-tiba melonjak, terutama untuk penerbangan jarak jauh dan pemesanan mendadak. Kenaikan ini paling terasa pada rute trans-Atlantik, Karibia, hingga sejumlah penerbangan domestik di Amerika Serikat.
Dikutip dari laporan The Wall Street Journal, Minggu (15/3/2026), para eksekutif industri penerbangan mengakui bahwa konflik geopolitik di Timur Tengah telah memberi efek domino terhadap industri transportasi udara. Ketegangan antara AS-Israel dan Iran memicu lonjakan harga minyak global, yang menjadi komponen biaya terbesar dalam operasional maskapai.
Akibatnya, harga rata-rata tiket penerbangan mengalami kenaikan dalam beberapa hari terakhir. Bahkan pada beberapa maskapai, kenaikan tersebut terbilang cukup tajam.
Salah satu maskapai yang mencatat lonjakan tarif paling signifikan adalah Spirit Airlines. Maskapai berbiaya rendah itu mengalami peningkatan harga mingguan tertinggi untuk penerbangan domestik yang dipesan sekitar 21 hari sebelum keberangkatan.
Data pemesanan sejak 6 Maret menunjukkan harga tiket satu arah termurah meningkat lebih dari dua kali lipat dalam waktu sepekan, hingga mencapai US$193 atau sekitar Rp3 juta. Lonjakan ini menjadi salah satu sinyal kuat bahwa perang di Timur Tengah mulai mengguncang industri penerbangan global.
Tidak hanya Spirit Airlines, maskapai besar lainnya juga mengalami kenaikan harga tiket. United Airlines dan Delta Air Lines, misalnya, mencatat kenaikan tarif antara 15 persen hingga 57 persen untuk penerbangan domestik yang dipesan jauh hari.
Para analis menyebutkan bahwa lonjakan harga minyak merupakan faktor utama yang mendorong kenaikan tarif penerbangan. Bahan bakar jet menyumbang sekitar 20 hingga 30 persen dari total biaya operasional maskapai, sehingga perubahan harga minyak dunia dapat langsung mempengaruhi harga tiket.
CEO United Airlines, Scott Kirby, mengatakan bahwa kenaikan harga tiket merupakan konsekuensi yang hampir tidak bisa dihindari ketika harga bahan bakar melonjak tajam.
“Ketika harga naik secepat ini, harga tiket pesawat juga naik. Namun biasanya harga tiket akan turun kembali ketika harga bahan bakar menurun. Itu sudah menjadi pola yang selalu terjadi di industri ini,” kata Kirby.
Meski begitu, harga tiket pesawat sebenarnya tidak hanya ditentukan oleh harga minyak. Ada sejumlah faktor lain yang ikut memengaruhi, seperti permintaan penumpang, kondisi ekonomi global, serta strategi penetapan harga yang diterapkan maskapai.
Pendiri Atmosphere Research Group, Henry Harteveldt, menjelaskan bahwa dampak kenaikan harga bahan bakar tidak dirasakan secara merata oleh semua maskapai.
Maskapai yang memiliki armada pesawat lebih modern dan hemat bahan bakar cenderung lebih terlindungi dari lonjakan biaya operasional. Dalam hal ini, United Airlines dan Delta Air Lines dinilai memiliki posisi yang relatif lebih kuat.
Sebaliknya, maskapai yang masih menggunakan pesawat generasi lama dengan konsumsi bahan bakar tinggi akan menghadapi tekanan biaya yang lebih besar.
“Maskapai yang bergantung pada pesawat yang lebih tua atau kurang efisien kemungkinan akan terkena dampak lebih besar dari kenaikan harga bahan bakar jet,” ujar Harteveldt.
Kondisi ini juga membuat sejumlah analis mulai merevisi proyeksi pendapatan maskapai. Firma analis TD Cowen, misalnya, menurunkan target pendapatan beberapa maskapai besar karena memperkirakan biaya operasional akan meningkat dalam beberapa bulan ke depan.
Para analis juga memprediksi maskapai akan segera memperbarui panduan bisnis mereka pada pekan depan, seiring dengan ketidakpastian yang muncul akibat konflik geopolitik.
Namun di sisi lain, maskapai tidak bisa menaikkan harga tiket secara sembarangan. Jika tarif terlalu tinggi, permintaan penumpang bisa turun drastis.
“Maskapai penerbangan tahu bahwa jika mereka menaikkan harga tiket terlalu tinggi, mereka bisa kehilangan lebih banyak penjualan daripada keuntungan yang didapat,” jelas Harteveldt.
Situasi ini membuat maskapai harus mencari keseimbangan antara menutup biaya operasional dan tetap menjaga minat penumpang untuk terbang.
Di kalangan pelancong, lonjakan harga tiket ini mulai memengaruhi rencana perjalanan. Sebagian wisatawan memilih menunda liburan internasional hingga situasi geopolitik lebih stabil.
Namun sebagian lainnya tetap melanjutkan rencana perjalanan yang sudah disusun jauh hari sebelumnya.
Sam Alexander, seorang investor modal ventura yang sering bepergian, mengaku langsung memesan tiket pesawat untuk seluruh rencana perjalanannya tahun ini begitu konflik mulai memanas.
Ia khawatir harga minyak yang melonjak akan membuat tiket pesawat semakin mahal dalam waktu dekat.
“Saya bersyukur bisa mendapatkan tiket dengan harga bagus beberapa hari setelah perang dimulai,” ujar Alexander.
Keputusan tersebut terbukti tepat. Dua hari setelah ia memesan tiket penerbangan ke Hawaii untuk perjalanan pada April mendatang, harga tiket yang sama naik hingga US$400.
Meski harga tiket meningkat, beberapa maskapai masih mencatat permintaan perjalanan yang cukup tinggi. Spirit Airlines, misalnya, melaporkan bahwa pemesanan untuk periode liburan musim semi tetap kuat.
Maskapai tersebut memperkirakan sebagian besar kursi penerbangan pada akhir Maret hingga awal April akan terisi oleh penumpang.
Hal serupa juga terjadi di United Airlines. CEO Scott Kirby mengatakan bahwa perusahaan bahkan mencatatkan rekor pemesanan harian tertinggi berdasarkan pendapatan pada pekan ini.
Menurut Kirby, perilaku pelancong global saat ini telah berubah dibandingkan masa lalu.
“Dulu peristiwa seperti konflik di Iran biasanya langsung memengaruhi permintaan perjalanan. Namun dunia sudah berubah. Orang-orang sekarang tidak bereaksi sebesar dulu,” jelasnya.
Meski demikian, ketegangan geopolitik yang terus berlangsung tetap menjadi faktor yang dapat mempengaruhi harga tiket pesawat dalam beberapa waktu ke depan. Jika harga minyak dunia terus naik akibat konflik AS–Israel vs Iran, maka bukan tidak mungkin tarif penerbangan global akan semakin mahal.
Bagi para pelancong, kondisi ini menjadi pengingat bahwa situasi geopolitik dunia bisa berdampak langsung pada biaya perjalanan, bahkan hingga ke harga tiket pesawat yang mereka beli. (R-05)

