Kabut Asap Selimuti Jalur Mudik, Kapolres Rohil Turun Padamkan Kebakaran Lahan
Kapolres Rokan Hilir AKBP Isa Imam Syahroni ikut memadamkan kebarakan lahan di Kecamatan Tanah Putih (ist)
SABANGMERAUKE NEWS, Rohil - Asap pekat mendadak membumbung dari kawasan lahan gambut di Kecamatan Tanah Putih, Rokan Hilir. Api bergerak cepat melahap semak dan kebun di sepanjang Jalan Lintas Riau–Sumatera Utara. Kabut asap menyelimuti jalur akses utama kendaraan antarprovinsi yang dipenuhi pemudik.
Kebakaran terjadi di wilayah Kepenghuluan Ujung Tanjung dan Rantau Bais. Api menyebar di beberapa titik lahan kering yang mudah terbakar. Luas area yang terdampak diperkirakan mencapai sekitar 30 hektare. Kapolres Rokan Hilir AKBP Isa Imam Syahroni langsung turun memimpin operasi pemadaman di lokasi. “Kebakaran diperkirakan melanda lahan sekitar 30 hektare,” kata Isa saat berada di lokasi pemadaman.
Meski berlangsung di tengah bulan Ramadan, tim gabungan tetap bergerak cepat. Personel Polres Rokan Hilir bersama unsur TNI, pemerintah kecamatan, perangkat desa, serta masyarakat setempat turun langsung menghadapi api. Sejumlah polisi wanita juga ikut berada di lapangan membantu proses pemadaman.
Upaya pemadaman dilakukan dengan berbagai peralatan lapangan. Mesin pompa air dikerahkan untuk menyedot air dari sumber terdekat. Selang pemadam digelar hingga ke titik api yang berada di lahan gambut.
Kendaraan operasional juga digunakan untuk membawa peralatan serta personel ke lokasi yang sulit dijangkau. Api sempat menyebar karena kondisi lahan yang kering. Namun kerja cepat tim gabungan membuat kobaran api perlahan dapat dikendalikan.
Selain memadamkan api, petugas juga memeriksa titik panas yang terdeteksi melalui Dashboard Lancang Kuning. Data satelit digunakan sebagai panduan untuk memastikan lokasi kebakaran secara akurat. “Tim melakukan pemadaman sekaligus verifikasi hotspot agar titik api bisa dipastikan,” ujar Isa.
Proses pemadaman berlangsung cukup intens. Petugas harus bergerak dari satu titik ke titik lain karena api muncul di beberapa area. Lahan gambut membuat proses pemadaman menjadi lebih menantang karena bara bisa bertahan di bawah permukaan tanah.
Setelah kobaran api berhasil dikendalikan, tim langsung melakukan tahap pendinginan. Area yang telah terbakar disiram air secara menyeluruh. Langkah ini dilakukan untuk memastikan tidak ada bara yang tersisa di dalam tanah gambut.
Asap tipis masih terlihat di beberapa titik. Petugas terus memantau kondisi tersebut agar api tidak kembali menyala. Petugas menyampaikan imbauan kepada masyarakat sekitar agar tidak membuka lahan dengan cara membakar. “Petugas mengingatkan warga agar tidak membuka lahan dengan cara membakar,” kata Isa.
Sebelumnya diberitakan kabut asap tebal menyelimuti jalan lintas Riau-Sumatera Utara di Desa Rantau Bais. Kendaraan bergerak pelan seperti meraba jalan dalam kabut. Pengendara hanya bisa melihat beberapa meter di depan.
Arus kendaraan sempat melambat bahkan nyaris berhenti. Jalur ini biasanya ramai kendaraan pribadi, bus antarkota, serta truk logistik. Salah satu pemudik yang merasakan langsung kondisi tersebut adalah Arifin, warga Pekanbaru. Ia sedang melakukan perjalanan mudik bersama keluarga ke Medan. “Asap karhutla pekat sekali di jalan. Jarak pandang hanya sekitar 10 meter,” kata Arifin melalui sambungan telepon.
Ia mengatakan kabut asap menutupi jalan sepanjang kurang lebih satu kilometer. Kendaraan harus berjalan sangat pelan. Lampu kendaraan bahkan harus dinyalakan agar terlihat pengendara lain. “Saya hidupkan lampu hazard supaya kendaraan dari arah berlawanan bisa melihat mobil kami,” ujar Arifin.
Arifin juga melihat titik api tidak jauh dari badan jalan. Kepulan asap hitam terlihat membumbung lalu terbawa angin menuju jalan lintas. Kondisi tersebut membuat perjalanan terasa seperti melewati lorong asap.
Kabut Asap Tutupi Jalur Mudik
Kebakaran hutan dan lahan di wilayah tersebut diperkirakan melahap area sekitar 20 hektare. Lahan yang terbakar terdiri dari kebun kelapa sawit milik warga serta lahan gambut kosong. Karakter lahan gambut membuat api mudah menyebar dan menghasilkan asap tebal.
Kabut asap yang terbawa angin langsung menuju jalur lintas Sumatera. Jalan utama itu berubah seperti tertutup tirai asap. Pengendara harus ekstra hati-hati agar tidak terjadi kecelakaan.
Sejumlah kendaraan memilih menurunkan kecepatan drastis. Sebagian pengemudi menyalakan lampu hazard untuk memberi tanda keberadaan kendaraan. Situasi tersebut membuat arus lalu lintas bergerak lambat.
Jalur ini merupakan salah satu rute favorit pemudik dari Riau menuju Sumatera Utara. Setiap musim Lebaran ribuan kendaraan melintas setiap hari. Gangguan asap berpotensi menimbulkan risiko besar bagi keselamatan pengendara.
Arifin mengaku titik api masih terlihat tidak jauh dari badan jalan. Kepulan asap tebal yang terbawa angin mengarah langsung ke jalur lintas sehingga mengganggu perjalanan kendaraan yang melintas. “Harus cepat ditangani. Banyak pemudik lewat jalur ini,” ujarnya.
Selain itu, Arifin juga menyoroti kendaraan angkutan berat yang masih melintas, seperti truk tangki CPO, truk pengangkut sawit dan lainnya. Padahal, pemerintah telah mengeluarkan larangan truk berat melintas per tanggal 13 Maret 2026. "Kondisi itu membuat lalu lintas semakin padat," tukasnya. R-02

