Tagihan Perang Amerika Bikin Geleng Kepala, Totalnya Tembus Rp135.000 Triliun
Perang AS-Israel vs Iran. Foto: Dok SM News
SABANGMERAUKE NEWS, Jakarta - Perang bukan hanya soal rudal yang meluncur di langit atau kapal induk yang bergerak di lautan. Di balik setiap operasi militer, ada tagihan raksasa yang harus dibayar negara. Amerika Serikat (AS) menjadi contoh paling nyata bagaimana konflik bersenjata bisa menguras anggaran hingga miliaran bahkan triliunan dolar.
Dalam hitungan hari saja, biaya perang bisa melonjak drastis. Bahkan ketika pertempuran sudah berakhir, tagihan perang masih terus membayangi selama puluhan tahun melalui biaya perawatan veteran, bunga utang, hingga pengisian kembali persenjataan.
Sebagai negara dengan kekuatan militer terbesar di dunia, Amerika Serikat mengalokasikan dana sangat besar untuk operasi militer di berbagai kawasan. Mulai dari perang di Timur Tengah, operasi kontra-terorisme global, hingga rivalitas geopolitik dengan negara lain, semuanya membutuhkan anggaran yang tidak sedikit.
Data mengenai besarnya biaya perang Amerika Serikat banyak dihimpun dalam proyek penelitian Costs of War Project yang berbasis di Brown University's Watson Institute for International and Public Affairs. Proyek ini sejak 2010 meneliti dampak ekonomi, sosial, dan politik dari perang-perang yang dijalankan Amerika setelah serangan teroris 11 September 2001.
Proyek tersebut melibatkan lebih dari 70 akademisi, peneliti, aktivis hak asasi manusia, hingga tenaga medis dari berbagai negara. Hasil riset mereka menunjukkan bahwa perang bukan hanya mahal, tetapi juga meninggalkan beban ekonomi yang sangat panjang.
Warisan Mahal Perang Pasca 9/11
Sejak serangan 11 September 2001, Amerika Serikat terlibat dalam berbagai operasi militer besar, terutama di Afghanistan dan Irak. Konflik tersebut kemudian berkembang menjadi operasi kontra-terorisme global yang menjangkau banyak negara.
Menurut temuan Costs of War Project, total biaya perang Amerika Serikat pasca-9/11 diperkirakan mencapai sekitar US$8 triliun atau setara dengan Rp135.200 triliun.
Angka tersebut mencakup biaya perang di Afghanistan dan Irak, serta berbagai operasi militer di negara lain seperti Pakistan, Suriah, dan sejumlah wilayah di Timur Tengah maupun Afrika.
Yang mengejutkan, operasi militer Amerika ternyata tidak hanya berlangsung di beberapa negara saja. Penelitian terbaru menunjukkan bahwa Washington menjalankan operasi kontra-terorisme di puluhan negara.
Direktur Costs of War Project sekaligus antropolog di Brown University, Stephanie Savell, mencatat bahwa antara tahun 2021 hingga 2023 pemerintah Amerika Serikat menjalankan operasi kontra-terorisme di 78 negara.
Operasi tersebut meliputi pertempuran darat di sedikitnya sembilan negara serta serangan udara di setidaknya empat negara selama tiga tahun pertama pemerintahan Presiden Joe Biden.
Meski jumlah negara yang menjadi lokasi operasi sedikit menurun dibanding periode 2018 hingga 2020 yang mencapai 85 negara, angka ini tetap menunjukkan luasnya jangkauan operasi militer Amerika.
Yang perlu dicatat, angka US$8 triliun tersebut bahkan belum memasukkan biaya bunga utang yang akan terus bertambah di masa depan. Sebagian besar pembiayaan perang dilakukan melalui pinjaman, sehingga pemerintah Amerika masih harus menanggung beban pembayaran dalam jangka panjang.
Biaya Veteran yang Terus Membengkak
Biaya perang tidak berhenti ketika konflik selesai. Para veteran perang membutuhkan perawatan medis, dukungan psikologis, serta berbagai program kesejahteraan yang harus ditanggung negara.
Brown University memperkirakan biaya perawatan veteran perang pasca-9/11 bisa mencapai US$2,2 triliun hingga US$2,5 triliun pada tahun 2050.
Artinya, meskipun perang telah berakhir bertahun-tahun lalu, beban keuangan akibat konflik tersebut masih akan dirasakan hingga beberapa dekade ke depan.
Rivalitas Geopolitik Juga Mahal
Pengeluaran militer Amerika juga meningkat bukan hanya karena perang terbuka, tetapi juga karena rivalitas geopolitik.
Dalam laporan Costs of War Project, Amerika Serikat disebut menghabiskan sekitar US$260 miliar setiap tahun sejak 2012 untuk menghadapi pengaruh militer China.
Strategi ini dikenal sebagai pivot to Asia, yang mulai dijalankan pada masa pemerintahan Presiden Barack Obama.
Langkah tersebut melibatkan penempatan kekuatan militer tambahan, pembangunan pangkalan, hingga peningkatan kehadiran armada laut dan udara di kawasan Asia-Pasifik.
Dengan kata lain, meskipun tidak selalu terjadi perang langsung, ketegangan geopolitik tetap menelan biaya yang sangat besar.
Bantuan Militer ke Israel
Biaya konflik juga kembali meningkat setelah serangan Hamas terhadap Israel pada 7 Oktober 2023.
Dalam dua tahun setelah peristiwa tersebut, pemerintah Amerika Serikat disebut telah menggelontorkan sekitar US$21,7 miliar untuk bantuan militer kepada Israel.
Selain itu, Washington juga mengeluarkan tambahan US$9,65 miliar hingga US$12,07 miliar untuk operasi militer di Yaman dan kawasan sekitarnya.
Jika digabungkan, total pengeluaran Amerika untuk konflik yang berkaitan dengan peristiwa tersebut mencapai sekitar US$31,35 miliar hingga US$33,77 miliar, dan jumlahnya diperkirakan masih terus bertambah.
Perang AS–Iran 2026: Enam Hari, US$11,3 Miliar
Besarnya biaya perang juga terlihat dari konflik terbaru antara Amerika Serikat dan Iran pada tahun 2026.
Dalam pengarahan tertutup kepada anggota parlemen Amerika, Pentagon menyebut biaya perang melawan Iran telah mencapai lebih dari US$11,3 miliar hanya dalam enam hari pertama.
Namun angka tersebut diyakini belum mencerminkan keseluruhan biaya perang. Estimasi awal itu disebut lebih banyak mencakup pengeluaran untuk amunisi. Sementara biaya lain seperti pengerahan pasukan, logistik, perawatan medis, hingga penggantian pesawat militer yang hilang dalam konflik kemungkinan belum sepenuhnya dihitung.
Senjata Canggih, Harga Selangit
Salah satu faktor yang membuat biaya perang melonjak adalah penggunaan amunisi presisi yang sangat mahal.
Pada tahap awal konflik dengan Iran, Amerika Serikat menggunakan senjata seperti AGM-154 Joint Standoff Weapon, sebuah bom luncur dengan harga sekitar US$578.000 hingga US$836.000 per unit.
Seiring berjalannya operasi, Pentagon disebut mulai menggunakan amunisi yang lebih murah seperti Joint Direct Attack Munition (JDAM).
Untuk JDAM, hulu ledak terkecilnya dihargai sekitar US$1.000, sementara kit pemandunya mencapai sekitar US$38.000.
Perubahan penggunaan senjata ini menunjukkan bahwa biaya perang tidak hanya ditentukan oleh jumlah serangan, tetapi juga oleh jenis persenjataan yang digunakan.
Jika konflik berlangsung lebih lama, kebutuhan untuk mengisi kembali stok amunisi juga akan meningkatkan pengeluaran militer secara signifikan.
Pada akhirnya, perang selalu meninggalkan tagihan yang sangat besar. Dan bagi Amerika Serikat, biaya tersebut tidak hanya dibayar hari ini, tetapi juga oleh generasi berikutnya. (R-03)
BERITA TERKAIT :
-
Hari Masyarakat Adat Nasional
RUU Masyarakat Adat Mandek 16 Tahun: Negara Lupa Janji atau Sengaja?

