Petaka 13 Maret: Saham Grup Prajogo dan Bakrie Rontok Dihantam Badai Geopolitik
Ilustrasi penutupan IHSG
SABANGMERAUKE NEWS, Jakarta - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan Jumat, 13 Maret 2026 ditutup dengan babak belur. Indeks utama bursa domestik ini anjlok 3,05 persen atau hilang 224,9 poin ke level 7.137,21. Penurunan tajam ini menempatkan IHSG sebagai bursa saham dengan kinerja paling buruk di seluruh kawasan Asia pada akhir pekan.
Tekanan jual sangat terasa sejak bel pembukaan berbunyi dengan koreksi awal sebesar 0,32 persen. Tren negatif terus memburuk sepanjang hari hingga menyentuh level terendah sejak 15 Juli tahun lalu. Sebanyak 629 saham melemah, sementara hanya 104 saham yang mampu bertahan di zona hijau di tengah aksi jual masif.
Sentimen negatif global menjadi pemicu utama kepanikan yang melanda pasar modal Indonesia secara mendadak. Konflik geopolitik antara Amerika Serikat dan Israel melawan Iran memicu kekhawatiran meluasnya perang di Timur Tengah. Investor merespons ketegangan ini dengan melepas aset berisiko secara besar-besaran di seluruh penjuru dunia.
Kondisi tersebut berdampak langsung pada lonjakan harga minyak mentah jenis Brent yang menembus 100,53 dolar AS per barel. Kenaikan harga energi ini diprediksi memicu inflasi global yang jauh lebih panjang dari perkiraan semula. Ancaman guncangan ekonomi memaksa pelaku pasar melakukan langkah antisipatif dengan menarik modal keluar dari pasar berkembang.
Analis PT MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana, mengonfirmasi pengaruh dominan komoditas energi terhadap performa indeks hari ini. "Diperkirakan dipengaruhi kenaikan harga minyak mentah yang kembali menguat setelah Selat Hormuz memanas akibat serangan tanker," ujarnya, Jumat, 13 Maret 2026.
Pelemahan ini tidak hanya terjadi di Jakarta, melainkan menular ke bursa Asia lainnya seperti SENSEX India dan KOSPI Korea Selatan. Bursa saham Amerika Serikat di Wall Street sebelumnya memberikan sinyal negatif dengan koreksi tajam pada Nasdaq. Morgan Stanley bahkan memperingatkan risiko terulangnya aksi jual massal saham dan obligasi secara bersamaan dalam waktu dekat.
Di dalam negeri, tekanan jual menyasar hampir seluruh sektor industri tanpa terkecuali sejak sesi pertama perdagangan. Sektor bahan baku dan transportasi memimpin kejatuhan dengan koreksi masing-masing sebesar 3,87 persen. Infrastruktur, barang konsumen, dan teknologi juga mengalami tekanan hebat di atas 3 persen sepanjang hari ini.
Saham-saham milik konglomerat besar menjadi sasaran empuk aksi ambil untung dan kepanikan pasar yang tidak terbendung. Emiten afiliasi Prajogo Pangestu seperti TPIA, BRPT, dan BREN mengalami koreksi cukup dalam hingga mencapai lebih dari 5 persen. Saham Grup Bakrie dan Grup Sinarmas turut merosot tajam menyusul arus pelemahan yang meluas ke segala arah.
Dian Swastatika Sentosa (DSSA) mencatatkan penurunan paling tajam hingga 11,47 persen di sesi penutupan perdagangan sore. Saham-saham lain seperti JARR, BUVA, dan MORA terseret arus negatif dengan penurunan yang sangat signifikan. Volume perdagangan harian mencapai 28,63 miliar lembar saham dengan total nilai transaksi Rp13,7 triliun.
Kekhawatiran investor kini merembet pada prospek fiskal negara terkait potensi pembengkakan defisit APBN Indonesia. Harga minyak yang tinggi berisiko memperlebar defisit anggaran melampaui batas aman 3 persen yang ditetapkan undang-undang. Pemerintah kini terus menghitung konsekuensi fiskal jika pelebaran batas defisit benar-benar harus ditempuh demi menjaga stabilitas.
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyatakan pemerintah sedang mempertimbangkan berbagai opsi untuk merespons gejolak global yang kian liar. Pembahasan mengenai kenaikan batas defisit anggaran masih dalam tahap perhitungan dampak secara sangat hati-hati. Stabilitas postur APBN tetap menjadi prioritas utama di tengah ancaman tekanan ekonomi eksternal yang sangat kuat.
Selain masalah energi, sentimen negatif datang dari investigasi perdagangan baru Amerika Serikat terhadap 60 negara di dunia. Kebijakan ini menyasar praktik impor barang yang diduga menggunakan kerja paksa dalam proses produksinya secara ilegal. Investigasi mencakup 16 negara termasuk Indonesia, Tiongkok, dan Jepang yang dinilai memiliki kelebihan kapasitas industri.
Kondisi pasar yang tidak menentu membuat investor harus lebih waspada dalam menyusun strategi portofolio mereka. Selain sentimen perang, pasar kini dibayangi risiko perlambatan ekonomi global akibat tingginya biaya energi harian. Perdagangan pada pekan depan diprediksi masih berada di bawah bayang-bayang fluktuasi indeks yang sangat tinggi. R-02

