Ribuan Titik Panas Muncul di Riau, Ekosistem Gambut Dinilai Semakin Rentan Terbakar
Ribuan titik panas terdeteksi di wilayah Riau meski musim kemarau belum tiba. Kondisi ini meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi kebakaran hutan dan lahan di kawasan gambut yang rentan terbakar. Foto: Dok SM News
SABANGMERAUKE NEWS, Riau — Sebanyak 2.890 titik panas terdeteksi di wilayah Riau meski musim kemarau belum dimulai, memicu kekhawatiran akan potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang bisa terjadi lebih awal pada tahun ini. Kemunculan ribuan hotspot tersebut menunjukkan bahwa ekosistem gambut di provinsi ini masih sangat rentan terbakar.
Data tersebut terungkap dalam rilis bersama Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Riau, Walhi Kalimantan Barat, dan organisasi pemantau lingkungan Pantau Gambut yang diterima redaksi pada Kamis (12/3/2026). Dalam laporan itu disebutkan bahwa Riau menjadi salah satu wilayah dengan jumlah titik panas cukup tinggi di Indonesia pada awal tahun ini.
Selain di Riau, hotspot juga terdeteksi di Kalimantan Barat dengan jumlah sekitar 1.316 titik panas. Namun, angka di Riau menjadi sorotan karena wilayah ini memiliki hamparan gambut yang luas dan sangat mudah terbakar apabila mengalami kekeringan.
Kemunculan ribuan titik panas ini bahkan terjadi saat sebagian wilayah masih mengalami curah hujan. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa kebakaran lahan gambut tidak lagi sepenuhnya bergantung pada musim kemarau.
Pantau Gambut mencatat bahwa pada Januari 2026 terdapat sedikitnya 5.490 titik panas yang terdeteksi di kawasan Kesatuan Hidrologis Gambut (KHG). Sementara pada Februari 2026 kembali terpantau sekitar 5.114 titik panas di wilayah yang sama.
Temuan tersebut menjadi indikasi kuat bahwa kebakaran lahan gambut sudah mulai terjadi sejak awal tahun, jauh sebelum puncak musim kemarau biasanya berlangsung pada pertengahan hingga akhir tahun.
Selain faktor kerentanan ekosistem gambut, aktivitas manusia juga disebut turut berperan dalam munculnya hotspot di sejumlah wilayah.
Berdasarkan analisis Pantau Gambut, sebagian titik panas bahkan terdeteksi berada di dalam area konsesi perusahaan. Dari total hotspot yang terpantau, sekitar 1.080 titik panas berada di kawasan konsesi perkebunan kelapa sawit dengan status Hak Guna Usaha (HGU).
Selain itu, sekitar 250 titik panas juga ditemukan di wilayah konsesi hutan tanaman industri (HTI) atau perizinan berusaha pemanfaatan hutan (PBPH-HTI).
Kondisi ini menimbulkan kekhawatiran karena kebakaran di area konsesi berpotensi memperluas dampak kerusakan lingkungan sekaligus memperparah risiko kabut asap yang dapat mengganggu kesehatan masyarakat.
Kepala Divisi Kajian dan Kampanye Walhi Kalimantan Barat, Indra Syahnanda, mengatakan bahwa kebakaran lahan yang terjadi di wilayah gambut telah memicu munculnya kabut asap di beberapa daerah.
Ia bahkan menyebutkan bahwa terdapat laporan seorang warga meninggal dunia yang diduga berkaitan dengan dampak kebakaran hutan dan lahan tersebut.
“Dampak karhutla tidak hanya merusak lingkungan, tetapi juga berpotensi mengancam keselamatan dan kesehatan masyarakat,” kata Indra.
Sementara itu, Direktur Eksekutif Walhi Riau, Eko Yunanda, mengungkapkan bahwa sebagian kebakaran lahan di Riau banyak terjadi di kawasan pulau-pulau kecil yang didominasi oleh ekosistem gambut.
Beberapa wilayah yang kerap mengalami karhutla antara lain Pulau Bengkalis, Pulau Rupat, dan Pulau Mendol. Kawasan tersebut selama beberapa dekade terakhir mengalami perubahan lanskap akibat pembukaan lahan dan ekspansi berbagai aktivitas industri.
Menurut Eko, perubahan tata guna lahan yang masif membuat gambut kehilangan kemampuan alaminya dalam menyimpan air. Akibatnya, lahan menjadi lebih kering dan mudah terbakar.
“Dalam beberapa dekade terakhir, pulau-pulau kecil di Riau mengalami perubahan besar akibat pembukaan lahan dan ekspansi konsesi. Hal ini membuat kawasan gambut menjadi semakin rentan terhadap kebakaran,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa kondisi tersebut perlu menjadi perhatian serius pemerintah, mengingat kebakaran lahan gambut dapat menimbulkan kerugian besar, baik dari sisi lingkungan, ekonomi, maupun kesehatan masyarakat.
Sementara itu, Juru Kampanye Pantau Gambut, Putra Saptian, menilai kemunculan ribuan titik panas sejak awal tahun harus menjadi peringatan penting bagi berbagai pihak.
Menurutnya, jika kebakaran lahan sudah terjadi bahkan saat musim hujan, maka hal itu menunjukkan bahwa kerusakan ekosistem gambut telah berada pada tingkat yang mengkhawatirkan.
Putra mengatakan bahwa perlindungan dan pemulihan gambut yang rusak masih belum berjalan secara optimal. Tanpa langkah yang lebih serius, kebakaran hutan dan lahan berpotensi terus berulang setiap tahun dengan dampak yang semakin besar.
“Jika kebakaran sudah muncul bahkan saat musim hujan, itu berarti kerentanan ekosistem gambut kita sangat tinggi dan perlindungan yang ada belum berjalan efektif,” katanya.
Ia menegaskan bahwa upaya restorasi gambut serta pengawasan terhadap kawasan rawan kebakaran harus diperkuat agar kejadian karhutla tidak terus berulang.
Selain itu, koordinasi antara pemerintah, perusahaan, dan masyarakat juga dinilai penting untuk mencegah pembukaan lahan dengan cara membakar yang kerap menjadi pemicu utama karhutla.
Dengan jumlah titik panas yang sudah mencapai ribuan sejak awal tahun, berbagai pihak kini berharap langkah mitigasi dapat dilakukan lebih cepat untuk mencegah kebakaran yang lebih luas saat musim kemarau benar-benar tiba.
Jika tidak ditangani secara serius, potensi karhutla di Riau dikhawatirkan kembali memicu bencana kabut asap seperti yang pernah terjadi pada tahun-tahun sebelumnya. (R-03)

