Melampaui Target Nasional, Inflasi Tahunan Riau Sentuh Angka 5,30 Persen
Plt Gubernur Riau, SF Hariyanto, memimpin rapat membahas inflasi di Provinsi Riau. (ist)
SABANGMERAUKE NEWS, Pekanbaru - Wajah ekonomi Bumi Lancang Kuning sedang tidak baik-baik saja saat kalender mendekati perayaan Idulfitri 1447 Hijriah. Kabar kurang sedap datang dari meja pemerintah provinsi yang mencatat adanya tekanan harga cukup hebat di pasar-pasar tradisional. Tekanan ini bukan sekadar angka di atas kertas, melainkan ancaman nyata bagi daya beli masyarakat yang sedang bersiap menyambut hari kemenangan.
Pelaksana Tugas (Plt) Gubernur Riau, SF Hariyanto, memberikan atensi khusus pada kondisi ini dalam pertemuan penting di Balai Serindit. Berdasarkan data terbaru dari Badan Pusat Statistik (BPS) pada Februari 2026, Riau mengalami kenaikan harga secara bulanan sebesar 0,32 persen. Namun, yang lebih mengejutkan adalah angka tahunannya yang melompat hingga 5,30 persen, jauh meninggalkan batas aman yang dipatok pemerintah pusat.
"Angka ini tentu perlu menjadi perhatian kita bersama. Posisi kita sekarang masih berada di atas target inflasi nasional tahun 2026," ujar SF Hariyanto pada Rabu, 11 Maret 2026. Ia menegaskan bahwa target ideal nasional sebenarnya hanya berkisar pada angka 2,5 persen plus minus 1 persen saja.
Investigasi di lapangan menunjukkan bahwa "biang kerok" utama dari panasnya suhu ekonomi ini berasal dari urusan dapur. Kelompok pengeluaran makanan, minuman, dan tembakau tercatat menjadi penyumbang terbesar kenaikan harga. Masyarakat mulai merasakan beratnya menebus komoditas harian yang biasanya tersedia murah di atas meja makan setiap harinya.
Dua aktor utama dalam drama kenaikan harga ini adalah cabai merah dan daging ayam ras. Meningkatnya permintaan warga yang ingin menyetok kebutuhan puasa memicu hukum pasar yang tak terelakkan. Fenomena tahunan ini kembali berulang, di mana pasokan seringkali tidak sebanding dengan nafsu belanja masyarakat yang meningkat drastis secara mendadak.
"Permintaannya memang meningkat menjelang bulan Ramadan. Di setiap lapangan, kita melihat pola yang hampir sama setiap tahun, permintaan cabai biasanya meningkat cukup tajam," kata SF Hariyanto menjelaskan situasi lapangan. Ia menambahkan bahwa kelancaran distribusi menjadi kunci utama agar harga tidak semakin liar dan sulit dikendalikan oleh pemerintah daerah.
Beralih ke sudut Kota Pekanbaru, ceritanya sedikit berbeda namun tetap satu muara pada inflasi. Penjabat (Pj) Sekretaris Daerah Kota Pekanbaru, Ingot Ahmad Hutasuhut, membeberkan fakta unik di balik angka inflasi kota yang mencapai 5,21 persen. Ternyata, bukan hanya urusan perut yang bikin pusing, tapi juga urusan gaya hidup dan kebijakan energi nasional.
Kenaikan harga emas perhiasan menjadi salah satu pemicu yang tak disangka-sangka meroketkan inflasi di ibu kota provinsi ini. Selain itu, ada perubahan kebijakan tarif listrik yang sangat terasa dampaknya bagi warga kota di tahun ini. Perbandingan antara kebijakan tahun lalu dengan tahun berjalan menciptakan selisih angka yang cukup signifikan dalam struktur pengeluaran rumah tangga.
"Perbedaan kebijakan tarif listrik juga memengaruhi inflasi di Kota Pekanbaru," tutur Ingot Ahmad saat berbicara dalam High Level Meeting TPID Riau pada Rabu, 11 Maret 2026. Ia mengenang kembali saat Februari 2025 lalu pemerintah masih memberikan potongan tarif 50 persen, sementara kini tarif telah kembali normal tanpa subsidi tambahan.
Meski diterjang badai harga pada Februari, secercah harapan mulai muncul pada dua pekan pertama Maret ini. Hasil pantauan tim pemerintah di tujuh pasar besar menunjukkan tren penurunan harga pada komoditas cabai merah asal Bukittinggi. Harga yang sempat menyentuh angka Rp58.865 per kilogram pada bulan lalu, kini perlahan turun ke kisaran Rp49.314 per kilogram.
Ingot Ahmad mengulas bahwa harga di Maret ini sebenarnya sudah mulai berada di bawah rata-rata harga pada Januari lalu. Hal ini memberikan sedikit napas lega bagi para ibu rumah tangga yang mulai mencicil kebutuhan dapur. Namun, pemerintah tidak mau kecolongan dan tetap menyiagakan tim khusus untuk memantau pergerakan harga di pasar setiap hari.
Untuk memastikan tidak ada pemain nakal di tengah situasi sulit, Satuan Tugas (Satgas) Pangan dari Polresta Pekanbaru kini dikerahkan ke lapangan. Pengawasan ketat dilakukan guna mencegah adanya penimbunan barang atau permainan distribusi yang merugikan konsumen. Pemerintah optimis, jika pengawasan berjalan ketat, inflasi Maret akan jauh lebih jinak dan terkendali hingga hari lebaran tiba.R-02

