Rumah Rp4,5 Triliun di London: Harta Pemimpin Baru Iran Bikin Dunia Geleng-geleng!
Pemimpin tertinggi baru Iran Mojtaba Khamenei (ist)
SABANGMERAUKE NEWS, London - Dunia saat ini sedang menyoroti sosok Mojtaba Khamenei, pria yang baru saja resmi menjabat sebagai Pemimpin Tertinggi Iran. Mojtaba menggantikan sang ayah, Ayatollah Ali Khamenei, yang tewas dalam serangan udara gabungan Amerika Serikat dan Israel pada 28 Februari 2026 lalu. Namun, bukan cuma soal kursi kekuasaan di Teheran yang jadi pembicaraan, aset properti milik Mojtaba di London kini mendadak viral karena nilainya yang sangat fantastis.
Media The Telegraph pada Rabu, 11 Maret 2026, melaporkan Mojtaba memiliki dua apartemen mewah di kawasan elit Kensington, London Barat. Harga dua unit ini diperkirakan lebih dari 50 juta pound sterling atau sekitar Rp1,15 triliun. Lokasinya pun sangat strategis, tepat di sebelah Istana Kensington yang merupakan kediaman resmi Pangeran dan Putri Wales.
Tidak berhenti di situ, jaringan properti yang dikaitkan dengan keluarga Khamenei juga ditemukan di kawasan Hampstead, London Utara. Di area yang dijuluki sebagai "Billionaire's Row" itu, terdapat sekitar 11 rumah mewah yang diduga dikuasai melalui perantara bisnis dan perusahaan cangkang. Jika digabungkan, total nilai portofolio properti jaringan ini mencapai 200 juta pound sterling atau sekitar Rp4,58 triliun.
Banyak dari aset mewah tersebut justru jarang dihuni dan dalam kondisi terbengkalai. Para pakar keamanan pun mulai menaruh curiga pada apartemen di Kensington karena posisinya yang berada sangat dekat dengan Kedutaan Besar Israel. Lokasi ini dinilai berpotensi menjadi titik pengawasan permanen terhadap aktivitas diplomatik di wilayah tersebut.
"Dua apartemen dengan garis pandang langsung itu bukan sekadar portofolio properti, melainkan bisa menjadi platform pengawasan permanen," ujar pakar kontra-terorisme Roger Macmillan, seperti dikutip oleh media Inggris pada Rabu, 11 Maret 2026. Kecurigaan ini makin kuat mengingat sejarah keterlibatan jaringan bisnis Iran di luar negeri yang sering menggunakan perusahaan cangkang di Isle of Man.
Manajemen aset-aset ini dikabarkan dikelola oleh seorang perantara bernama Ali Ansari. Nama Ansari sendiri sebenarnya sudah masuk dalam radar sanksi negara-negara Barat karena diduga memiliki hubungan erat dengan Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC). Walaupun sang perantara membantah semua tuduhan tersebut, otoritas Inggris sudah mengambil langkah tegas untuk membekukan sejumlah properti yang terkait dengan jaringan ini.
Langkah pembekuan aset ini merupakan upaya serius pemerintah Inggris dalam memutus aliran dana yang melanggar sanksi internasional. Pemerintah Iran sejauh ini belum memberikan komentar resmi mengenai kepemilikan aset di London tersebut. Fokus dunia sekarang tertuju pada bagaimana Mojtaba akan menjalankan roda pemerintahan di tengah ketegangan geopolitik yang sedang memuncak.
Sosok Mojtaba di Tengah Badai Konflik
Penunjukan Mojtaba sebagai pemimpin tertinggi terjadi melalui keputusan Majelis Pakar Iran yang beranggotakan 88 orang ulama. Menurut Al Jazeera, badan tersebut memilih Mojtaba melalui pemungutan suara yang tegas dan mendesak seluruh rakyat Iran untuk menjaga persatuan. Mojtaba, pria berusia 56 tahun, memang sudah lama dikenal sebagai figur berpengaruh di lingkaran dalam pemerintahan, terutama di jajaran IRGC.
Meskipun selama ini Mojtaba lebih memilih profil rendah dan jarang tampil di depan publik, posisinya sebagai penerus sang ayah sudah sering dibicarakan dalam beberapa tahun terakhir. Banyak pihak memandang naiknya Mojtaba sebagai tanda bahwa faksi garis keras di Iran masih memegang kendali penuh. Hal ini juga menjadi sinyal bahwa Teheran mungkin tidak akan menempuh jalur negosiasi dalam waktu dekat setelah serangkaian pemboman intensif yang terjadi di wilayah mereka.
Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, secara terbuka mengecam penunjukan ini dan menyebut langkah tersebut sebagai sebuah kesalahan besar. Dalam wawancara dengan NBC News pada Senin, 9 Maret 2026, Trump bahkan meragukan stabilitas kepemimpinan Mojtaba. Pihak Washington juga sempat memberikan pernyataan bahwa pemimpin baru Iran tersebut pada akhirnya harus mendapatkan restu dari Amerika Serikat.
Namun, rakyat Iran justru menunjukkan reaksi yang berbeda dan terlihat turun ke jalan untuk menyatakan kesetiaan. Di berbagai kota, massa membawa foto mendiang Ali Khamenei bersama gambar Mojtaba sebagai simbol dukungan. Hal ini menunjukkan bahwa sistem teokrasi di Iran masih memiliki basis pendukung yang kuat meskipun negara tersebut baru saja diguncang perang besar.
Serangan udara yang menewaskan Ali Khamenei pada akhir Februari lalu memang memicu dampak yang sangat luas. Lebih dari 1.250 orang dilaporkan tewas dalam serangkaian pemboman yang menghancurkan berbagai instalasi di Iran. Iran pun tidak tinggal diam dengan meluncurkan ratusan rudal balistik serta drone ke arah Israel dan aset militer Amerika Serikat di Timur Tengah.
Konflik ini bahkan menyeret Lebanon karena perang pecah antara Israel dan kelompok Hezbollah. Dampak ekonomi dari perang ini pun sudah mulai terasa secara global, salah satunya adalah lonjakan tajam harga minyak dunia. Penutupan Selat Hormuz sebagai jalur utama perdagangan energi semakin memperkeruh suasana dan membawa kekhawatiran akan resesi ekonomi global.
Menakar Arah Masa Depan Iran
Kini, Mojtaba Khamenei menghadapi tantangan berat untuk menjaga kestabilan dalam negeri dan menghadapi tekanan internasional yang semakin menghimpit. Belum pernah mencalonkan diri dalam jabatan publik atau mengikuti pemungutan suara, Mojtaba kini memikul beban tanggung jawab yang sangat besar. Isu dinasti pun mulai muncul ke permukaan karena banyak warga yang mengaitkan suksesi ini dengan gaya monarki Dinasti Pahlavi sebelum revolusi 1979.
Selama ini, Mojtaba lebih banyak bekerja di balik layar tanpa pernah memberikan pidato politik yang membakar semangat di khutbah Jumat. Kebijakan-kebijakan yang akan diambil oleh pemimpin baru ini akan sangat menentukan masa depan hubungan antara Iran dengan kekuatan dunia. Apakah akan ada ruang untuk diplomasi di tengah pertumpahan darah ini, atau justru ketegangan akan terus meningkat menjadi perang terbuka?
Pemerintah Amerika Serikat sendiri sepertinya masih akan terus memberikan tekanan maksimal melalui sanksi ekonomi dan diplomatik. Pernyataan Trump mengenai Venezuela sebagai jalur yang seharusnya diikuti Iran mengindikasikan keinginan Washington untuk melihat perubahan sistem di Teheran. Namun, dengan latar belakang Mojtaba yang sangat dekat dengan militer, skenario tersebut tampaknya bakal menemui jalan terjal.
Di London, drama kepemilikan apartemen mewah ini juga belum akan berakhir dalam waktu dekat. Otoritas Inggris dipastikan bakal terus menyisir setiap transaksi keuangan yang mencurigakan guna memastikan tidak ada pelanggaran hukum lebih lanjut. Aset-aset bernilai triliunan rupiah itu kini menjadi pusat perhatian sebagai saksi bisu dari pertarungan pengaruh di level global.
Dunia pun tetap waspada terhadap setiap langkah kecil yang diambil oleh Pemimpin Tertinggi baru Iran ini. Mojtaba sekarang berada di pusat badai, menyeimbangkan posisi Iran di kancah internasional sambil memastikan dukungan internal tetap solid. Hari-hari ke depan akan menjadi pembuktian bagi pria 56 tahun ini dalam mengemudikan Iran di tengah krisis yang tidak pernah terlihat sebelumnya.
Bagi masyarakat internasional, kepemimpinan baru ini menandai babak yang tidak menentu. Satu sisi, perlawanan terhadap tekanan luar tetap menjadi slogan utama di Teheran. Di sisi lain, dampak perang dan sanksi mulai menekan kehidupan ekonomi rakyat biasa yang terimbas harga kebutuhan pokok yang kian melonjak.
Apakah langkah-langkah yang diambil Mojtaba akan membawa perdamaian atau justru memperdalam luka perang di kawasan? Hanya waktu yang bisa menjawab pertanyaan besar ini. Untuk saat ini, perhatian publik akan tetap terbagi antara dinamika di garis depan medan perang dan pengungkapan harta kekayaan sang pemimpin baru di luar negeri. R-02

