Dari Kerajaan Hingga Masjid: Sejarah Bedug yang Jadi Tradisi Ramadan
Ilustrasi Bedug. Foto : Istimewa
SABANG MERAUKE NEWS, Pekanbaru — Salah satu tradisi yang biasa dilakukan saat bulan Ramadan adalah menabuh bedug.
Tradisi ini merupakan salah satu ritual budaya yang kuat di Indonesia sekaligus menjadi cermin perjalanan sejarah panjang masyarakat Nusantara sejak masa kerajaan hingga era Islam.
Sejarah bedug mencerminkan perjalanan panjang budaya di Nusantara, mulai dari alat ritual pada masa kerajaan Hindu-Buddha, hingga menjadi bagian tak terpisahkan dari tradisi Ramadan dalam masyarakat Muslim Indonesia.
Berikut fakta Sejarah Bedug yang Jadi Tradisi Ramadan
1. Digunakan di seluruh Asia Tenggara
Terbuat dari kulit kambing, sapi, atau kerbau dan dipukul menggunakan alat khusus untuk mengeluarkan suara kuat, bedug berbentuk gendang besar berkepala dua yang ditutup kulit di kedua ujungnya.
Bedug tidak hanya menjadi penanda waktu ibadah, tapi juga mengumumkan momen penting dalam komunitas, serta meramaikan perayaan keagamaan seperti Ramadan dan Idul Fitri.
Alat ini secara tradisional digunakan di Indonesia dan beberapa wilayah Asia Tenggara lainnya, dan sering digantung di masjid atau struktur tradisional lainnya.
2. Fungsi dan Budaya Bedug
Selain sebagai alat penanda waktu ibadah, bedug juga memiliki fungsi sosial yang kuat.
Masjid selalu menggunakan bedug untuk mengumumkan waktu salat atau buka puasa.
Beberapa komunitas di daerah pedesaan masih mempertahankan tradisi ini meskipun teknologi pengeras suara telah menggeser fungsinya di banyak masjid besar.
Tradisi ini memperkuat rasa kebersamaan dan identitas komunitas Muslim Nusantara yang unik, menggabungkan nilai budaya lokal dengan praktik keagamaan Islam.
3. Sudah ada sejak masa Kerajaan Hindu-Buddha
Catatan sejarah menunjukkan bahwa pada masa kerajaan Hindu-Buddha seperti Majapahit dan Sriwijaya, sudah mengenal bentuk alat tabuh yang mirip bedug.
Sejarah bedug di Nusantara diperkirakan sudah dimulai jauh sebelum munculnya Islam.
Bedug juga digunakan dalam upacara keagamaan yakni sebagai pengiring prosesi ritual serta media komunikasi untuk menyampaikan informasi penting kepada masyarakat atau memanggil warga berkumpul.
Dilansir dari dokumen sastra klasik seperti Kidung Malat dan catatan pelayar Belanda seperti Cornelis de Houtman, keberadaan gendang besar tersebut sudah ada di berbagai pelosok Jawa pada abad ke-16.
4. Akulturasi ke dalam Tradisi Islam
Salah satu penyebab perubahan fungsi budaya lokal termasuk bedug adalah masuknya Islam ke Nusantara antara abad ke-13 hingga ke-15.
Tradisi lokal ini kemudian diadaptasi oleh masyarakat Muslim sebagai bagian dari praktik ibadah.
Bedug kini mulai dipakai sebagai alat untuk:
- Menandai waktu salat terutama di masjid desa yang belum menggunakan pengeras suara,
- Menandai waktu sahur dan buka puasa di bulan Ramadan,
- Mengiringi ritual keagamaan lainnya seperti takbiran pada malam Idul Fitri.
Akulturasi budaya yang terjadi menunjukkan bagaimana berbagai elemen budaya lokal bisa bersinergi dengan praktik keagamaan baru, menghasilkan tradisi yang bertahan hingga kini.
5. Berkembang Tradisi di Nusantara
Bedug sering dihubungkan dengan beberapa tradisi unik di berbagai daerah, antara lain:
1. Dandangan di Kudus
Di Kudus, tradisi Dandangan merupakan acara menyambut Ramadan yang menonjolkan suara bedug sebagai tanda menjelang puasa, dilengkapi dengan pawai budaya, bazar, dan kegiatan sosial.
2. Tabuh Bedug Blandrangan
Di daerah Jawa Tengah, khususnya sekitar Menara Kudus Mosque, pukulan bedug digunakan sebagai penanda awal Ramadan beserta berbagai acara lain yang menyertai tradisi ini.
3. Tradisi Tabuh Bedug di Purworejo
Di Purworejo, bedug terbesar di dunia yang dikenal sebagai Bedug Pendowo ditabuh sebagai tanda waktu buka puasa selama Ramadan, menjadi identitas dan daya tarik budaya di komunitas setempat. (R-04)

