Duiker Rp233 Juta Jadi Sorotan, Seleksi Direksi PT Bumi Meranti Rp200 Juta Lebih Nyaris Tak Terdengar
Pengecekan pembangunan Duiker Simpang Puskesmas Alah Air, beberapa waktu lalu. Foto : SM News
SABANGMERAUKE NEWS, Selatpanjang - Di Kabupaten Kepulauan Meranti, percakapan tentang anggaran pemerintah sering kali tidak lahir di ruang rapat atau forum resmi. Ia tumbuh di meja-meja warung kopi, di bangku panjang kedai sederhana, atau di sela obrolan santai warga yang setiap hari melintas di jalan yang sama.
Belakangan ini, perhatian masyarakat tertuju pada satu titik kecil di simpang menuju Puskesmas Alah Air. Di sana, sebuah proyek pembangunan dan perbaikan duiker dikerjakan dengan nilai kontrak lebih dari Rp233 juta pada Februari 2026. Angka itu kemudian menjadi bahan diskusi hangat.
Setiap kendaraan yang melintas seolah membawa serta pertanyaan yang sama, bagaimana sebuah konstruksi yang tampak sederhana itu bisa menelan biaya ratusan juta rupiah?
Bagi sebagian warga, duiker yang lebarnya hanya beberapa meter tersebut tidak terlihat sebagai pekerjaan konstruksi yang rumit. Bentuknya sederhana, fungsinya hanya sebagai saluran air di bawah badan jalan. Karena itu, muncul anggapan bahwa penggunaan anggaran sebesar itu terasa janggal di mata masyarakat awam.
Di warung kopi, perbincangan berkembang menjadi beragam spekulasi. Ada yang sekadar bertanya-tanya, ada pula yang dengan nada lebih tajam menyebut kemungkinan adanya mark up dalam proyek tersebut.
Namun di tengah ramainya diskusi mengenai proyek duiker itu, ada hal lain yang nyaris tidak menjadi perbincangan publik.
Tidak banyak masyarakat yang mengetahui bahwa pada waktu yang tidak jauh atau tepatnya Oktober 2025 ada juga alokasi anggaran lebih dari Rp200 juta dari sisa penyertaan modal untuk proses perekrutan dan seleksi jajaran direksi yang baru di Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) , PT Bumi Meranti.
Proses seleksi itu dipimpin oleh Wakil Bupati Kepulauan Meranti, Muzamil Baharudin, yang bertindak sebagai Ketua Panitia Seleksi.
Seleksi tersebut dilaksanakan untuk mengisi tiga posisi strategis dalam tubuh perusahaan daerah itu, yakni jabatan Direktur Utama, Direktur Administrasi dan Keuangan, serta Direktur Bisnis.
Melalui tahapan seleksi yang dilakukan, akhirnya terpilih tiga nama yang dinyatakan lulus. Bonny Nofriza ditetapkan sebagai Direktur Utama. Sementara Dafiq Agustri dipercaya mengisi posisi Direktur Administrasi dan Keuangan. Sedangkan jabatan Direktur Bisnis diberikan kepada Fitriadi Mirtha.
Perbedaan respons publik terhadap dua penggunaan anggaran itu menjadi potret menarik tentang bagaimana perhatian masyarakat terbentuk.
Sebuah duiker kecil di tepi jalan bisa menjadi topik yang ramai dibicarakan, dipotret, bahkan diperdebatkan. Sementara proses seleksi yang menentukan arah perusahaan daerah dengan anggaran yang hampir setara berjalan relatif sunyi dari sorotan.
Barangkali karena duiker itu berdiri tepat di depan mata. Setiap orang bisa melihatnya, menilainya, lalu membicarakannya.
Sedangkan seleksi direksi sebuah BUMD berlangsung di ruang-ruang yang tidak semua orang bisa menyaksikan. Di situlah perbedaan antara sesuatu yang tampak secara fisik dan sesuatu yang terjadi di balik meja kebijakan.
Perbincangan mengenai penggunaan anggaran ratusan juta rupiah dalam proses perekrutan direksi BUMD di Kabupaten Kepulauan Meranti akhirnya mendapat penjelasan dari pihak perusahaan. Komisaris PT Bumi Meranti, Ifwandi, mengakui bahwa proses seleksi tersebut memang menghabiskan anggaran lebih dari Rp200 juta.
Menurut Ifwandi, dana tersebut digunakan untuk berbagai kebutuhan dalam tahapan penjajakan awal yang dilakukan oleh tim seleksi, termasuk perjalanan dinas, honorarium, serta pembiayaan teknis lainnya selama proses seleksi berlangsung.
“Iya benar, anggaran seleksi direksi BUMD sekitar Rp200 juta lebih untuk penjajakan tim seleksi dan perjalanan dinas, juga honorarium serta pembiayaan lainnya,” ujar Ifwandi saat dimintai keterangan.
Ia menjelaskan, sumber dana yang digunakan berasal dari kas perusahaan yang sebelumnya merupakan penyertaan modal dari Pemerintah Kabupaten Kepulauan Meranti sebesar Rp6 miliar kepada PT Bumi Meranti.
Namun perjalanan usaha perusahaan daerah tersebut tidak berjalan sebagaimana yang diharapkan. Salah satu program usaha yang pernah dijalankan, yakni penggemukan sapi, tidak menghasilkan keuntungan seperti yang direncanakan. Program yang semula digadang-gadang mampu menjadi salah satu sumber pendapatan daerah justru meninggalkan persoalan tersendiri.
Dari total modal yang pernah digelontorkan, kini hanya tersisa sekitar Rp400 juta. Kondisi ini menciptakan ironi tersendiri bagi perjalanan BUMD tersebut. Alih-alih memberikan kontribusi nyata terhadap Pendapatan Asli Daerah (PAD), usaha yang dijalankan justru membuat modal yang telah ditanamkan pemerintah daerah menyusut secara signifikan.
Saat ini, aset usaha yang tersisa hanya berupa 24 ekor sapi dan kandangnya. Sementara dana tunai yang masih tersedia setelah digunakan untuk proses seleksi direksi diperkirakan berkisar Rp170 juta.
Meski demikian, sisa anggaran tersebut belum dapat digunakan sepenuhnya. Hal itu disebabkan karena rekening perusahaan masih dalam kondisi diblokir terkait proses hukum yang sedang berjalan.
Di tengah situasi tersebut, PT Bumi Meranti tetap dituntut untuk menjaga keberlangsungan aktivitas usaha agar roda perusahaan tidak berhenti sepenuhnya. Upaya penataan manajemen melalui perekrutan direksi baru pun diharapkan menjadi titik awal bagi perusahaan daerah itu untuk kembali bangkit dan mencari peluang usaha yang lebih menjanjikan di masa mendatang.
Kehadiran jajaran direksi baru di tubuh PT Bumi Meranti diharapkan menjadi titik balik bagi perjalanan perusahaan daerah tersebut. Tidak sekadar menjalankan aktivitas bisnis, BUMD ini diproyeksikan mampu menjadi instrumen pembangunan daerah yang menghadirkan manfaat nyata bagi masyarakat sekaligus memperkuat kemandirian ekonomi Kabupaten Kepulauan Meranti.
Harapan itu bukan tanpa alasan. Dengan manajemen baru, perusahaan daerah ini diharapkan dapat kembali menemukan arah bisnis yang sehat dan berkelanjutan, sehingga ke depan mampu berkontribusi terhadap PAD melalui dividen yang dihasilkan dari berbagai sektor usaha.
Namun kondisi keuangan yang masih terbatas membuat langkah awal BUMD ini harus dijalankan secara hati-hati. Saat ini, jenis usaha yang dapat dijalankan adalah usaha yang tidak memerlukan modal besar, bahkan sebagian di antaranya hanya berbasis koordinasi dan kerja sama kemitraan.
Beberapa peluang usaha yang sedang dijalankan di antaranya adalah penyediaan tenaga kerja outsourcing bagi lingkungan Pemerintah Kabupaten Kepulauan Meranti, kerja sama dengan Perum Bulog untuk penyediaan beras bagi para pegawai, serta kerja sama pengelolaan aktivitas di Pelabuhan Tanjung Harapan bersama PT Pelindo.
Langkah-langkah tersebut ditempuh agar BUMD tetap memiliki aktivitas usaha dan tidak berhenti total di tengah keterbatasan modal.
Komisaris Ifwandi menjelaskan bahwa usaha yang dijalankan saat ini lebih bersifat menjaga keberlangsungan operasional perusahaan sambil menunggu peluang usaha yang lebih besar.
“Saat ini usaha yang dijalankan oleh BUMD adalah usaha yang sejauh ini tidak menggunakan modal besar, yang sifatnya hanya koordinasi seperti penyediaan tenaga kerja outsourcing untuk Pemerintah Kabupaten Kepulauan Meranti, kerja sama pengelolaan di Pelabuhan Tanjung Harapan bersama PT Pelindo, serta penyediaan beras bagi pegawai yang bekerja sama dengan Bulog. Bagaimanapun bisnis harus tetap berjalan meskipun kondisi keuangan sedang tidak memungkinkan,” ujar Ifwandi.
Di sisi lain, manajemen perusahaan juga tengah menyusun strategi bisnis yang lebih besar untuk masa depan BUMD tersebut. Persiapan itu dilakukan secara bertahap agar langkah yang diambil benar-benar matang dan mampu membawa perusahaan kembali hidup.
“Sambil menjalankan usaha yang kecil ini, kita sedang melakukan persiapan terhadap core business apa yang akan dijalankan ke depan. Yang jelas usaha di depan mata dulu kita jalankan, sedangkan untuk yang besar akan kita persiapkan sambil menunggu permodalan dari PI perusahaan migas nantinya,” tuturnya.
Dengan berbagai upaya tersebut, manajemen berharap PT Bumi Meranti perlahan dapat bangkit dari keterbatasan yang ada. Jika strategi yang disusun berjalan sesuai rencana, perusahaan daerah ini diharapkan tidak hanya bertahan, tetapi juga mampu berkembang dan memberikan kontribusi nyata bagi pembangunan ekonomi Kepulauan Meranti di masa mendatang. (R-03)

