Imlek dan Perang Air 2026 Dongkrak Ekonomi Kepulauan Meranti, Perputaran Uang Tembus Rp57 Miliar
Warga Tionghoa Kepulauan Meranti menumpuk di Pelabuhan Tanjung Harapan dan siap kembali ke perantauan usai merayakan Imlek dan Festival Perang Air di Selatpanjang. Foto : SM News
SABANGMERAUKE NEWS, Selatpanjang - Gelombang manusia dan deru mesin kapal berpadu menjadi satu irama di Pelabuhan Tanjung Harapan, Selatpanjang. Di bawah langit yang kadang terik, kadang berangin laut, ribuan orang datang dan pergi dalam suasana yang tak biasa. Tahun Baru Imlek 2577 Kongzili tahun ini bukan sekadar perayaan etnis, melainkan momentum besar yang berkelindan dengan kemeriahan Festival Perang Air dan suasana Ramadan 1447 Hijriah.
Di dermaga itu, pelukan-pelukan hangat terjadi hampir setiap menit. Ada yang menenteng kardus oleh-oleh, ada yang mendorong koper besar, ada pula yang menggandeng anak kecil yang baru pertama kali menjejakkan kaki di kampung halaman orang tuanya. Mereka datang bukan sekadar mudik biasa. Mereka pulang untuk dua hal yang tak terpisahkan dari identitas kota ini yakni ingin merayakan Imlek bersama keluarga dan larut dalam riuh Festival Perang Air—tradisi Cian Cui yang hanya ada di Selatpanjang, satu-satunya di Indonesia.
Dalam hitungan hari, arus penumpang di Kabupaten Kepulauan Meranti melonjak tajam. Sepanjang periode H-7 hingga H+6 Imlek 2026, arus kedatangan tercatat mencapai 19.450 orang. Angka itu bukan sekadar statistik, melainkan potret nyata tingginya mobilitas masyarakat di wilayah kepulauan yang berbatasan langsung dengan Selat Malaka tersebut.
Pergerakan besar itu ditopang oleh 593 kunjungan kapal yang silih berganti bersandar di pelabuhan utama Tanjung Harapan. Kapal-kapal itu mengangkut pemudik, wisatawan, hingga warga yang kembali ke daerah perantauan setelah menikmati suasana kampung halaman.
Berdasarkan data resmi dari Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan Kelas IV Selatpanjang, lonjakan arus penumpang kali ini menjadi salah satu yang tertinggi dalam periode perayaan Imlek beberapa tahun terakhir.
Kepala KSOP Selatpanjang, Derita Adi Prasetyo, melalui Petugas Lalu Lintas Angkutan Laut dan Kepelabuhan, Ade Kurniawan, menjelaskan bahwa peningkatan arus penumpang sudah diprediksi sejak awal.
“Perayaan Imlek tahun ini berdekatan dengan Festival Perang Air dan Ramadan. Banyak masyarakat melakukan perjalanan untuk berkumpul bersama keluarga maupun menghadiri rangkaian kegiatan, sehingga terjadi peningkatan signifikan pada arus penumpang,” ujar Ade, Selasa (24/2/2026).
Ia memaparkan, puncak arus kedatangan terjadi pada 15 Februari 2026 atau H-2 Imlek, dengan jumlah penumpang mencapai 4.076 orang dalam sehari. Angka tersebut meningkat 30,52 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Sementara itu, arus balik tertinggi tercatat pada 23 Februari 2026 (H+6) dengan total 4.410 penumpang, naik 0,80 persen dibandingkan 2025.
“Pergerakan arus balik sudah mulai terlihat sejak H+4 dan H+5. Namun secara umum seluruh kegiatan di pelabuhan berjalan lancar dan terkendali,” tambahnya.
Di tengah padatnya lalu lintas laut, koordinasi lintas sektor diperkuat. KSOP bersama operator kapal serta unsur TNI-Polri memastikan keselamatan pelayaran dan kenyamanan penumpang tetap terjaga. Pemeriksaan manifes, pengaturan jadwal sandar, hingga pengawasan keamanan dilakukan secara intensif selama periode puncak tersebut.
Bagi Selatpanjang, lonjakan ini lebih dari sekadar statistik tahunan. Ia menjadi cerminan betapa kuatnya ikatan emosional antara kampung halaman dan warganya di perantauan. Ia juga menjadi bukti bahwa tradisi, budaya, dan momentum keagamaan mampu menggerakkan ribuan orang melintasi laut demi sebuah perayaan.
“Tingginya mobilitas ini menjadi gambaran antusiasme masyarakat dalam merayakan Imlek, memeriahkan Festival Perang Air, dan menyambut Ramadan,” pungkas Ade.
Lonjakan penumpang yang memadati Pelabuhan Tanjung Harapan bukan sekadar angka statistik. Ia menjadi denyut awal bangkitnya ekonomi daerah. Sejak hari-hari pertama menjelang Imlek, geliat itu sudah terasa. Transportasi laut bergerak lebih sibuk dari biasanya, kapal datang dan pergi membawa ribuan orang yang rindu kampung halaman. Dari dermaga, denyut itu menjalar ke seluruh penjuru Kota Selatpanjang.
Penginapan mulai penuh. Rumah makan kebanjiran pelanggan. Pelaku UMKM menata ulang stok dagangan, bersiap menghadapi lonjakan permintaan yang datang hampir bersamaan dengan Festival Perang Air.
Riuh Imlek tak hanya terasa di jalanan yang padat dan dihiasi lampion merah. Sektor perhotelan ikut mengalami lonjakan luar biasa. Bahkan dua pekan sebelum puncak perayaan, kamar-kamar hotel di Selatpanjang telah habis dipesan.
Mulai dari Grand Meranti Hotel, Indo Baru Hotel, Red 9 Hotel, Furama Hotel, Lily Hotel, AKA Hotel, hingga Diva Hotel, seluruhnya penuh. Hotel kelas melati pun tak menyisakan kamar kosong. Kota kecil di tepian Selat Malaka itu seolah tak lagi memiliki ruang tersisa.
Ketua BPC PHRI Kepulauan Meranti, Raden Ulun Permadi Salis atau akrab disapa Uyung, mengungkapkan total kamar hotel dan penginapan yang tercatat di Kota Selatpanjang berjumlah 406 kamar dan seluruhnya telah terisi.
Fenomena ini bukan hal biasa. Ia menjadi gambaran konkret bagaimana sebuah perayaan budaya mampu menggerakkan ekonomi lokal secara masif.
Sejak awal perayaan, Kota Sagu benar-benar hidup. Jalan-jalan padat oleh kendaraan dan pejalan kaki. Becak motor hilir mudik tanpa henti. UMKM kebanjiran pembeli. Warung dan kafe tak pernah sepi dari tawa dan obrolan hangat. Tempat penyewaan sepeda motor kehabisan unit. Multiplier effect terasa nyata—bukan sekadar istilah ekonomi dalam buku teks.
Dengan jumlah orang yang masuk mencapai sekitar 19.000 orang, dan jika satu orang saja menghabiskan rata-rata tiga juta rupiah selama berada di Selatpanjang untuk hotel, makan, transportasi, belanja, dan hiburan—maka perputaran uang yang terjadi diperkirakan menyentuh angka sekitar Rp57 miliar. Roda ekonomi berputar cepat, menyentuh lapisan masyarakat paling bawah hingga pelaku usaha menengah. Dari pedagang kaki lima hingga pemilik hotel, semua merasakan dampaknya.
Di tengah fakta itu, tentu selalu ada suara-suara sumbang. Ada saja yang tak menyukai event tersebut, dengan alasan yang mungkin hanya dia sendiri yang tahu. Namun bagi masyarakat yang merasakan langsung manfaatnya, perayaan ini bukan sekadar pesta air atau pesta lampion. Ia adalah denyut nadi ekonomi, ruang temu lintas budaya, sekaligus jembatan emosional antara kampung halaman dan perantauan.
Mengaitkannya secara sempit dengan perbedaan keyakinan justru mengaburkan esensinya. Budaya memiliki jalannya sendiri—ia tumbuh dari sejarah panjang, akulturasi, dan kebersamaan. Di Selatpanjang, Imlek dan Festival Perang Air telah lama menjadi bagian dari wajah kota, menyatu dalam kehidupan masyarakatnya tanpa sekat.
Kini sejumlah diaspora Kepulauan Meranti telah kembali ke perantauan. Ketika kapal perlahan menjauh dari dermaga, sebagian warga masih berdiri melambaikan tangan. Kota Sagu mulai kembali ke ritme biasanya. Lampion-lampion mulai redup, jalanan tak lagi sepadat kemarin. Namun jejak perayaan itu masih terasa di kasir-kasir yang sempat penuh, di penginapan yang baru saja kosong, dan di hati mereka yang pergi dengan janji akan kembali.
Selatpanjang mungkin kembali sunyi untuk sementara. Tapi semua tahu, tahun depan koper-koper besar itu akan kembali berdatangan. Dan kota kecil di tepian Selat Malaka ini akan kembali bersinar dalam cahaya Imlek dan percikan air Cian Cui yang selalu dinanti.
Bupati Kepulauan Meranti, Asmar, menyampaikan apresiasi dan rasa bangganya atas tingginya antusiasme warga Tionghoa asal Selatpanjang yang pulang kampung untuk merayakan Imlek dan Festival Perang Air tahun ini.
Menurutnya, kepulangan ribuan diaspora tersebut bukan hanya menjadi momentum silaturahmi dan pelestarian budaya, tetapi juga membawa dampak ekonomi yang sangat signifikan bagi daerah.
“Kami sangat bersyukur dan bangga melihat begitu banyak warga Tionghoa asal Meranti yang kembali ke kampung halaman. Ini menunjukkan bahwa ikatan emosional mereka dengan daerah ini sangat kuat. Mereka tidak melupakan tanah kelahiran,” ujar Asmar.
Ia menegaskan, lonjakan kunjungan yang mencapai puluhan ribu orang telah menggerakkan hampir seluruh sektor ekonomi masyarakat, mulai dari transportasi laut, perhotelan, rumah makan, UMKM, hingga jasa transportasi darat.
“Perputaran uang yang terjadi sangat besar. Hotel penuh, penginapan penuh, UMKM laris, becak dan rental motor bekerja tanpa henti. Ini bukti nyata bahwa event budaya mampu menjadi instrumen penggerak ekonomi daerah,” tegasnya.
Asmar juga menilai, perayaan Imlek dan Festival Perang Air di Selatpanjang bukan sekadar agenda seremonial tahunan, tetapi telah berkembang menjadi kekuatan ekonomi berbasis budaya yang harus terus dijaga dan ditingkatkan kualitasnya.
“Ini bukan hanya soal perayaan, tetapi soal keberlanjutan ekonomi masyarakat. Pemerintah daerah berkomitmen untuk terus mendukung event-event budaya seperti ini agar dampaknya semakin luas dan dirasakan langsung oleh masyarakat kecil,” ungkapnya.
Ia berharap, ke depan perayaan tersebut dapat dikemas lebih baik lagi sehingga mampu menarik lebih banyak wisatawan nusantara maupun mancanegara, sekaligus memperkuat posisi Kepulauan Meranti sebagai daerah perbatasan yang hidup, inklusif, dan berdaya saing.
“Kita ingin Meranti dikenal bukan hanya sebagai daerah kepulauan, tetapi sebagai daerah yang kuat secara budaya, solid secara sosial, dan tumbuh secara ekonomi,” pungkas Asmar. (R-03)

