Yayasan Menara Serukan Setop Akasia dan Eukaliptus di Riau: Merusak Lingkungan, Mengancam Satwa Liar dan Stok Oksigen!
Hamparan konsesi hutan tanaman industri PT Riau Andalan Pulp and Paper (RAPP) di Pelalawan, Riau. Foto: SM News
SABANGMERAUKE NEWS, Jakarta - Yayasan Menata Nusa Raya (Menara) menyerukan agar pemerintah segera menghentikan perizinan di sektor hutan tanaman industri dengan komoditi akasia dan eukaliptus. Kegiatan penananaman akasia di Riau harus segera dihentikan dan diakhiri. Keberadaan akasia dan eukaliptus dinilai telah merusak lingkungan dan mengancam eksistensi satwa liar dilindungi serta diduga mengancam stok oksigen yang dibutuhkan untuk kehidupan.
Ketua Umum Yayasan Menara, H. Surya Darma SAg, SH, MH menegaskan, akasia merupakan tanaman yang sangat tidak ramah dengan lingkungan. Akasia dinilai merupakan tanaman yang menyedot banyak oksigen, berbeda dengan tipikal jenis pohon kehutanan lainnya justru mengeluarkan banyak oksigen.
"Keberadaan akasia dan eukaliptus lebih banyak mudarat ketimbang manfaatnya untuk kehidupan. Dua tanaman itu hanya menguntungkan korporasi secara bisnis, namun menimbulkan dampak luas berkelanjutan pada makluk hidup lain, secara khusus terhadap eksistensi hutan sebagai paru-paru dunia," kata Surya Darma pada Jumat (13/2/2026).
Menurutnya, tanda-tanda akasia dan eukaliptus menyerap banyak oksigen bisa dirasakan langsung. Pada saat manusia berada di pohon akasia dan eukaliptus, justru terasa lebih panas dan kering.
"Jika di bawah pohon lain kita merasa teduh, namun di bawah akasia dan eukaliptus kita merasa gerah dan kepanasan. Ini bisa mengindikasikan kalau akasia dan eukaliptus banyak menyerap oksigen," kata Surya Darma.
Surya Darma yang merupakan aktivis lingkungan dan advokat, meminta agar pemerintah segera menghentikan penanaman akasia dan eukaliptus di Riau. Masih banyak opsi jenis tanaman lain yang ramah lingkungan.
"Segera hentikan penanaman akasia dan eukaliptus di Riau. Ganti dengan jenis tanaman dan pohon yang lebih ramah dengan lingkungan dan bermanfaat nyata untuk kehidupan," tegas Surya.
Menurutnya, sejumlah riset ilmiah juga mengungkap tipikal akasia dan eukaliptus yang sangat berdampak pada eksistensi vegetasi dan satwa di kawasan hutan. Keberadaan akasia mengancam keragaman tanaman lain untuk berkembang.
"Padahal tanaman itu sebenarnya merupakan tanaman endemik di kawasan hutan tersebut. Namun, karena akibat jenis tanaman disulap menjadi akasia dan eukaliptus, maka tanaman asli hutan menjadi terhambat perkembangannya," kata Surya Darma.
Menciutnya populasi tanaman asli hutan karena bersalin rupa menjadi monokultur akasia dan eukaliptus, juga menjadi ancaman nyata bagi satwa liar di kawasan hutan. Karena, sebagian besar satwa liar bergantung pada pakan alamiah yakni tumbuh-tumbuhan endemik dalam kawasan hutan.
Karena kawasan hutan telah dikepung oleh akasia dan eukaliptus atau bahkan kebun sawit, kata Surya Darma, menyebabkan migrasi satwa liar hingga ke luar hutan (habitatnya). Kondisi inilah yang memantik terjadinya konflik laten antara manusia dan satwa liar dilindungi.
"Tewasnya gajah Sumatera di kawasan lindung konsesi HTI PT Riau Andalan Pulp and Paper (RAPP) menjadi sinyal darurat bahwa habitat gajah rusak dan porak-poranda. Padahal, habitat gajah tersebut awalnya merupakan hutan yang kemudian diberikan perizinan HTI berbasis akasia dan eukaliptus. Hal ini juga terjadi pada satwa harimau Sumatera, tapir dan satwa liar dilindungi terancam punah," tegas Surya Darma.
Pada sisi lain, lanjut Surya Darma, keberadaan akasia dan eukaliptus juga menyebabkan kondisi tanah menjadi kering. Dalam sisi yang lebih parah, eksploitasi terhadap lahan gambut menjadi konsesi HTI menyebabkan kerusakan parah, berisiko lepasnya karbon.
"Kekeringan yang dipicu oleh eksploitasi lahan gambut menjadi HTI telah berisiko tinggi terhadap kebakaran lahan. Meski korporasi mengklaim telah melakukan sekat kanal, namun itu justru yang membuat hamparan gambut menjadi kering dan rentan terbakar. Seperti kondisi yang terjadi saat ini di Riau," tegas Surya Darma.
Yayasan Menara, kata Surya Darma, meminta keseriusan pemerintah untuk meninjau ulang dan menghentikan penanaman akasia di hutan Riau. Langkah tersebut untuk membuktikan komitmen pemerintah terhadap isu pemulihan hutan agar tidak sebatas omon-omon.
"Langkah mendesak dalam situasi krisis lingkungan dan perubahan iklim saat ini adalah menghentikan penanaman akasia dan eukaliptus, serta meninjau ulang perizinan sektor HTI," kata Surya Darma.
Di Riau, terdapat 1,58 juta hektare luasan konsesi hutan tanaman industri (HTI). Konsesi HTI itu dikelola oleh sebanyak 54 perusahaan yang merupakan mitra pemasok ke dua korporasi pulp and paper raksasa yakni APRIL Grup dan APP Grup. (R-03)

