Diduga Stres Tekanan Hidup, Seorang Pengungsi Rohingya Meninggal di Kamp Pekanbaru
Seorang warga Rohingya bernama Eman Hossion dilaporkan meninggal dunia pada Minggu (8/2/2026) sore kemarin di kawasan kamp pengungsian warga Rohingya di belakang MTQ Pekanbaru. Foto: Dok SM News
SABANGMERAUKE NEWS, Riau - Seorang warga Rohingya bernama Eman Hossion dilaporkan meninggal dunia pada Minggu (8/2/2026) sore kemarin di kawasan kamp pengungsian warga Rohingya di belakang MTQ Pekanbaru.
Peristiwa ini menyita perhatian karena diduga kuat berkaitan dengan tekanan mental berat yang dialami korban.
Menurut seorang warga Rohingya lainnya dari keterangan panitia kamp pengungsian dan keluarga almarhum, Eman pada sore hari mendatangi panitia untuk menanyakan kepastian bantuan kebutuhan hidup sehari-hari bagi keluarganya.
Ia ingin mengetahui apakah dukungan dari International Organization for Migration (IOM) masih akan berlanjut atau tidak.
"Almarhum Eman mendapat informasi bahwa sebagian besar bantuan saat ini ditolak dan belum ada kejelasan terkait keberlanjutan dukungan IOM,"ujar Ershad bercerita.
Ketidakpastian tersebut membuatnya semakin cemas karena tidak ada penjelasan resmi mengenai bagaimana para pengungsi akan memenuhi kebutuhan dasar mereka.
Ershad menyebutkan, Eman sangat khawatir memikirkan masa depan keluarganya, terutama soal makanan dan kebutuhan hidup sehari-hari jika bantuan benar-benar dihentikan.
"Kondisi itu yang membuatnya mengalami stres berat dan tekanan emosional yang mendalam,"tegas Ershad.
Setelah menerima informasi tersebut, Ershad kembali ke tempat tinggalnya di dalam area kamp pengungsian. Namun, sekitar pukul 18.00 WIB, ia ditemukan dalam kondisi tidak bernyawa oleh warga sekitar.
Hingga kini, penyebab pasti kematian Eman belum diketahui secara resmi. Namun pihak keluarga menduga kuat kematiannya berkaitan dengan stres berat yang dialami, bahkan tidak menutup kemungkinan akibat serangan jantung dan stroke.
Panitia kamp pengungsian bersama keluarga telah memakamkan almarhum sesuai dengan adat dan keyakinan yang dianut. Suasana duka menyelimuti komunitas Rohingya di Pekanbaru yang turut merasa kehilangan.
Saat ini 1400 warga Rohingya di kamp pengungsian belakang MTQ tersebut mengalami depresi berat akibat ketidakpastian bantuan dari lembaga imigran dunia tersebut.
"Banyak yang sakit dan stres, kemarin ada juga yang meninggal karena tidak ada lagi layanan berobat kami dari IOM,"ujar Ershad.
Ketidakpastian mengenai bantuan makanan, tempat tinggal, dan kebutuhan dasar lainnya menimbulkan stres ekstrem di tengah kondisi mereka yang sudah rentan.
Panitia kamp dan komunitas Rohingya berharap adanya kejelasan informasi serta bantuan berkelanjutan dari pihak terkait, termasuk IOM dan pemerintah, agar para pengungsi dapat bertahan hidup dengan layak dan tragedi serupa tidak terulang di masa mendatang. (R-03)

